Home Ekonomi

Pilih Memproduksi Masker karena Lebih Simpel

24
MENJAHIT MASKER - Kiki saat menjahit masker kain yang terbuat dari spunbond, di ruangan produksi masker, Selasa, 27 Oktober 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Moh. Fadel)
  • Asrianti Dkk Memanfaatkan Peluang di Tengah Covid-19

Pandemi Covid-19 yang mulai merambah Kota Palu pada Maret 2020 lalu justru mendatangkan rezeki bagi sebagian orang. Mereka memanfaatkan momen ini untuk berjualan kebutuhan seperti masker dan alat pelindung lainnya. Mereka meraup penghasilan yang cukup lumayan.

Laporan: Moh. Fadel

ADALAH Asrianti (30) seorang ibu rumah tangga yang sehari-harinya berprofesi sebagai tukang jahit. Memanfaatkan keahliannya itu, ibu tiga anak itu memproduksi masker dengan beragam model. Dia dan dua temannya mendesain masker dari bahan kain biasa dan spunbond.

“Kami sudah tiga bulan memproduksi masker dan kami buat sesuai dengan pesanan orang. Biasanya itu para pemesan meminta model hijab, telinga, dan ada juga scuba,” kata Asrianti saat ditemui Metrosulawesi di tempat usahanya yang berada di jalan Srikaya II, Kelurahan Kamonji, Kecamatan Palu Barat, Selasa, 27 Oktober 2020.

Asrianti membuka usaha di rumahnya bersama rekannya Kiki (20) dan Lusiana (40). Untuk saat ini mereka masih memproduksi sesuai pesanan dari kosumen.

Asrianti mengaku masker produksinya digemari pasar. Untuk lebih memperkenalkan produknya, Asrianti memanfaatkan setiap momen. Termasuk pada kegiatan pasar murah.

“Kemarin juga kami sempat ikut kegiatan yang namanya pasar murah. Dan secara kebutulan di kegiatan tersebut ada pembagian masker. Olehnya itu kita mencoba pasarkan lewat acara itu dengan memasarkan sekitar 150 masker,” ujarnya.

Untuk menjaga agar permintaan tetap stabil, Asrianti dan dua rekannya hanya memproduksi jenis masker sesuai permintaan. Saat ini mereka sedang membuat masker dari bahan spunbond. Masker dari spunbond berbeda dengan jenis masker biasanya. Masker ini memiliki filter penyaring udara. Kualitasnya kurang lebih sama dengan masker yang digunakan tenaga medis atau masker bermerek Sensi, yang biasanya dijual di apotek.

Kualitasnya tentu jauh berbeda dengan masker yang terbuat dari kain biasa. Tidak memiliki filter penyaring udara.

“Cuma keunggulannya, masker kain bisa dicuci beberapa kali. Sedangkan masker dari spunbond tidak seawet dengan bahan kain biasa,” jelas Asrianti.

Beberapa waktu belakangan ini, Asrianti mengaku kesulitan bahan baku.

“Mungkin sudah banyak para penjahit juga memproduksi masker, jadi bahannya seperti spunbond dan karet sedikit langkah. Hal ini yang menjadi kendala ketika tempat usahanya memproduksi masker,” jelasnya.

Ditanya soal berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam membuat masker? Asrianti menjelaskan, tergantung pesanan. Jika pesanan banyak, maka waktunya bisa sampai seminggu, terkadang tidak seminggu.

“Dalam sehari biasanya ada yang pesan sekitar 50 masker, ada juga hampir 100,” katanya.

Mereka yang memesan masker buatan Asrianti Dkk pun beragam. Rata-rata dari kalangan pegawai negeri atau pemerintahan dan masyarakat umum.

Untuk memudahkan pemasaran, mereka menggunakan media sosial.

“Kami memanfaatkan facebook untuk mempromosikan produksi masker kami,” katanya.

“Kami menjualkan satu masker harganya Rp5.000, kami jual juga per lusin, untuk minat masyarakat memesan masker cukup banyak karena saat ini masih masa pandemi tentunya masker ini salah satu kebutuhan,” tambahnya.

Asrianti, merupakan murid binaan dari Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) AQVIR yang berada di jalan Sis-Aljufri Palu, setelah mengikuti pelatihan dengan mengasah bakat di LKP tersebut, dirinya termotivasi untuk memproduksi masker.

“Saya merasa pembuatan masker sedikit lebih simpel, dan modalnya juga tidak terlalu banyak, kemudian juga pemasarannya juga gampang karena pasti peminatnya banyak, sehingga kami memilih membuat masker saja untuk dijual. Ternyata cukup lumayan penghasilannya dalam bulan ini kurang lebih sekitar Rp600 ribu kami dapatkan. Artinya cukup juga untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Asrianti mengatakan, untuk mesin jahit yang digunakannya ada yang digital dan manual, selain masker dirinya juga bisa menjahit baju anak-anak. Namun saat ini produksi masker terus berjalan. (**)

Ayo tulis komentar cerdas