Home Inspirasi

Bantu Korban Bencana, UKM hingga Literasi Anak-anak

27
BERJIWA KEMANUSIAAN - Foto bersama para anggota komunitas Relawan Jaga Palu. (Foto: Istimewa)
  • Komunitas Jaga Palu, Kumpulan Anak Muda Berjiwa Kemanusiaan

Anak muda tak selamanya identik dengan kegiatan hura-hura. Buktinya puluhan anak muda Kota Palu yang tergabung dalam Komunitas Jaga Palu memiliki berbagai program sosial yang ditujukan untuk membantu sesama. Seperti apa? Berikut laporannya.

BERAWAL dari bencana pada 28 September 2018 lalu, sekelompok anak muda yang memiliki jiwa kemanusiaan membentuk komunitas yang diberi nama “Komunitas Jaga Palu”. Ketika bencana gempa, likuefaksi, stunami dan belakangan covid-19, mereka bingung bagaimana harus berbuat. Muncullah ide untuk membentuk komunitas itu, sebagai wadah mereka untuk bergerak.

Ketua Relawan Jaga Palu, Wafi, mengatakan, komunitas ini pada awalnya dibentuk bertujuan untuk membantu kebutuhan pangan para masyarakat yang terdampak oleh pandemi covid-19.

“Komunitas Jaga Palu berdiri saat awal masa pandemi masuk di Palu, lebih tepatnya di awal Maret lalu. Alhamdulillah, sampai sekarang ada sudah ada 65 orang yang tergabung di komunitas dan didominasi oleh kalangan pelajar SMA dan mahasiswa,” kata Wafi kepada Metrsosulawesi, Sabtu, 23 Oktober 2020.

“Jadi saya rasa, sebenarnya banyak anak muda di Kota Palu ini yang peduli dengan lingkungannya, tetapi masih bingung ingin berkontribusi dalam hal apa. Nah, disitulah Jaga Palu ini dibangun sebagi wadah mereka,” tambahnya.

Wafi mengatakan, hingga kini anggota komunitas Jaga Palu masih terus menjalankan donasi bahan makanan yang sasarannya adalah masyarakat yang terkena imbas pandemi dan tergolong kelompok rentan, seperti driver ojek, pedagang pinggir jalan, pemulung, serta para penyintas bencana 28 September 2018 yang masih tinggal di huntara (hunian sementara).

“Dalam Jaga Palu ini, ada tim yang namanya Relawan Data. Mereka yang mendata orang-orang yang layak atau tidaknya dapat bantuan dari kami. Ada beberapa standar dari kami untuk melihat, siapa saja yang membutuhkan bantuan ini,” katanya.

Ketua Komunitas Relawan Jaga Palu, Wafi menyerahkan bantuan bahan makanan kepada salah satu penyintas bencana 28 September. (Foto: Istimewa)

Sumber dana donasi yang diperoleh, selain dari pengumpulan donasi melalui rekening yang disebar di media online dan donation box, Jaga Palu juga memiliki donatur tetap, yang akan membayar donasi tiap bulannya.

“Bukan hanya kepada masyarakat yang terkena imbas dari pandemi, kami juga aktif melakukan penggalangan dana untuk membantu korban-korban bencana lainnya. Seperti korban banjir bandang di Masamba dan Parigi Moutong lalu. Sampai saat ini alhamdulillah giat baik ini sudah memberi manfaat ke 1.800-an jiwa yang tersebar di Palu, Sigi, Donggala, Masamba dan Parigi,” tuturnya.

Selain aktif mengadakan pengumpulan dan penyaluran donasi kepada masyarakat, komunitas ini juga aktif dalam upaya pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM), serta aktif dalam upaya pengembangan literasi anak-anak.

“Upaya pengembangan UKM yang kami lakukan, salah satunya dengan penjualan merchandise baju Jaga Palu, kita mendukung salah satu UKM dari kawan kami untuk melakukan produksi baju Jaga Palu itu. Dan hasil penjualannya 20 persen akan dimasukkan ke dalam donasi,” jelasnya.

“Sementara dalam pengembangan literasi anak-anak, saat ini kami dalam proses untuk menjalankan donasi buku yang akan disebar ke TBM yang ada di Sulteng, dan akan bekerja sama dengan Sikola Pomore” ungkap Wafi.

Hebatnya, hal itu mereka lakukan dengan ikhlas dan sukarela, tanpa mendapat sepeser pun atas kerja keras mereka dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Itu merupakan core value atau nilai dasar yang dijunjung tinggi oleh Jaga Palu, yaitu sosok volunteer atau sukarelawan, dimana kegiatan membantu ikhlas tanpa mengharapkan dibayar. Maka jelas mereka yang memilih bergabung di Jaga Palu adalah mereka yang dari awal memang ikhlas ingin menolong,” pungkasnya. (cr1)

Ayo tulis komentar cerdas