Home Ekonomi

Sempat Vakum, Member TDA Kini Berusaha Bangkit

30
BERUSAHA BANGKIT - Ketua TDA Palu Bahar Sadikah memperlihatkan produk usahanya di TDA Center Palu, Jalan Djuanda, Kota Palu, Selasa malam 20 Oktober 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)
  • Mengukur Dampak Covid-19 terhadap UMKM di Sulteng

SEJAK Corona Virus Disease (Covid-19) dinyatakan sebagai pandemi dan menjalar hingga ke Kota Palu, sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) seperti dibius. Para pelaku usaha banyak yang tutup, mengurangi produksi hingga merumahkan karyawan.

Melihat situasi yang kian tak menentu itu, wadah Tangan Di Atas (TDA) Kota Palu pun seakan tidak berdaya. TDA sebelumnya begitu aktif membina dan mengedukasi para anggotanya untuk terjun di dunia usaha. Ada 400-an pelaku usaha yang merupakan member dari TDA terdampak.

Ketua TDA Palu 2.0 Bahar Sadikah menuturkan, awal Covid ‘menyerang’ Kota Palu, para member TDA sekitar 400 outlet itu banyak akhirnya tutup. Meski ada juga yang berusaha dan sebaliknya bisa bertahan.

Dukungan berupa edukasi dari TDA pusat yang dulunya bisa dilakukan secara offline kini bergeser melalui dalam jaringan atau daring.

“Awal-awal itu memang cukup terasa. Belum lagi setelah kampus tutup. Padahal banyak member TDA di wilayah Tondo. Setelah kami melihat langsung, sudah banyak yang memilih tutu dan ada yang sampai pulang kampung,” kata Bahar Sadikah, Selasa malam 20 Oktober 2020.

Menurut Bahar, setelah dirasakan sudah bisa menyesuaikan dengan situasi, kembali para pelaku UMKM yang lebih didominasi usaha kuliner, kembali berusaha dengan pola baru.

“Itu saat mulai masa new normal, kami bangkit lagi tentu dengan kondisi yang berbeda,” kata Bahar.

Pemilik usaha Mister Kribangs ini melihat perubahan situasi itu langsung dimanfaatkan para member TDA untuk kembali berjualan.

Di era new normal, kata Bahar, member TDA yang kembali berusaha tentunya harus menyesuaikan dengan kondisi.

“Mematuhi protokol kesehatan seperti memakai masker, sering mencuci tangan dan menghindari kerumunan,” kata Bahar.

Karena, tambah Bahar, bagaimanapun kondisi yang terjadi, usaha tetap harus bergerak. Apalagi dengan konsep TDA yang lebih banyak memberi edukasi dan tidak banyak berharap bantuan dari pihak lain atau dengan kata lain member TDA mengandalkan kemampuan sendiri ketimbang harus menggunakan dana-dana pinjaman.

Hantaman pandemi Covid-19 turut dirasakan Andi Besse, salah satu member TDA Palu. Usaha kulinernya ikut terdampak terutama dari pengiriman bahan baku karena paru didatangkan dari luar daerah Sulawesi Tengah.

“Kondisi penjualan tidak sama sebelumnya pasti ada penurunan dan awal covid sempat vakum karena biaya pengiriman bahan baku sebab paru mentah untuk menyetok banyak didatangkan dari luar daerah. Di pasar lokal sulit kadang tdak dapat,” kata Andi Besse.

Begitupula pemasaran yang sebelum Covid-19 menghantam Kota Palu, imbang antara offline dan online. Kini lebih banyak online.

Dari sisi pendapatan awalnya merosot. Di bulan Juli barulah ada kenaikan namum tetap tidak sama sebelum Covid-19 menjadi pandemi.

Besse berharap situasi ini bisa cepat pulih agar usaha yang digelutinya juga bisa membaik lagi.

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas