Home Ekonomi

Melatih Pelaku Usaha Meubel agar Tetap Eksis di Masa Pandemi Covid-19

39
PELATIHAN MEUBEL - Para peserta pelatihan mengerjakan cara memotong kayu menggunakan mesin, disaksikan instruktur Adi (kiri) di bengkel Kim Meubel, Desa Tinggede, Kabupaten Sigi, beberapa waktu lalu. (Foto: Metrosulawesi/ Syahril Hantono)
  • Instruktur Berpesan Jaga Komitmen dan Kualitas

Sebanyak 25 pelaku usaha di bidang permeubelan diikutkan dalam pelatihan mebel yang digelar Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulteng, Selasa lalu (20/10). Pelatihan itu tujuannya antara lain agar pelaku usaha tetap semangat dan eksis menjalankan usahanya di tengah masa pandemi Covid-19.

Laporan: Syahril Hantono

PELAKU usaha mebel yang mengikuti pelatihan itu berasal dari Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Sigi. Mereka umumnya masih pemula dan usaha mereka ikut terdampak pandemi Covid-19. 

Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulteng menggandeng Kim Meubel untuk melatih peserta selama 3 hari. Kim Mebel yang terletak di Desa Tinggede, Kabuapten Sigi, adalah milik seorang pemuda bernama Adi. Dia menjadi instruktur langsung melatih para peserta pelatihan. 

Ke-25 peserta dibagi tiga kelompok dan dilatih di tiga bengkel meubel milik Adi di Desa Tinggede. Adi mengatakan, beberapa tahapan membuat meubel berkualitas baik yang wajib diikuti peserta pelatihan. Misalnya tahapan mengenal jenis  kayu sebagai bahan dasar meubel, cara mengukur, memotong dengan menggunakan mesin, merakit, hingga ke tahap finishing. 

Ada juga tahapan mengamplas atau menghaluskan permukaan meubel harus dikuasai dengan baik, karena tahap itu tak bisa diulang.

”Tahapan-tahapan ini harus dikuasai oleh pembuat meubel,” kata Adi yang ditemui di bengkel Kim Meubel, Selasa lalu (20/10). 

Sebagai sesama pelaku usaha meubel, Adi menginginkan mereka yang dilatih bisa sukses kelak. Karena itu dia berpesan agar peserta bisa menjaga komitmen dan kualitas produksi.

”Pesan saya belajar sungguh-sungguh, jaga komitmen dan kualitas produk,” katanya.

Dia memahami dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini memang berat dirasakan pelaku usaha. Adi sendiri mengaku bisnisnya ikut terdampak penyakit virus corona. Padahal usahanya baru berusia muda, 3 tahun.

Adi mengisahkan saat memulai usaha meubel dengan meminjam peralatan pertukangan. Dia bersungguh-sungguh menjalankan usahanya bermodalkan alat pinjaman itu. Saat itu meubel yang dibuatnya dijual secara manual, bahkan ditawarkan ke toko-toko.

Upaya tersebut berbuah manis sehingga dia bisa memiliki peralatan sendiri. Order juga mulai banyak sehingga dia harus merekrut tenaga kerja. 

Di saat bisnisnya lancar, kemudian merebaklah virus corona hingga ditetapkan sebagai pandemi di seluruh wilayah Indonesia. Mau tidak mau usahanya terdampak. Pendapatan menurun diiring turunnya orderan.

Karena tak ada orderan, tenaga kerjanya mencari pekerjaan di tempat lain.

”Saya tak merumahkan mereka, tapi karena tak ada orderan mereka mencari pekerjaan di tempat lain,” ujarnya.

Saat ini usaha meubelnya mulai membaik. Itu karena Adi memanfaatkan media sosial sebagai strategi pemasaran. Terbukti ada pihak dari luar daerah yang memesan lemari.

”Ada dari Morowali dan Tolitoli memsan lemari. Mereka lihat di medsos,” katanya. 

Dengan memanfaatkan media sosial, Adi percaya menggunakan teknologi digital sangat membantu pemasaran dan produknya lebih diketaui luas. Seiring order mulai naik, tenaga kerjanya juga kembali lagi. Dia juga merekrut beberapa  siswa SMA di desanya sebagai tenaga kerja. Kebetulan anak-anak SMA itu banyak waktu luang di masa pandemi Covid-19. 

Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Sulteng, Imran mengatakan, pelatihan meubel bertujuan untuk meningkatkan semangat dan produktivitas pelaku usaha meubel di masa pandemi Covid-19. Dia mengatakan, dengan adanya pandemi ini, secara nasional  sebanyak 280 ribu tenaga kerja di sektor industri furniture dirumahkan. 

Karena itu pemerintah ikut mencari cara alternatif untuk meningkatkan penjualan. Menurutnya memanfaatkan media sosial salah satu cara yang efektif untuk memasarkan produk di masa pandemi. Menggunakan media informasi dapat membantu popularitas produk. Namun yang harus dilakukan pelaku usaha meubel adalah berani berinovasi terhadap produk.

”Melakukan inovasi dengan mengikuti tren pasar yang berubah-ubah. Kami melaksanakan pelatihan ini tujuannya antara lain agar pelaku usaha kembali bersemangat berusaha di masa pandemi,” kata Imran. (*)

Ayo tulis komentar cerdas