Home Sulteng

Nelayan Sulteng Diingatkan Waspadai La Nina

11
Muh Arif Latjuba. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)

Palu, Metrosulawesi.id – Nelayan tradisional di Sulawesi Tengah diimbau harus waspada melaut dalam beberapa pekan ke depan. Ini karena fenomena la nina saat ini tengah menerjang Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah. Fenomena la nina membuat curah hujan akan meningkat 40 persen dibanding biasanya dan gelombang tinggi.

“Kalau bisa untuk waktu-waktu tertentu jangan turun melaut saat cuaca buruk,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulteng, Moh Arif Latjuba, di Palu, Jumat, 16 Oktober 2020.

Pemerintah Provinsi Sulteng melalui DKP kata dia akan mengambil tindakan cepat dengan berkoordinasi ke kabupaten/kota. Koordinasi dilakukan untuk memberikan pemahaman dan upaya mitigasi kepada nelayan, khususnya nelayan tradisional.

“Upaya kita, seluruh dinas akan kita surati melakukan antisipasi dini menghadapi la nina,” ucapnya.

Arif mengungkapkan hal tersebut bertujuan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kepada nelayan. Saat ini, badai la nina saat disebut sudah berlangsung dan diprediksi menemui puncaknya pada Desember mendatang.

“Ini memang memiliki potensi pengurangan produksi ikan atau tangkapan nelayan. Tapi-kan hanya ada di momen-momen badai datang, tidak setiap hari. Nah, peran pemerintah harus jadi mitigator, sebagai alarm kepada nelayan,” ungkap Arif.

Selain nelayan tradisional, Arif juga menekankan imbauan kepada nelayan dengan kapal tangkap ikan kapasitas besar melalui koordinasi dengan kepala-kepala pelabuhan di kabupaten/kota.

“Kalau ada alarm untuk itu, mereka (pihak pelabuhan) bisa segera mengingatkan kapal dengan muatan tonase besar. Kalau bisa ditahan dahulu dokumen-dokumen mereka sebagai legitimasi menangkap ikan. Itu untuk kebaikan juga,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengingatkan masyarakat agar waspada menghadapi puncak fenomena la nina. Itu karena BMKG memprediksi fenomena la nina yang menghantam Provinsi Sulawesi Tengah berpotensi bencana alam.

“Dalam amatan kami fenomena la nina akan mengakibatkan bencana hidrometeorologi,” ujar Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Nur Alim, saat menjadi narasumber pada Live Podcast Palu, Rabu, 14 Oktober 2020.

Menurut Nur Alim, fenomena la nina mengakibatkan tingginya curah hujan dari biasanya. Saat la nina, curah hujan 40 persen lebih tinggi dari baisanya atau tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, dapat menimbulkan berupa bencana.

“Tentu kalau ini terjadi ada dampak yang akan ditimbulkan, seperti gelombang tinggi, angin bertiup kencang, hingga bencana lainnya,” ucap Kepala BMKG.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas