Home Artikel / Opini

Ketukan Palu di Malam Hari

16

KETUKAN palu di malam hari itu seperti suara yang memanggil-manggil. Benar saja, meski bunyi palu hanya terdengar dalam sebuah gedung–Gedung Wakil Rakyat–Senin malam, 5 Oktober 2020 itu, namun dengungnya terdengar ke seantero negeri. Ribuan anak negeri merasa dipanggil oleh suara palu itu, sehingga esok paginya dan hari-hari setelahnya, hingga hari ini, terlihat tumpahan buruh, pekerja, dan mahasiswa, turun jalan. Wajah-wajah mereka tak dapat menyembunyikan kemarahannya.

Ada apa, wahai manusia-manusia terhormat, engkau mengetuk palu di malam hari yang sesungguhnya engkau paham bahwa ketukan palumu itu akan mengundang pro-kontra bagi rakyat yang dulu ikhlas memilihmu dalam pemilu untuk sebuah kursi empuk yang kini engkau duduki? Ada apa, Bung?

Bila pemerintah ingin memaksakan pengesahan Undang-Undang Ciptaker, yang sejak awal ditentang sejumlah pihak, termasuk pihak Muhammadiyah dan MUI, mengapa engkau yang seharusnya kritis dan peka sebagai penyambung lidah rakyatmu, tiba-tiba tercipta sebuah persekutuan yang indah. Ke mana itu kekuatan kontrolmu yang seharusnya melekat pada kepribadian dan tugasmu yang digaji tinggi oleh uang rakyat?

Semakin sulit rasanya kami ikhlas menempatkanmu sebagai wakil kami di parlemen yang seharusnya memperjuangkan hak-hak kami, setidaknya kami yang bergelar buruh dan pekerja. Bagi kami undang-undang itu tidak seharusnya dipaksakan pengesahannya. Bila engkau mengatakan bahwa semua proses hingga pengesahan ini telah melalui tahapan panjang, normal, dan wajar, tentu kami membantahnya, sebab sesungguhnya hal itu jauh dari kenyataan.

Rasa sakit yang ditimbulkan akibat ketukan palu di malam hari itu, kini sakitnya makin bertambah. Bukannya ada niat untuk melakukan introspeksi diri akibat “kelalaian” yang telah dipamer secara terang benderang dan melihat keterpanggilan anak-anak negeri turun jalan menentang keputusan hasil ketukan palumu di malam hari itu, justru–dengan teganya–engkau menuduh mereka tidak paham dengan undang-undang yang ditolak, mereka diperalat, dan mereka dibayar. Duh, luka apa lagi di atasnya?

Bila rakyat hanya dijadikan sebuah pijakan kekuasaan, maka semua instrumen yang menyertai, sebutlah misalnya nilai demokrasi, hanya menjadi alat propaganda. Lantaran itu–persekutuan yang indah antara wakil rayat dengan pemerintah yang engkau terus pamer–maka jangan pernah berharap wajah ibu pertiwimu tersenyum mekar memandang hari esoknya. (#).

Ayo tulis komentar cerdas