Home Sulteng

Tarif Swab Test Mandiri Rp1 Juta

70
dr Jumriani Yunus. (Foto: Metrosulawesi/ Michael Simanjuntak)
  • Kasus Covid di Sulteng Naik 96 Persen

Palu, Metrosulawesi.id – Sejak beberapa hari lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengeluarkan surat edaran terkait tarif tertinggi swab test mandiri dengan pemeriksaan Real Time-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Kemenkes melalui edaran bernomor HK. 02.02/I/3713/2020, menetapkan harga tertinggi swab dan RT-PCR untuk pemeriksaan mandiri sebesar Rp900 ribu.

Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulteng, dr. Jumriani Yunus, mengungkapkan saat ini tarif swab test mandiri di laboratorium kesehatan swasta di Sulteng mulai mengikuti tarif yang ditetapkan Kemenkes.

“Sekarang ada yang sudah mulai mendekati harga Rp900 ribu dari sebelumnya Rp2,5 juta, menjadi Rp1 juta,” ujar Jumriani, Ahad, 11 Oktober 2020.

Dia mengatakan untuk pemeriksaan swab yang dilakukan di laboratorium milik pemerintah daerah tidak dipungut biaya. Tentunya pemeriksaan dimaksud berdasarkan hasil tracing dari pasien terkonfirmasi positif covid-19.

“Bagi pemeriksaan yang mandiri dan di laboratorium swasta tarif mengacu surat edaran itu,” ucap Jumriani.

Sulteng sendiri saat ini telah memiliki sedikitnya dua fasilitas laboratorium milik pemerintah daerah yang melayani pemeriksaan swab PCR. Laboratorium dimaksud satu berada di Palu dan satu lagi di Kabupaten Sigi. Selain itu, saat ini juga sedang dipersiapkan fasilitas laboratorium di Morowali Utara.

“Kalau lab pemerintah tidak ada mengambil biaya yang berdasarkan tracing pasien covid. Jadi kalau ada yang positif covid-19 di salah satu kantor, kita lakukan swab di sana tanpa biaya,” ungkapnya.

Labkes daerah Sulteng dikatakan hanya melakukan pemeriksaan covid-19 yang pembiayaanya ditanggung oleh pemerintah. Sedangkan di laboratorium swasta, saat ini telah ada yang sedang menyesuaikan tarif sesuai yang telah ditetapkan pemerintah.

Sebagaimana diketahui, telah diberlakukan aturan wajib swab tes bagi masyarakat perjalanan dari provinsi lain yang hendak masuk ke Sulteng. Aturan tersebut berlaku mulai 20 September 2020.

Aturan tersebut diungkapkan Gubernur Sulawesi Tengah, Longki Djanggola, saat memimpin Rapat Koordinasi Penerapan Disiplin Protokol Kesehatan covid-19 bersama bupati dan wali kota serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah se-Sulteng secara virtual di Palu, Rabu, 23 September.

Sebelumnya, Jumriani mengungkapkan aturan pelaku perjalanan yang masuk ke wilayah Sulawesi Tegah wajib menunjukkan hasil PCR swab covid-19 berlaku umum. Tak terkecuali warga Sulteng yang akan kembali masuk ke daerah ini, wajib memiliki swab test virus corona (covid-19) dengan hasil negatif.

“Kami sudah melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Jadi semua warga Sulteng yang keluar terus masuk lagi harus ada swab-nya,” ungkap Jumriani kepada Metrosulawesi, Kamis, 24 September 2020.

Faridah Lamarauna. (Foto: Dok)

Sementara itu, Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistisk (DKIPS) Provinsi Sulteng mencatat sampai minggu ke dua Oktober, peningkatan kasus covid-19 di daerah ini sudah mencapai 96,15 persen dari puncak pandemi pertama pada Mei 2020.

“Berdasarkan grafik menunjukkan gelombang ke dua pasien terkonfirmasi covid-19 masih terus berlanjut dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan,” ujar Kepala DKIPS Provinsi Sulteng, Hj Faridah Lamarauna, Senin, 12 Oktober 2020.

Olehnya, Faridah mengharapkan masyarakat disiplin dalam mematuhi protokol kesehatan pencegahan covid-19 dalam setiap aktivitas dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

“Tapi kita bersyukur sampai dengan minggu ke dua Oktober peningkatan pasien sembuh mencapai 129,79 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya (September),” ucapnya.

Faridah menambahkan jika tren pasien sembuh dapat ditingkatkan maka diestimasi grafik kasus terkonfirmasi corona dapat landai pada akhir Oktober 2020. Sebelumnya, Faridah membeberkan berdasarkan statistik evindemic covid-19 provinsi/kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah untuk periode Maret sampai September 2020, menunjukkan pertumbuhan rata-rata jumlah pasien covid-19 yang menjalani perawatan mengalami peningkatan sangat signifikan yaitu rata-rata per minggu 58,76 persen.

“Jika tidak dapat dikendalikan maka kemungkinan Sulawesi Tengah akan memasuki puncak pandemi ke tiga sebagaimana yang pernah dialami pada Bulan Mei 2020 (minggu ke tiga),” ucap Faridah, Minggu, 20 September.

Dikatakan, pertumbuhan rata-rata jumlah yang terkonfirmasi positif covid-19 mengalami peningkatan sangat signifikan pada dua minggu terakhir (rata-rata 170 persen atau hampir dua kali lipat). Lonjakan tersebut untuk yang ke tiga kalinya yang mana pertama terjadi pada Mei (minggu ke tiga) dan lonjakan ke dua terjadi di Juni 2020 (minggu ke dua).

Hal itu diperparah dari jumlah pasien sembuh covid-19 mengalami tren penurunan sehingga perlu diwaspadai ketersediaan ruangan perawatan dan kebutuhan lainnya dalam penanganan pasien.

“Saat ini estimasi perbandingan antara jumlah pasien sembuh dengan pasien terkonfirmasi positif covid-19 yaitu 1:3, sehingga jika tidak dapat dikendalikan dengan kesadaran masyarakat sendiri untuk tetap rajin mencuci tangan, menggunakan masker dan menjaga jarak, maka rumah sakit rujukan tidak akan mampu menampung pasien covid-19. Semoga ini tidak terjadi,” tandas Faridah.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas