Home Hukum & Kriminal

Alsih Bersama Manajamen Sulteng News Memilih Proses Hukum

30
JALUR HUKUM - Alsih Marselina korban penganiayaan oknum polisi saat bertugas peliputan demo mahasiswa, memilih melanjutkan proses hukum. (Foto: Ist)

Palu, Metrosulawesi.id Alsih selaku korban penganiayaan oknum polisi,  bersama manajemen sultengnews.com, memutuskan melanjutkan proses hukum. Alsih menjadi korban penganiyaan  oknum  saat melakukan tugas peliputan dalam demo penolakan Undang-undang (UU) Cipta Kerja atau Omnibus Law, Kamis, (8/10/2020).

Alsih Marselina saat melaporkan tindakan oknum polisi, didampingi empat pengacara yakni Roy Marianto Babutung SH, Rachmy SH, Fikri Saleh SH dan Moh. Itfan Umar SH. Laporan Alsih ke Propam Polda Sulteng dengan nomor : STPL/74/X/2020/Yanduan tentang pelanggaran disiplin/kode etik berupa : “penganiayaan” yang diduga dilakukan oleh anggota Polri dengan status Lidik, sesuai laporan Polisi nomor : LP/ /X/2020/Yanduan, tanggal 08 Oktober 2020, pukul 16.55 WITA.

Alsih mengaku, dirinya akan terus melanjutkan perkara yang menimpanya sampai pada proses hukum.

“Saya akan meneruskan perkara ini sampai kepada tahap pengadilan, karena saya tidak terima diperlakukan seperti itu. Jangan sampai terjadi lagi kepada wartawan lain ke depannya,” ujar Alsih, Jumat (09/10/2020).

Dia menginginkan, agar pihak Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng), dapat   mengusut tuntas kasus penganiyaan kepada dirinya dan meminta agar pelaku segera ditemukan.

“Orang tua saya juga tidak terima kalau anaknya diperlukan seperti itu, terutama ibu saya.  Jadi saya inginkan pelaku bisa cepat ditemukan pihak Polda Sulteng,” ujarnya.

Pengacara Roy Babutung yang mendampingi Alsi melapor ke Propam Polda Sulteng, mengharapkan, kasus terhadap Alsih Marselina terus diproses, sebab hal itu merupakan pelanggaran pidana yang dilakukan anggota kepolisian.

“Karena kita sudah melakukan pelaporan kepada kepolisian, bagi kita itu harus terus di proses. Sebab itu tindak pidana yang dilakukan salah satu oknum anggota polisi,” ucapnya.

Diungkapan Roy,  hal ini bisa jadi pembelajaran ke depan agar tidak ada lagi jurnalis yang menjadi korban pemukulan dari oknum polisi. Olehnya, dia meminta kepolisian terutama Propam Polda Sulteng, dapat melakukan tindakan penyelidikan sekaitan perkara tersebut.

Senada dengan itu juga, Muhammad Irfan Umar (LBH APBKAI) Jakarta, menyatakan, Propam Polda Sulteng harus mengusut tuntas kasus penganiayaan terhadap jurnalis.

“Kalau dari kita sendiri akan terus mengawal korban ke proses hukumnya lebih lanjut. Kami minta Propam Polda Sulteng mengusut tuntas kasus ini, sebagimana kehendak korban itu sendiri,” tandasnya.

Sementara itu, Pemred Sulteng News, Mahful Haruna, juga menyatakan hal yang sama kasus yang menimpa wartawananya ini, akan terus dilanjutkan hingga ke proses hukum yang lebih lanjut.

Mahful mengaku, pihaknya tidak akan mundur dalam kasus ini, karena yang dilakukan oknum polisi sangat tidak bisa ditolerir.

“Saya tegaskan lagi, ada dua kesalahan fatal yang dilakukan oknum polisi itu yakni, pertama dia sudah tahu bahwa Alsih adalah wartawan, tapi tetap dia pukul. Kedua, dia juga tahu Alsih itu perempuan, tetap juga dia pukul,” tandasnya. (*/edy)

Ayo tulis komentar cerdas