Home Artikel / Opini

Hilangnya Rasa Empati

27

BENARLAH anggapan bahwa rakyat (baca buruh dan pekerja) hanya dibutuhkan pada saat pemilu. Setelah mereka duduk di kursi kekuasaan sebagai kemenangan hasil pemilu, kepentingan yang mendudukkan mereka nyaris terlupakan. Sampai di situ, mungkin kaum buruh dan pekerja masih bisa memahaminya. Namun, bila kekuasaan membuat mereka lupa diri, bahkan tega menyakiti hati kaum buruh dan pekerja yang dulu memilih mereka dalam pemilu, hal inilah yang sulit dipahami secara akal sehat.

Begitulah yang terjadi pada Senin, 5 Oktober 2020. Bertempat di gedung wakil rakyat, DPR, Senayan, yang megah itu. Dengan semangat menggebu dalam Sidang Paripurna–seperti ada yang mendorong mereka dari belakang agar secepatnya mengesahkan RUU Ciptaker menjadi Undang-Undang–meski sebelumnya ditentang habis-habisan oleh banyak kalangan di negeri ini, terutama kaum buruh dan pekerja, yang berdampak langsung atas pengesahan Undang-Undang itu.

Saat itu, boleh jadi, mereka sudah melupakan janji dan komitmennya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat–termasuk kaum buruh dan pekerja–yang membuat mereka melenggang dengan mulusnya menduduki kursi kekuasaan di Senayan, itu.


ADA apa yang membuat manusia-manusia terhormat itu penuh semangat menggolkan sebuah aturan yang menyakitkan mereka yang akan menjalani aturan itu? Apakah karena mereka telah kehilangan empati kepada kaum buruh dan pekerja? Empati justru mereka berikan kepada kaum yang menguntungkan RUU Ciptaker yang telah diputuskan menjadi Undang-Undang itu? Kita hanya sampai pada sebuah pertanyaan besar. Nurani yang paling dalam itu–bila memang masih ada–tentu mereka paham dampaknya yang menyakitkan entah sampai kapan. Hanya rakyat–kaum buruh dan pekerja–yang merasakan perihnya, bukan kaum pengusaha besar, apalagi kaum yang bernama konglomerat. Kaum yang terakhir inilah yang menikmatinya. Nikmat di balik perih.

Kini buruh turun jalan. Mogok kerja. Para wakil rakyat itu diam saja. Mungkin tersenyum sambil duduk santai menonton demo melalui televisi di kamarnya yang mewah. Toh… tugas mereka sudah selesai mengesahkan sebuah aturan, meski tergesa. Bila kaum buruh dan pekerja yang kini mendapat simpati dari mahasiswa turun jalan dan dinilai mengganggu kepentingan masyarakat luas, khususnya pengguna jalan, tentu mereka, warga terhormat itu–dengan enteng mengatakan–itu urusan pihak kepolisian untuk mengamankannya. Sederhana kan, tentu bagi manusia yang telah kehilangan rasa empati kepada kaum lapisan bawah. (#)

Ayo tulis komentar cerdas