Home Ekonomi

Omset Bawang Goreng Mbok Sri Turun 60%

16
Adi Wahyu Prasetya, Marketing Toko Mbok Sri Cabang Jalan Abdurrahman Saleh. (Foto: Metrosulawesi/ Fachrurroziq)

Palu, Metrosulawesi.id – Akibat pandemi Covid-19 melanda berbagai sektor yang termasuk berimbas pula ke ekonomi. Kondisi ini sangat pengaruh terhadap omset penjualan UKM Bawang Goreng Mbok Sri yang mengalami penurunan hampir mencapai 60%.

Dampak yang dirasakan hingga turut mempengaruhi perekonomian sektor bisnis kuliner. Saat ditemui Metrosulawesi, Selasa (6/10/2020), di salah satu cabang Jalan Dr. Abdurrahman Saleh, Kelurahan Birobuli Utara, Kecamatan Palu Selatan.

Marketing Toko Mbok Sri, Adi Wahyu Prasetya mengungkapkan bahwa penurunan omset terparah selama masa pandemi terjadi pada saat penutupan Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu.

“Konsumen kami kan, rata-rata memang kebanyakan berasal dari luar daerah, sejak awal penurunan terlihat jelas. Biasanya warga banyak yang ingin membeli oleh-oleh, tapi apa boleh buat kita ikut aturan,” ungkapnya.

Menurutnya, kesulitan para konsumen untuk masuk ke Kota Palu yang akhirnya membuat usaha Bawang Goreng Mbok Sri mengalami penurunan omset. Meskipun kini bandara Mutiara telah dibuka kembali, namun pemerintah masih membatasi dengan tetap diberlakukan syarat untuk masuk Kota Palu.

“Seperti hal-nya daerah lain para pendatang dari luar provinsi harus diwajibkan untuk membawa hasil swab test,” tuturnya.

Selain itu, ia menyebutkan pendatang dari kabupatan di Sulteng juga telah dianjurkan membawa hasil rapid test. Apalagi, lanjut dia, setelah Kota Palu dinyatakan sebagai wilayah zona merah Covid-19 beberapa hari yang lalu.

“Yah kasihan juga mereka, karena untuk mengambil hasil swab test itu juga tidak murah, bahkan bisa sampai menyamai harga tiket pesawat,” ujarnya.

Adi mengungkapkan untuk menutupi penurunan omset penjualan, pihak toko juga memanfaatkan pemasaran dan penjualan secara online. Namun, menurutnya omset yang dihasilkan tidak sebanding dengan penjualan offline.

“Upaya lain yang kami lakukan dalam meningkatkan jumlah konsumen di masa pandemi ini, adalah dengan menyediakan sarana dan prasarana protokol pencegahan Covid-19, seperti tempat cuci tangan dan lain-lain,” ujarnya menambahkan.

Diungkapkan, Akibat kurangnya konsumen di masa pandemi pihak toko sempat melakukan promo dengan menurunkan harga penjualan bawang goreng perkilonya.

“Ditambah lagi stok bahan baku yang sempat menumpuk di gudang, sehingga para petani bawang pun juga ikut merugi, sebab tidak ada konsumen yang membeli bawang mereka. Maka dari itu, kami juga hanya bisa berharap agar permasalahan pandemi ini dapat segera usia,” pungkasnya. (CR1/fik)

Ayo tulis komentar cerdas