Home Artikel / Opini

Pakar Segala Ilmu

30

Oleh: Muhd Nur Sangadji

KATA kata ini, dahulu sering disebut Master segala ilmu. Terkesan lelucon atau kelakar untuk gelar MSi. Tapi, setelah saya membaca sejarah dan merenunginya. Justru inilah yang semestinya ada pada diri seorang ilmuan.
Kalau seorang jurnalis, karena panggilan profesinya, dia harus mengetahui banyak hal. Walaupun tidak dalam. Itu karena, klien yang dia hadapi untuk diwawancara adalah mereka dengan kepakaran bervariasi. Wajar.

Kemudian, ada yang membandingkan dengan ilmuan. Dia harus menguasai sedikit ilmu tapi dalam. Pernyataan ini mungkin sudah harus dikoreksi. Sebab, “a history”. Saya berpandangan, mereka kaum ilmuan itu harus menguasai beberapa ilmu secara mendalam.

Mengapa..? Kalau kita jujur pada sejarah ilmu pengetahuan. Justeru ilmuan hebat itu, tidak cuma menguasai satu cabang ilmu. Bahkan, ilmu yang sangat jauh hubungannya.

Jean Anthelme Brillat Savarin sebagai contoh. Ilmuan Perancis yang hidup di tahun 1755 ini adalah pakar ilmu hukum. Tapi, beliau juga adalah pakar ilmu Gizi. Di mana liniernya dua bidang ini. Kalimat beliau yang sangat populer hingga kini. “Dit mois, que est ce que vous mangger, et je vous dire, quoi est vous” (tell me what you eat, and I will tell you,, what you are”.


Di era yang berdekatan atau makin kebelakang lagi, kita akan takjub menunjukan satu persatu ilmuan berkaliber dunia. Mereka bukan cuma memproduksi karya melalui tulisan tapi selaligus merubah dunia melalui produk yang diciptakannya. Buah pikirnya menjadi dasar theori yang membuka jalan bagi inovasi hebat setelahnya. Dan, mereka semua tidak hanya menguasai satu bidang ilmu.

Thomas Alfa Edison misalnya. Beliau seorang fisikawan, tapi punya laboratorium kimia. Hidup di tahun 1800 an. Jadi, beliau ahli untuk dua bidang ilmu ini. Dialah yang menemukan lampu listrik. Sebelumnya, ada Michael Faraday yang digelari Bapak Listrik dunia. Thomas dan Faraday ini malah hanya Sekolah SD. Itupun berhenti alias “drop out”.

Manusia luar biasa ini hidup sederhana tanpa gelar dan jabatan. Saat didaulat menjadi ketua British Royal Society dan ketika gelar kehormatan bangsawan Inggeris “Sir” hendak disematkan padanya, Faraday menolak. Bandingkan dengan kita yang terus bersyahwat untuk memburu jabatan dan gelar hingga nafas terakhir. Faraday bisa menjadi patron panutan bagi generasi beradab.

Bagi Faraday, keintiman dengan alam, jauh lebih menarik dibanding gelar dan jabatan ala manusia. Dia berkata, “nature is our kindnest friends and best critic in experimental science if we only allow her intimation to fall unbiased on our mind”. Sangat agung dan mengagumkan.


Ishak Newton lebih hebat lagi dari sisi penguasaan bidang ilmu. Ilmuan ini seorang fisikawan, matematikawan, Ahli astronomy, filusuf alam, kimiawan, dan teolog yang berasal dari Inggeris. Beliau memproduksi hukum gravitasi. Bukunya, “philosophy Naturalis principia Matematica” yang terbit 1687, adalah buku paling berpengaruh sepanjang sejarah sains.

Ada juga Niklas Koppernigk (Copernicus). Seorang astronom, matematikawan dan ekonom berkebangsaan Polandia. Beliau mengembangkan teori heliosentrisme tata surya yang amat bermanfaat bagi sains. Dia juga dikenal sebagai kanon gereja, astrolog, tabib atau dokter dan ahli hukum.

Ilmuan yang paling kontemporer adalah Albert Einstein, hidup hingga tahun 1955. Ahli fisika modern, matematika dan filsafat. Pengembang teori relativitas ini adalah alumni politeknik federal Swiss.

Menjelang akhir khayatnya, beliau memproduksi kalimat bijak yang sangat Agung. “Science without religion is lame and religion without since is blind”.


Jauh berabad silam, ilmuan bersahaja juga banyak. Berikut, beberapa di antaranya. Aristoteles, ilmuan Yunani yang hidup di tahun 385 SM. Dia menulis tentang fisika, metafisika, puisi, logika, rethorica, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi.

Sesudah tahun masehi, muncul ilmuan penerus dengan spirit yang sama hebatnya. Sebutlah Muhammad bin Musa al Khawarizmi, sang penemu ilmu Al Jabar. Hidup di tahun 780 di Baghdad. Beliau ini ahli di bidang matematika, astronomi, astrologi dan geografi.

Berikut, Abu Nasir Muhammad bin al Farakh al Farabi, hidup pada tahun 870. Dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius. Beliau ahli Logika, matematika, ilmu alam, teologi, politik dan kenegaraan. Karyanya yang paling terkenal adalah, Al Madinah Al Fadilah (Kota atau Negara Utama).

Berikut lagi, Abu Ali al Husayn bin Abdullah bin Sina. Lebih dikenal dengan Ibunu Sina atau Avicenna. Beliau adalah seorang filusuf, dokter, ilmu kalam, sains, sastra dan puisi. Hidup di tahun 980 dan mengarang 450 buku. Dia dijuluki bapak kedokteran modern.

Terakhir sebagai contoh, Abu Abdullah Muhammad al Idrisi al Qurtubi al Hasani al Sabti atau singkatnya Al Idrisi. Lahir di Afrika utara pada tahun 1100 Masehi. Beliau pakar geografi, kartografi, mesirologi, penulis dan ilmuan.

Saya ingat waktu belajar SIG dan pengindraan jarak jauh (teledetection) di University Saint Etienne, Perancis tahun 1996. Kami diperkenalkan perangkat programs SIG bernama IDRISI. Nama program itu dilekatkan untuk mengenang jasa beliau.


Bila kita cermati, para ilmuan hebat ini. Semuanya memperoleh inspirasi dari pendahulunya. Sejak Socrates, Plato, Aristotles dan seterusnya. Dan, satu hal yang dipegang teguh adalah moral akademik. Serta, memperjuangkan kebenaran. Bahkan dengan taruhan jiwa raga. Mereka semua adalah pakar segala ilmu.

Kita juga mesti begitu. Namun, kalau kita berilmu tapi tidak jujur dalam sikap keilmuannya. Kita tengah membangun kecurangan akademik (academic crime). Kita ikut meruntuhkan kemuliaan tradisi kaum ilmuan.

Kita sedang mengingkari warisan moral akademik yang diturunkan dari leluhur ilmuan agung ini. Kita boleh jadi, ilmuan yang menghalalkan segala cara (MSc) atau pakar segala cara. Janganlah bagitu.

Selanjutnya, bagaimana dengan linierisasi bidang ilmu yang banyak dibincang kaum ilmuan saat ini. ? Lihat tulisan berikut,: Linierisasi Bidang Ilmu. (Penulis, akademi Universitas Tadulako, kelahiran Tidore, tinggal di Palu).

Ayo tulis komentar cerdas