Home Ekonomi

Amril, Pengrajin Kunci Duplikat Jalani Profesi Puluhan Tahun

45
Amril, saat ditemui disela-sela melakukan aktivitas pekerjaannya sebagai pengrajin kunci duplikat. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Laporan: Fikri Alihana

BERMODALKAN mesin seadanya, siang itu tampak seorang pria sedang melakukan aktivitas menggandakan kunci duplikat. Yah, pria tersebut bernama Amril, si pengrajin kunci duplikat ini telah menjalani profesinya sejak puluhan tahun lalu.

Saat ditemui Metrosulawesi disela-sela melakukan pekerjaannya, Sabtu (3/10/2020), Amril yang berasal dari Pariaman, Sumatera Barat ini banyak bercerita mengenai awal perjalanan hidup selama menjadi seorang pengrajin kunci atau jasa pembuat kunci duplikat.

Amril menuturkan, sejatinya pengetahuan tentang kunci telah ia kenal dari tahun 1999 sejak masih berada di Sumatera Barat. Memasuki tahun 2007, Amril mengadu nasib di tanah rantau dengan memberanikan diri menginjakan kaki di Kota Palu.

Berbekal pengalaman itulah, Amril berani membuka usaha tersebut dengan modal seadanya. Ia mengungkapkan berkat profesi sebagai pengrajin kunci, dirinya bisa mampu menghidupi istri dan menyekolahkan ketiga anaknya.

“Profesi ini saya pelajari dari bapak, kalau mau dibilang merupakan profesi turunan. Kita harus tanamkan keyakinan di dalam diri. Saya ingat ada kalimat yang sangat mengispirasi yaitu, tidak usah banyak berfikir dan berani bertindak. Kalimat itu sangat memotivasi saya,” tuturnya.

Tempat usaha yang dibangunnya tersebut berlokasi di kawasan tepat belakang eks Mall Tatura Palu Jalan Tanjung Pangimpuan. Menggunakan tempat ala kadarnya di sekitar pasar Masomba, Amril mulai melayani pembuatan kunci duplikat berbagai jenis, seperti kunci duplikat rumah, lemari sampai kunci sepeda motor dan mobil.

“Pertama kunci asli diletakkan di satu dudukan dan bahan kunci batangan yang sudah disiapkan di dudukan yang lain. Kemudian kunci duplikat dicocokkan dengan kunci asli,” jelasnya.

Sedangkan, peralatan untuk membuat kunci duplikat yaitu ragum, bur, palu, kikir, dan peralatan lainnya. Sementara bila tidak ada pelanggan yang membutuhkan jasanya. Amril mengaku selalu mengisi waktu dengan mendengarkan musik kesukaannya dilapak yang sederhana itu.

“Namanya usaha begini suka dan duka pasti dialami. Tidak menentu, kalau lagi ramai pelanggan biasa perasaan senang. Tapi kadang biasanya dari pagi hingga sore sepi, jadi berpengaruh dengan penghasilan harian,” ucapnya.

Diungkapkannya, sebelum adanya pandemi covid 19 dirinya bisa meraup Rp300 hingga Rp600 ribu per hari. Namun, semenjak merebaknya wabah virus corona omset pendapatannya sangat menurun drastis. Bahkan, dalam sehari terkadang Amril tak memperoleh hasil dari pekerjaan sebagai pengrajin kunci.

“Kondisi ekonomi sekarang ini sangat memprihatinkan dan sudah tambah susah, apapun profesinya semua pasti merasakan dampak corona, penghasilan turun biasa tidak sampai Rp100 ribu didapat. Demi keluarga mau tak mau kita harus cukupkan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Amril yang kini tinggal terdata menjadi warga di kompleks BTN, Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, hingga saat ini belum menerima bantuan dari pemerintah selama masa pandemi. Padahal, dirinya telah mengajukan berkas ke pemerintah kelurahan setempat.

“Pas di sana, saya hanya terima jawaban pemerintah kelurahan bahwa berkas yang akan saya masukan mereka bilang sudah ditutup. Saya pun berharap agar pemerintah sepatutnya perhatikan nasib masyarakat kecil seperti kami,” harapnya. (**)

Ayo tulis komentar cerdas