Home Inspirasi

Pejuang Kesejahteraan Desa, Bantu Ibu-ibu Kembangkan Usaha

67
BERI PENDAMPINGAN- Business Partner (BP) Amartha di Poin Torue, Area Parigi Moutong, Regional Sulawesi Tengah, Sari Yanti pada saat memberikan pendampingan kepada ibu-ibu pengusaha mikro. (Foto: Dok. Pribadi)
  • Kisah Sari Yanti, BP Amartha di Torue Parigi Moutong

Pandemi Covid-19, tak menyurutkan semangatnya menularkan ilmu kewirausahaan. Sari Yanti bertekad membantu ibu-ibu di desanya yang butuh modal usaha dan pendampingan.

RABU, 23 September 2020, Sari bergegas. Setelah briefing dan diberi pengarahan oleh Manajer Poin Torue, Sari segera menelusuri kampung. Dia tak ingin membiarkan ibu-ibu menunggu. Sari disiplin soal waktu.

“Saya tinggal di mes yang sekaligus sebagai kantor Amartha Poin Torue. Pagi, manajer memimpin briefing sampai pukul 07.20, membahas planning dan strategi. Setelah sarapan pagi, sebelum jam 09.00 saya sudah berangkat. Tidak boleh telat, karena itu tidak bagus bagi mitra (ibu-ibu),” kata Sari kepada Metrosulawesi, Kamis 24 September 2020.

Sari adalah Sarjana Ekonomi Akuntansi dari salah satu perguruan tinggi di Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Dia bekerja sebagai Business Partner (BP) Amartha di Poin Torue, Area Parigi Moutong, Regional Sulawesi Tengah.

Sebagai BP Amartha, tugasnya sangat krusial. Perempuan 25 tahun itu memberikan pendampingan dan pelatihan kepada ibu-ibu pengusaha mikro. Sari menemui ibu-ibu dalam sebuah pertemuan rutin tiap minggu, yang disebutnya pertemuan majelis. Memberikan motivasi, mengajarkan ilmu keuangan sederhana, dan kewirausahaan.

“Memberdayakan kaum perempuan, membantu ibu-ibu yang punya potensi berwirausaha, tapi kurang modal. Agar ibu-ibu semakin produktif membantu keluarganya sehingga lebih sejahtera,” kata Sari.

Dia benar-benar mencintai pekerjaannya itu. Dia mengaku beruntung bisa bergabung di Amartha karena bisa membantu ibu-ibu di desa kelahirannya. Sari yang menyelesaikan kuliahnya pada tahun 2018 bergabung di Amartha sejak Oktober 2019.

Sari Yanti. (Foto: Dok. Pribadi)

“Kerja di Amartha ini adalah pencapaian terbesar saya. Dan, tahun ini juga, saya bisa merekrut mitra yang usahanya berkembang baik,” kata perempuan berhijab ini.

Amartha adalah perusahaan teknologi finansial yang menghubungkan pendana dengan perempuan pengusaha mikro di desa yang disebutnya Mitra Amartha.

“Ibu-ibu diberi pinjaman modal usaha tanpa agunan atau jaminan dan tanpa potongan sama sekali,” kata Sari.

Salah satu Mitra Amartha yang usahanya berkembang baik adalah Siti Aisyah. Dikatakan, Aisyiah awalnya punya usaha jualan ikan dan ecer beras. Setelah diberikan modal, Aisyah gunakan untuk beli peralatan tangkap ikan.

“Setelah ada hasilnya, berkembang lagi ke kios. Saya lihat kios sudah lama dijalankan. Sekarang sudah mulai jual beli lemari, semakin diperluas jenis usahanya,” kata Sari.

Siti Aisyah adalah satu dari 142 mitra Amartha di Desa Tolai, Kecamatan Torue, Parigi Moutong, yang didampingi oleh Sari. Jenis usaha mitra bervariasi. Karena itu, sesama mitra juga bekerja sama, saling mendukung dalam mengembangkan usaha. Tentu saja, Sari menjadi perantara awal di antara mitra-mitra itu.

Menurut Sari, Amartha tidak sekadar meminjamkan bantuan modal usaha, tapi memberikan pendampingan agar usaha yang dijalankan terus berkembang. Sebagai BP Amartha, dia mengontrol perkembangan usaha mitranya. Karena itu, Sari rutin mengunjungi mitra.

Setiap Senin, kata dia ada tiga pertemuan majelis yang dihadirinya. Selasa, ada lima majelis. Satu majelis diisi sepuluh sampai 25 ibu-ibu. Pada pertemuan majelis itulah, ibu-ibu berbagi informasi tentang perkembangan usaha yang sedang mereka jalankan.

“Pertemuan majelis adalah bertemunya kaum ibu dengan karakter yang berbeda-beda dan usaha yang berbeda-beda pula,” katanya.

Setelah pertemuan majelis itu, Sari akan kembali pada tugas lainnya seperti sosialisasi, survei, atau LWK (latihan wajib kumpulan). Begitulah aktivitasnya. Sari benar-benar sibuk. Kecuali akhir pekan, dia akan berlibur.

Meski sibuk, dia tak banyak mengeluh. Malah pekerjaan itu dinikmatinya. Betapa tidak, selain mendapat penghasilan dari bekerja di Amartha, baginya yang tak kalah pentingnya adalah pengalaman dan karya. Bisa membantu memasarkan usaha ibu-ibu adalah kebahagiaan baginya.

Selain itu, kata dia semenjak bergabung di Amartha kini pandai berbicara, menganalisa karakter orang-orang yang ditemuinya di desa.

“Saya awalnya pemalu, sekarang jadi cerewet, promosi kan susah. Pandai dalam menganalisa karakter orang. Dulunya tidak semudah itu,” katanya.

Sari juga lebih sering mengunjungi desa-desa di Torue yang tak pernah dikunjunginya sebelumnya. Sari memang lahir di Torue, tapi sekolah dan besar di Provinsi Gorontalo.

“Sejak di Amartha, bisa jalan-jalan. Selain bekerja, kita bisa sekalian berwisata. Bisa sambil refreshing,” jelasnya.

Hal yang juga membuatnya betah di Amartha adalah karena punya banyak keluarga.

“Saya kan gak punya ibu lagi. Entah kenapa sejak di Amartha, saya merasa punya ibu banyak. Saya anggap mereka orang tua, keluarga karena tiap minggu ketemu,” ujarnya.

Pandemi Covid-19

Semenjak pandemi Covid-19, terjadi perubahan pola kerja dan tantangannya kian berat. Pada awal-awal pandemi Covid-19, kumpulan atau pertemuan majelis tidak dapat dilaksanakan. Maka tak ada cara lain,

“Saya harus door to door, karena tidak bisa kumpulkan orang,” kata Sari.

Tantangan lainnya, kata dia di masa pandemi Covid-19 mitra Amartha ragu menjalankan usaha. Tapi, Sari terus menyuntikkan semangat. Tak boleh menyerah meski pandemi Covid-19.

“Jika ada mitra kurang semangat, saya sempatkan waktu. Tanya apakah ada masalah? Biasanya bilang sudah tidak ramai, tidak tahu mau jual apa. Saya beri masukan jualan yang lagi ramai”.

Saat ini di masa new normal, dalam pertemuan majelis diterapkan protokol kesehatan seperti jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan. Sari terus berusaha merekrut lebih banyak mitra agar ibu-ibu di desa yang punya usaha semakin sejahtera.

“Harapan kepada mitra agar usaha mereka sukses dan tetap bersama kami di Amartha,” katanya.

Sari sendiri punya rencana, ingin meniti karir di Amartha.

“Kalau target tahun depan, pengen belikan motor papa, gantikan motornya yang sudah lama dipakai ke kebun,” kata Sari mengakhiri wawancara. (*)

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas