Home Ekonomi

Pandemi Covid-19, Investasi di KEK Palu Justru Naik

28
Dirut PT Bangun Palu Sulteng Andi Mulhanan Tombolotutu (kiri) bersama Ketua Kadin Kota Palu Gufran Ahmad (kanan) saat mengisi dialog terkait investasi di KEK Palu pada era pandemi Covid-19. (Foto: Dok. Podcast Palu)

Palu, Metrosulawesi.id – Pada saat kondisi ekonomi yang semakin merosot di era pandemi covid-19, ada hal menarik ditunjukan oleh Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kota Palu. Hingga kini masih justru mengalami kenaikan cukup signifikan.

“Kalau kita melihat fenomena covid-19 dan pascabencana 28 September 2018 lalu memang sangat berimbas ke sektor ekonomi. Namun, tidak terkecuali dengan KEK yang masih diminati para investor hampir melebihi  100%,” kata Dirut PT Bangun Palu Sulteng, Andi Mulhanan Tombolotutu dalam bincang-bincang bersama Podcast Palu di salah satu kafe, Selasa (22/9/2020).

Mulhanan menjelaskan, kenaikan terjadi dilihat dari setiap tenan atau yang berminat mengirimkan daftar untuk ikut sebagai investor. Pihaknya dalam hal ini juga mengajukan beberapa pertanyaan kepada pengusaha terkait dengan industri KEK.

“Kami tanya jenis usaha apa yang akan dibangun, berapa luas lahan yang mereka butuhkan, berapa nilai investasi, kemudian sumber bahan baku apa saja dibutuhkan, tenaga kerja dan fasilitas lainnya. Itu semua sektor yang menaikan KEK,” jelasnya.

Sementara pada 2019, Mulhanan mengungkapkan ada Rp1,2 triliun uang yang beredar dan bersumber dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kota Palu. Menurutnya, ini menjadi salah satu yang bisa membangkitkan ekonomi dan mendorong daya beli masyarakat.

“Jadi ketika kita berbicara UKM dan UMKM dapat berkembang kalau uang yang beredar itu banyak. Walaupun coronan, tapi kami tetap menaati peraturan pemerintah tentang protokol kesehatan,” ungkapnya.

Ia menuturkan ditengah masyarakat yang khawatir akan terjadinya resesi para investor itu sebagian mengemukakan berbagai hal berdasarkan catatan pengalaman bencana yang sebelumnya sempat melanda Negara Jepang.

“Seluruh daerah yang pernah terdampak bencana, mereka katakan tingkat pertumbuhan melebihi sekian puluh kali dan Kota Palu salah satu daerah yang termasuk cepat,” tuturnya.

Menurutnya, dari alasan itulah para calon investor tersebut berani mengambil resiko dengan melakukan investasi di wilayah ini kurang lebih ada sekitar 26 perusahaan atau investor yang ikut dalam pengembangan KEK di Kota Palu.

“Karna itu, mereka berlomba untuk berinvestasi, dan sekarang ini menjadi kesempatan emas bagi orang yang memiliki kapital memadai untuk melakukan investasi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri Kota Palu Gufran Ahmad mengatakan, anggota Kamar dagang dan industri (Kadin) Kota Palu belum maksimal dilibatkan dalam kegiatan ekonomi tersebut.

“Kita harapkan agar pengusaha lokal juga bisa diberdayakan di industri KEK. Entah itu secara financial pengusaha lokal tidak sanggup, tetapi ada hal yang bisa mereka diikutkan dalam membantu untuk pengembangan KEK,” ucapnya dalam dialog Podcast Palu.

Gufron berujar bahwa pengusaha lokal seharusnya mempersiapkan diri jika ingin berinvestasi. Terhitung dimulai dari sumber daya manusia (SDM) hingga sisi financial. Dijelaskan, seperti diketahui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kota Palu merupakan investasi yang cukup besar di wilayah ini.

“Kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh pengusaha lokal dalam mendorong investasi baru. Dan tidak hanya bermain ditingkat lokal, tetapi bagaimana upaya untuk bisa melibatkan diri ke industri KEK,” ujarnya.

Para pengusaha yang bergerak di berbagai sektor ekonomi di Kota Palu sesuai dengan data yang terkumpul kurang lebih ada sekitar 6.800 orang.

“Kalau kita bicara secara umum tentang masalah bisnis di daerah ini cukup lumayan banyak yang bergerak dibidang ekonomi,” sebutnya.

Namun kata dia, awal pandemi covid-19 begitu sangat luar biasa dampak yang dirasakan. Dimana hampir mencapai sekitar 5.000-an karyawan telah di rumahkan pihak perusahaan.

“Bahkan ada yang terkena PHK akibat ekonomi menurun karena covid pada Maret dan April. Kondisi ini memang berbeda jauh dari pada krisis di tahun 1998. Segala macam usaha pastinya berimbas semua,” tuturnya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas