Home Ekonomi

OJK: Sektor UMKM Sangat Terpukul Akibat Pandemi

33
Kepala Bagian Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Sulteng, Amiruddin Muhidu (kanan) saat melakukan penyerahan cendramata kepada Kapolda Sulteng, Irjen Pol Drs. Abdul Rahman Baso, SH. (Foto: Metrosulawesi/ Fikri Alihana)

Palu, Metrosulawesi.id – Kepala Bagian Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Sulteng, Amiruddin Muhidu menyebutkan sektor Usaha Mikro Kecil dan menengah (UMKM) begitu sangat terpukul karena diakibatkan oleh kondisi pandemi covid 19.

“Yang paling terlihat terkena dampak itu adalah UMKM diawal masuknya pandemi dan diberlakukan pembatasan sosial di Indonesia,” sebut Amiruddin saat acara Silahturahmi dengan Kapolda Sulteng bersama lembaga pembiayaan dan perbankan belum lama ini.

Olehnya, dari hal tersebut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) langsung merespon cepat dengan mengambil inisiatif mengeluarkan regulasi tentang peraturan relaksasi penundaan pembayaran angsuran kredit bagi debitur yang terdampak covid 19.

“Kebijakan itu memang dinilai sangat penting sekali untuk dikeluarkan. Karna OJK sudah melihat apabila hal ini tidak dilakukan pasti akan berimbas ke sektor jasa keuangan,” terangnya.

Sedangkan, Amiruddin Muhidu menguraikan sektor jasa keuangan dapat disebutkan sebagai urat nadi dari perekonomian. Dimana aliran dana banyak bergerak di bidang tersebut.

“Kalau alurnya berhenti, maka bisa cukup parah ke depanya. Kami tidak ingin jasa keuangan utamanya perbankan akan mengalami tekanan yang luar biasa dari sisi financial keuangannya,” urainya.

Diungkapkan, saat tahun 1998 di Indonesia juga pernah terjadi krisis ekonomi seperti ini. Lanjut dia, yang awalnya hanya masalah moneter. Namun, semakin hari terlihat berdampak langsung ke kinerja keuangan perbankan.

“Sehingga ada 16 bank yang ditutup pada saat itu. Kita tidak ingin hal ini terjadi kembali di Indonesia, makanya dengan adanya restrukrisasi dapat sedikit membantu debitur,” ungkapnya.

Walaupun kebijakan dikeluarkan, tetapi OJK menyerahkan sepenuhnya terkait assesment ke pihak perbankan dan lembaga non bank. Disamping itu, rasio kredit bermasalah juga alami peningkatan. Tetapi, kata dia, itu tidak sampai mengkhawatir dan masih dalam koridor aman.

“Dikarenakan mereka lah yang lebih mengetahui dengan kondisi nasabahnya. Terakhir tingkat rasio kredit 3% dari sebelummya hanya 2%. Mudah-mudahan tatanan itu bisa terus terjaga,” katanya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas