Home Artikel / Opini

Ada Apa dengan Anies?

28

SAAT Jokowi melirik kursi Presiden RI, Anies Baswedan dipilih sebagai juru bicara. Tutur kata, kalimat sistematis nan santun, senyum selalu menghiasi wajahnya, mungkin karakter itulah yang membuat Jokowi simpati kepadanya. Tak mengherankan ketika Jokowi meraih kursi impiannya itu, Anies mendapat amanah sebagai Mendikbud dalam periode pertama Jokowi. Kebijakan-kebijakan Anies pun disambut dengan sebuah antusias oleh kalangan dunia pendidikan.

Lelaki yang masih tergolong berusia muda ini dan memang dari awal sangat mencintai kehidupan dunia pendidikan, seperti menemukan sebuah saluran impian yang terus hidup dalam dirinya. Maka dapat dibayangkan, gagasan pembaruan-pembaruan meluncur bagaikan arus deras yang kebaikannya langsung dirasakan manfaatnya baik siswa maupun bagi pengajar atau guru. Dalam kepemimpinannya terasa benar kegembiraan dan semangat yang kian tumbuh pada sendi-sendi pendidikan.

Sayangnya, belum cukup satu periode menjalankan amanah mulia itu–entah kenapa–Jokowi mencopotnya tanpa alasan yang transparan. Soal copot dan mengangkat pembantunya yang bergelar menteri itu, tentu Presiden punya hak. Itulah yang disebut hak prerogatif. Meski demikian, kita pun–maksudnya rakyat–berhak tahu apa ya penyebabnya sehingga sang pembantu yang oleh banyak kalangan menilainya sebagai menteri yang sukses di bidangnya, tiba-tiba dipinggirkan.

Dalam suasana keharuan dan kekecewaan–saat itu–muncul berbagai penafsiran. Salah satunya, nama Anies makin cemerlang, bukan hanya di dunia pendidikan, tapi masyarakat umum pun simpati kepadanya. Dan para petualang politik menilainya sebagai sebuah ancaman bagi Jokowi untuk periode keduanya lantaran tak menutup kemungkinan Anies akan tampil menjadi pesaing baru. Maka tak ada jalan lain, kecuali cepat-cepat menghabisinya. Itu sebuah penafsiran. Mungkin ada penafsiran lain. Silakan.

Perjalanan cucu pahlawan nasional ini–AR Baswedan–memang lumayan unik. Sejumlah pengamat menyimpulkan–ketika itu–tamatlah Anies di kehidupan publik. Dia harus pasrah kembali ke profesi awalnya sebagai dosen. Namun Tuhan berkehendak lain. Dalam suasana persaingan ketat dan keras, bahkan kasar, Anies berhasil memenangi kursi Gubernur DKI Jakarta dengan indahnya, mines dukungan para petinggi di negeri ini, termasuk dari Istana. Itulah garis tangan. Garis yang diciptakan oleh Tuhan. Dulu, ada sindiran muncul: andaikan tak dicopot sebagai menteri, Anies tak mungkin jadi gubernur. Lantaran itu sebaiknya Anies menghadap kepada Presiden Jokowi untuk menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya atas pencopotan itu.


TENANGKAH Anies sebagai gubernur? Tampaknya tidak. Kebijakan- kebijakannya yang memihak kepada warga Jakarta terus diadang. Sejak dia membuktikan janjinya menghentikan reklamasi, menutup hotel maksiat, dan beberapa kebijakan yang “melawan” kehendak pusat, “senjata” musuh-musuh pun mengarah ke dirinya. Di lain pihak, warga Jakarta terus menabur rasa kecintaan pada kepemimpinannya.

Dan kini–sejak Februari, tercatatnya Indonesia sebagai negara korban pandemi akibat penyebaran virus corona, sebenarnya dia sudah mau menerapkan lockdown–namun serangan dari mereka yang merasa “lawan” terus menghujamkan “pelurunya” kepada Anies lantaran merasa terganggu dengan kebijakan yang bertujuan menyelamatkan warga Jakarta itu. Ironis memang.

Minggu ini perlawanan itu makin memuncak. Kian hari kian bertambah korban positif corona. Bukan hitungan ratusan, tapi sudah ribuan orang tiap hari. Baginya, kinilah saatnya menghadapi lawannya. Dia makin percaya diri, bila locdown tak bisa diterapkan, maka PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) wajib dilaksanakan.

Anies tidak berdasar politis dalam mengambil kebijakan. Selain memang dia tidak lahir dari partai politik, juga dia memandang bahwa urusan penyelamatan warga tak ada hubungannya dengan politik, tapi semuanya berdasar pada data.

Tim dari ahli epidemiologi dan simpulan dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) menambah semangatnya bahwa untuk menahan jatuhnya lebih banyak korban, maka tak ada jalan lain kecuali penerapan PSBB secara menyeluruh dan ketat.

Pada posisi sekarang, tentu tidak gampang menjadi Anies. Namun tak ada pilihan baginya, meski terus diserang dari berbagi penjuru, Anies terus berjalan cepat. Bahkan berlari kencang bersama kebijakannya yang lahir dari hati nuraninya yang mencintai rakyatnya, rakyat Jakarta. Di sini tak ada tempat untuk mereka yang terbiasa hidup dalam pencitraan. (#)

Ayo tulis komentar cerdas