Home Sulteng

Pustakawan Diminta Kreatif dan Inovatif

51
SAMBUTAN - Kepala Dispusarda Sulteng, Ardiansyah, saat menyampaikan sambutan di kegiatan Sosialisasi Jabatan Fungsional Pustakawan, di salah satu Hotel di Palu, Senin, 14 September 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Moh Fadel)

Palu, Metrosulawesi.id – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusarda) Provinsi Sulawesi Tengah, menggelar Sosialisasi Jabatan Fungsional Pustakawan, di salah satu Hotel di Palu, Senin, 14 September 2020.

Kepala Dispusarda Sulteng, Ardiansyah, mengungkapkan, keberadaan Pustakawan di Sulteng ini masih sangat dibutuhkan, dalam artian jumlah Perpustakaan yang ada belum seimbang dengan jumlah Pustakawan.

“Namun alhamdulillah dengan reformasi yang dilakukan oleh Menpan-RB, bahwa sudah mulai terdata sejumlah ASN yang menduduki jabatan struktural akan dialihfungsikan menjadi pejabat fungsional, maka akan bertambah jumlah pustakawan di daerah ini,” kata Ardiansyah.

Olehnya itu, kata Ardiansyah, sosialisasi ini sangat penting digelar untuk memberikan penguatan kepada Pustakawan, karena ketika ASN terahlih fungsi dari birokrasi menjadi pejabat  fungsional tentunya banyak persaingan ketat akan dihadapi. 

“Menjadi Pustakawan ini tidak gampang, sebab perlu melalui proses yang panjang, misalnya harus mengikuti Diklat atau di tes dulu sehingga bisa meraih sertifikat. Begitu juga perlu inpassing pada strata atau gologan. Olehnya itu para Pustakawan yang ada saat ini patut bersyukur,” ujarnya.

Menurut Ardiansyah, jika Pustakawan tidak mampu berinovasi dalam menjalankan fungsinya sebagai Pustakawan, tentunya akan tertinggal bahkan ditinggalkan oleh orang banyak.

“Ke depan, para Pustakawan akan diperhadapkan dengan persiangan yang ketat, dengan bertemu kompetitor yang memiliki inovasi tinggi, kemudian memiliki kecerdasan serta keterampilan yang baik. Olehnya itu tinggalkan kebiasan-kebiasan yang buruk dengan duduk diam menunggu saja, tetapi perlu ada kreativitas dalam mengelola Perpustakaan,” imbuhnya.

Ardiansyah mengatakan, berkualitas atau hebatnya Perpustakaan di daerah ini, terletak di tangan Pustakawan yang ada di Sulteng.  

“Kita tidak boleh beralasan misalnya kelengkapan infrastrukturnya dan mobilernya, sebab hal ini adalah persoalan kedua. Persoalan yang utama adalah kecerdasan seorang Pustakawan untuk mendesain dan mengatur pelayanan Pepustakaan menjadi menarik,” katanya.

Ardiansyah mengatakan, Pustakawan masih terperangkap dengan cara pelayanan yang buruk, seperti menunggu Pemustaka di rak-rak buku yang sudah lapuk, di tempat ruangan yang tidak pernah diubah dari 20 tahun lalu hingga saat ini.

“Hanya orang kreatif yang bisa bertahan hidup di dalam persaingan ini, orang kreatif dan inovatif ini adalah orang yang mampu mengubah hal yang biasa menjadi luar biasa, seharusnya jiwa ini dimiliki oleh pustakawan,” ungkapnya.

Olehnya Ardiansyah berpesan kepada para pustakawan harus memiliki jiwa edukatif dan mampu membina pengelola Perpustakaan.

“Karena ketika UU di negara ini menetapkan kepada seorrang ASN menjadi pejabat fungsional, maka pada saat melekat jabatan itu harus mempunyai tanggungjawab moral yang mampu mengedukasi untuk pelayanan Perpustakaan jadi lebih baik, dan dari sinilah baru tercipta budaya gemar membaca,” katanya.

Reporter: Moh. Fadel
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas