Home Senggang

Musim Puji Diri

44

LELAKI berwajah tampan itu, dulunya seorang bupati, kini bermukim di penjara lantaran melakukan perbuatan tercela, korupsi milyaran rupiah. Orang tua yang selalu memakai songkok hitam itu, dulunya seorang gubernur, kini menikmati pengapnya sel tahanan karena terjaring OTT KPK saat menerima uang suap dari sejumlah pengusaha. Pemuda yang beristri dua wanita cantik itu, dulunya seorang anggota DPR, kini tiap malam menangis di balik terali besi karena terlibat dalam skandal proyek fiktif. Perempuan berwajah lembut itu, dulunya seorang bupati dua periode, kini tertunduk penuh penyesalan di selnya yang sempit lantaran dalam periode keduanya menumpuk uang haram.

Pada awalnya, mereka–manusia-manusia Indonesia–ini adalah pilihan rakyat untuk menjadi pemimpinnya. Kenapa rakyat terpanggil memercayainya menjadi pemimpinnya, yang kelak ternyata mendustainya? Saat itu rakyat tergiur dengan sebuah musim, namanya “musim puji diri.” Dulu, menjelang pemilihan kepala daerah dan pemilihan anggota legislatif, foto-foto atau poster mereka berjajar di pinggir-pinggir jalan sebagai refleksi pujian diri sendiri. Seakan pinggir-pinggir jalan itu milik mereka. Sebagian merusak keindahan alam dengan menancapkannya di batang-batang pohon pelindung. Gaya mereka bermacam-macam, seperti macam-macamnya poster film di depan bioskop. Ada yang pura-pura hormat kepada rakyat. Ada yang mengepalkan tinjunya, mengklaim kalau dia itu berjiwa pemberani. Para perempuan–tanpa malu-malu–memamerkan senyum manisnya yang menggoda. Mereka tak tahu atau tak mau tahu kalau sebagian pengguna jalan merasa terganggu, bahkan bosan melihatnya.

Bukan hanya foto. Tapi juga kata-kata. Mereka mengklaim kata-kata itu melekat pada sikapnya, bila kelak terpilih. Seperti apa kata-kata indah yang berkedok itu: Pejuang Anti Korupsi, Siap Menurunkan Harga BBM, Jujur Harga Mati, Anti KKN, Muda dan Pemberani, Singa Podium, Menghibahkan Diri Demi Rakyat, Pemimpin Merakyat, Memperkuat KPK, Anti Paham Komunis, Menggratiskan Biaya Sekolah, SIM Seumur Hidup, Pajuang Demokrasi. Dan masih banyak lagi kata-kata penuh propaganda.

Kita pun tahu gaya foto dan makna kata-kata itu tak sepadam kenyataannya. Sebagian meniatkannya sebagai pembodohan dan penipuan kepada rakyat. Seperti memancing ikan dengan umpan palsu. Bagi mereka, tak penting umpan itu asli atau palsu–tujuan utama adalah rakyat tergiur dengan umpannya. Dan mereka berhasil, meski pun mereka lupa kalau Tuhan melihat kepalsuannya.

“Musim puji diri” itu kini datang lagi di bulan September tahun 2020, bersamaan dengan mengganasnya virus corona yang kian hari kian mencemaskan. Mereka tak peduli korban-korban virus terus berjatuhan, yang penting buat mereka memamerkan foto dan menorehkan janji kata-kata indahnya.

Satunya kata dengan perbuatan, hanya enak didengar dan dibaca, tidak untuk dirasakan. Para calon-calon pemimpin kita itu sebagian hanya memanfaatkan pemilu atau pilkada sebagai musim untuk memuji diri sendiri–meski lahir dari dusta–agar rakyat memilihnya. Dan kelak, bila sudah duduk di kursi impian, mereka pun lupa diri dan lupa rakyat. Seperti biasa, setelah lima tahun “mabuk”, mereka pun kembali menjemput musim baru dengan pujian-pujian baru. Begitulah siklus musim di negeri ini. Berlangsung terus-menerus. Bila demikian, apa yang bisa diharap dari kepalsuan itu untuk kemajuan bangsa? (#)

Ayo tulis komentar cerdas