Home Hukum & Kriminal

Dugaan Pekerjaan Fiktif SDN 1 Tatura Dilapor ke Kejati

DI PTSP - Anggota DPRD Palu, Marselinus saat datang ke Kejati Sulteng, melaporkan dugaan pekerjaan fiktif di SDN 1 Tatura Palu, Selasa, 18 Agustus 2020. (Foto: Istimewa)
  • Oleh Anggota DPRD Palu, Masih Diarahkan ke Kejari Palu

Palu, Metrosulawesi.id – Isu mengenai dugaan adanya pekerjaan fiktif dalam pembangunan beberapa ruangan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Tatura Palu, yang anggarannya bersumber dari dana bantuan sosial renovasi sekolah dasar terdampak bencana tahun 2018 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, telah dilaporkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulteng, Selasa, 18 Agustus 2020.

Dugaan mengenai pekerjaan fiktifdalam pembangunan di SDN 1 Tatura Palu itu, dilaporkan oleh Marselinus anggota DPRD Palu dari Daerah Pemilihan (Dapil) Palu Selatan. Anggota DPRD dari partai Perindo ini, merupakan pihak yang menemukan dugaan pekerjaan fiktif dalam pembangunan beberapa unit bangunan di SDN 1 Tatura Palu itu.

Berdasarkan amatan Metrosulawesi, Marselinus tiba di kantor Kejati Sulteng, sekitar pukul 12.00 wita atau setelah ibadah solat Dzuhur. Diterima di bagian Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Marselinus yang datang sekaligus membawa dokumen yakni RAB terkait pekerjaan di SDN 1 Tatura Palu, langsung diarahkan ke Bidang Tindak Pidana Khusus.

Di bidang ini Marselinus diterima Asisten Tindak Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Sulteng, Edward Malau SH MH di ruang kerjanya.“Tadi diterima, Aspidsus Kejati Pak Edward Malau, di ruangannya langsung,” ungkap Marselinus kepada Metrosulawesi, Selasa 18 Agustus 2020.

Dia membenarkan, kalau tujuannya ke Kejati Sulteng adalah untuk mengadukan soal pekerjaan fiktif dalam proyek pembangunan beberapa ruangan di SDN 1 Tatura Palu. “Hanya dari Aspidsus Kejati, masih mengarahkan saya untuk melapor langsung dugaan itu diKejari Palu. Pak Aspidsus tadi langsung pula berkoordinasi dengan pihak Kejari Palu,” ungkapnya.

Marcelinus yang usai melapor ditemui di ruang loby Kejati Sulteng, menerangkan bahwa dirinya tetap akan mengadukan dugaan pekerjaan fiktif dalam proyek pembangunan beberapa unit di SDN 1 Tatura Palu itu, sebagaimana petunjuk Aspidsus.

“Besok saya akan ke Kejari Palu membawa laporan ini. Mungkin sekitar jam 10.00 pagi,” katanya lagi.

Data Metrosulawesi, bahwa sebelumnya Marcelinus mendapat laporan dari warga terkait adanya dugaan pekerjaan fiktif dalamproyek pembangunan ruang sekolah di SDN 1 Tatura yang tidak sesuai RAB. Dia menerangkan sebagaimana dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang didapatinya dari pihak sekolah, dana bantuan itu digunakan antara lain, untuk rehabilitasi gedung A yakni ruang kelas II A, II B, II C,IV B, VIA, VI B, VI C, dan ruang UKS. Serta gedung B antara lain ruang kelas III A,III B,III C, V A, V B dan V C dengan anggaran Rp98,9juta.

Sedangkan untuk pembangunan baru, dalam RAB diperuntukan bagi pembangunan Gedung C, terdapat tujuh item pekerjaan ruangan. Antara lain ruang kantor, ruang kepala sekolah, perpustakaan, ruang kelas I A, I B, IC dan WC dengan anggaran pembangunan baru Rp1 miliar lebih. Dia menduga ada yang janggal dalam pembangunan khusus pada Gedung C.

“Jadi ini mengenai dugaan pekerjaan yang fiktif,” tegasnya.

Namun, soal dugaan temuan itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Palu, Ansyar Sutiadi, telah angkat bicara kepada sejumlah media belum lama ini. Dengan tegas Ansyar Sutiadi mengatakan bahwa dugaan proyek fiktif dalam pembangunan itu menurutnya tidak mendasar, karena pekerjaan pembangunan SDN 1 Tatura Palu sesuai dengan Rancana Anggaran Biaya (RAB).

Bahkan menganggap pekerjaan SDN 1 Tatura Palu sudah sesuai dengan aturan, Ansyar Sutiadi merasa dilecehkan dan terhina atas pernyataan dari anggota DPRD Palu, Marselinus, yang menyebutkan bahwa pembangunan beberapa ruangan di SDN 1 Tatura Palu fiktif.

“Dokumen yang didapatkan anggota DPRD itu tidak di konfirmasi kepada pihak yang berkompeten atau berwenang untuk mengeluarkan statemen. Makanya saya bertanya apa motivasinya Marselinus itu,” kata Ansyar kepada beberapa awak media, Kamis, 13 Agustus 2020.

Begitu juga mantan Kepala SDN 1 Tatura Palu, Usrin Mustafa saat mengajak media meninjau hasil pekerjaan pembangunan sekolah mengatakan, ruang kepala sekolah, kantor dan perpustakaan yang dituding fiktif adalah ruangan lama yang memang tidak masuk dalam RAB.

“Tiga ruangan itu dalam RAB masuk dalam pembangunan gedung C. Artinya saat perencanaan ruang kepala sekolah memang dipindahkan. Tetapi setelah pekerjaan selesai, sebagai kepala sekolah selaku pengelola merasa ada yang lebih penting menempati ruangan tersebut, sehingga saya memutuskan ruang kepala sekolah dan ruang guru menjadi ruangan pertemuan. Kepala sekolah kembali ke ruang kerja lamanya,” ungkap Usrin Mustafa.

Reporter: Sudirman

Ayo tulis komentar cerdas