Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah M Abd Majid Ikram (kiri) bersama Bupati Sigi Muh Irwan saat melakukan panen perdana bawang merah di Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Sulawesi Tengah. Penanaman bawang merah ini mendapat bantuan dan pembinaan BI pasca bencana, 2018 silam. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Sebagai salah satu komoditi yang kerap menyumbang atau mendongkrak inflasi, bawang merah kini dikembangkan sendiri oleh petani di Sigi, Sulawesi Tengah.

Lahan persawahan yang tidak belum bisa dialiri air bendungan Gumbasa, disulap menjadi lahan bawang merah. Bank Indonesia Sulawesi Tengah memberi bantuan satu unit embung untuk mengairi dan sudah dilakukan panen perdana.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Abdul Majid Ikram mengatakan BI terus mendorong agar petani bisa meningkatkan produksi bawang merah.

“Satu hektar ditargetkan sebanyak delapan ton dari 15 hektar lahan yang ditanami,” kata Majid Ikram, Sabtu,15 Agustus 2020 di Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi.

Menurut Majid, bawang merah salah yang menyebabkan inflasi naik.

“Kita berharap dengan ada produksi bawang merah dari petani bisa membantu menstabilkan harga,” kata Majid.

Sementara itu, Bupati Sigi Muh Irwan mengaku keuangan daerah (APBD) tidak mampu memberikan dukungan maksimal bagi petani.

“Hampir 50 persen APBD itu habis untuk belanja pegawai, sisanya untuk sejumlah sektor yang ada. Sehingga dengan adanya dukungan Bank Indonesia, itu akan sangat menolong masyarakat,” kata Irwan.

Mustafa, salah satu anggota Kelompok Tani Hortikultura Jaya menyampaikan sejumlah kendala yaitu berupa bibit bawang merah yang masih didatangkan dari Pulau Jawa.

“Bibitnya masih didatangkan dari Nganjuk dan butuh biaya besar untuk pengirimannya. Kita berharap ada dukungan pemda untuk menyiapkan bibit bawang merah atau dikembangkan sendiri,” kata Mustafa.

Reporter: Ariston Aporema Sorisi, Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas