Home Senggang

Jangan Pernah Melawan Raja…

31

SHOGI buru-buru meminum kopinya. Pagi itu, wartawan pemberani ini, janjian dengan seorang perempuan pujaannya, Inayah namanya, untuk berjumpa di sebuah kantor. Mengapa bukan di hotel atau di taman? Kedua tempat itu tak akan menyelesaikan peresmian hubungannya yang sudah dirajut selama tiga tahun tiga bulan. Sudah tujuh langkah dia tinggalkan rumahnya, jantungnya berdebar. Seakan mau copot. Inikah pertanda gemuruh cinta atau detak kematian yang tak lama lagi menjemputnya? Dia kembali duduk. Dia memilih kursi teras. Menenangkan diri. Kebimbangan terus bersemayam di hatinya. Shogi teringat pesan kakeknya; bila engkau bimbang jangan pernah tinggalkan rumahmu. Tunda rencana kepergianmu. Hentikan langkahmu. Tunggulah kebimbangan itu menawarkan pilihan. Sejenak dia mematuhi pesan sang kakek, namun ada rindu dan tanggung jawab memuncak yang tak tertahankan. Pesan itu pun luluh, seperti aliran embun di pucuk daun yang tak mampu melawan sinar paginya matahari cerah. Dengan langkah heroik dia meninggalkan tempat tinggalnya. Benar, perempuan itu telah menunggunya di depan kantor. Wajahnya putih. Hidungnya mancung. Betisnya mulus halus seperti beludru. Senyumnya menawan. Bicaranya pelan lembut Secuil itulah yang tersimpan rapat dalam hati Shogi.

“Sudah lama menunggu?” Shogi menatap mata perempuan itu tanpa senyum.

“Sekira setengah jam,” jawabnya singkat lalu tunduk. Menandakan kalau perempuan ini penganut kesopanan tingkat tinggi di depan seorang lelaki, lelaki yang selalu dirindukan.

“Mengapa tidak masuk? Mengapa menunggu di luar?”

“Wajarkah seorang tamu, seorang perempuan seperti saya masuk ke dalam kantor bila tidak dipersilakan oleh pemilik kantor? Lagi pula bukankah kita janjian bersamaan masuk. Tidakkah kau tahu saya selalu menepati janji.”  Inayah memperlihatkan mimik wajah serius.

Shogi memandang sekeliling. Matanya liar. Mencoba menyembunyikan kalau dia lagi menajamkan firasatnya. Sejumlah lelaki gemuk tinggi terlihat mondar-mandir di ruang tamu kantor. Ada yang duduk, lebih banyak yang berdiri. Semuanya memandang ke luar. Seperti mereka menunggu.

“Ada apa?” Pertanyaan singkat Inayah itu membuat Shogi salah tingkah.

“Ti.. Ti.. Tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita pergi dulu. Meninggalkan tempat ini. Kita lihat perkembangan suasana. Kalau berubah dan memungkinkan, bisa kita kembali lagi ke kantor ini,” ajak Shogi.

Inayah tidak mengerti apa yang dimaksud perkembangan suasana yang disampaikan Shogi kepadanya. Baginya meninggalkan kantor ini berarti Shogi lagi bersiasat untuk menunda lagi urusannya. “Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran. Oh… mau menunda lagi. Itu maksudmu? Mohon kau renungkan baik-baik, bukankah hubungan kita sudah dalam, sudah jauh, dan sudah tiga tahun tiga bulan…”

“Saya paham. Tidak pantas kita berlama-lama menjalin hubungan yang tak resmi, apalagi di tanah religius seperti ini. Saya juga merasa berdosa, dan malu kepada keluargamu. Kita telah melakukan perzinahan, maksud saya perzinahan mata, bukankah Tuhan melarang hamba-Nya mendekati zina, dan kita telah melakukannya, meski itu baru zina mata. Tapi siapa yang menjamin kalau jalinan ini kita teruskan…”

“Alhamdulillah, ternyata kau paham. Lalu mengapa kau mau pergi lagi? Bukankah urusan nikah itu harus berawal dari kantor ini. Saya mulai curiga dengan perubahan sikapmu yang mendadak ini. Ya, jangan-jangan….” Perempuan itu kembali menunduk. Shogi merasa tersentuh dengan kata-kata protes itu. Dia bernafas panjang, lalu mengeluarkannya pelan. Berulang kali hal itu dilakukan. Seketika dia mengajak pasangannya masuk. Namun tak disangkanya, usai menjelaskan rencana urusan kelengkapan administrasi pernikahannya,  Shogi diizinkan oleh security masuk, sementara Inayah dicegat, disuruh menunggu di luar kantor. Meski dicegat, Inayah masih berusaha ikut masuk, namun hentakan suara seorang security membuatnya ketakutan.

“Tidak apa-apa. Tunggu saja saya di luar. Bukankah urusan di kantor ini hanya saya yang berkepentingan. Kalau saya berlama-lama tak kunjung ke luar menemuimu, jangan berusaha memaksakan diri untuk masuk. Jangan pula engkau bertanya kepada security yang besar tinggi itu. Pilihanmu hanya satu, sayangku Inayah, yakni pulang!” Usai menyampaikan pesan itu kepada pasangannya atau lebih tepatnya tunangannya, Shogi menjabat erat tangan Inayah sambil menatap tajam matanya. Ada air mata yang tertahan. “Sudah lama saya menasihatimu agar kau menghentikan menulis kritikan-kritikan tajam kepada sang raja. Saya selalu ingatkan, jangan pernah melawan raja. Melawan raja sama dengan menjemput maut. Tapi kau keras kepala.” Sambil menunggu di luar kantor, Inayah terus merenungi nasihat-nasihatnya kepada kekasihnya, Shogi, yang tak kunjung keluar menemuinya lagi. Tak! (#)

Ayo tulis komentar cerdas