TUNGGU HUNIAN - Penyintas yang masih bertahan di tenda darurat Kelurahan Balaroa sambil menunggu perampungan pengerjaan hunian , Jumat 7 Agustus 2020. (Foto: Metrosulawesi/ Hakir)

Palu, Metrosulawesi.id – Hampir dua tahun berlalu, warga Kelurahan Balaroa yang terdampak gempabumi dan likuefaksi 28 September 2018, akhirnya pindah dari tenda darurat pengungsian. Sampai dengan Jumat, 7 Agustus 2020, seluruh penyintas di tenda darurat sudah tersentuh program CSR dari salah satu Non Governmnet Organization (NGO).

Lurah Balaroa, Rahmansyah mengatakan, program CSR dari NGO itu membantu penyintas Kelurahan Balaroa untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak. Sebab, kata Lurah Rahmansyah, hampir dua tahun tinggal di tenda darurat, penyintas sangat tidak nyaman, yakni panas yang berlebihan dan air yang merembes ke dalam tenda saat hujan turun. Meski saat ini masih ada beberapa kepala keluarga yang menempati tenda darurat di lokasi pengungsian Balaroa, tetapi mereka tinggal menunggu perampungan pengerjaan hunian.

“Di situ itu (lokasi pengungsian Balaroa, red) hampir semua sudah tidak ada, yang masih kelihatan ada itu, mereka tinggal menunggu bantuan stimulan perumahan swadaya alias BSPS, ada pembelian tanah dan rumah, mereka tinggal menunggu itu,” jelas Lurah Rahmansyah, saat dihubungi, Sabtu 8 Agustus 2020.

Lanjutnya, dengan program BSPS, penyintas akan dibangunkan hunian tetap yang tahan gempabumi, selain itu, para penyintas juga mendapatkan bantuan dana untuk menyewa hunian, bahkan mendapatkan bantuan dana untuk perbaikan rumah penyintas yang rusak akibat gempa 28 September 2018.

Untuk diketahui, jumlah warga Kelurahan Balaroa yang mengungsi akibat bencana alam 28 September 2018, lebih dari 400 kepala keluarga. Selama di masa pengungsian, ada beberapa yang memilih tinggal di huntara sampai mendapatkan huntap di Kelurahan Tondo. Beberapa bulan lalu, sekitar 200 kepala keluarga yang masih bertahan di tenda darurat, mereka itulah yang mendapat bantuan dari CSR dari NGO untuk mendapatkan hunian layak.

“Yang bertahan di tenda itu, sebagian penyintas yang tidak terdaftar sebagai penerima huntap karena pada¬† saat bencana tidak memiliki rumah atau berstatus ngontrak, atau numpang di rumah keluarga. Namun, mereka tetap mendapat bantuan CSR dari NGO tersebut,” terangnya.

Reporter: Hakir
Editor: Yusuf Bj

Ayo tulis komentar cerdas