Home Senggang

Religius Bertopeng

42

DI KAMPUNG, ustaz muda itu dipanggil Ustaz Mile. Saya tidak tahu sejarahnya mengapa dia dipanggil Mile, sesungguhnya namanya yang benar adalah Ismail. Mungkin soal nama itu tidak penting untuk dibahas lebih jauh, toh ustaznya sendiri tidak memasalahkannya. Lagi pula bukan soal nama itu yang ingin dikisahkan, tapi soal Ustaz Mile yang dikontrak selama sebulan untuk ceramah agama di sebuah masjid di kampung yang lain. Letak kampung itu sekira 30 km dari kampungnya.

Di kampung itu ada tradisi menghadirkan ustaz untuk ceramah taraweh selama bulan ramadhan. Jadi yang ceramah tiap malam taraweh hanya satu ustaz. Agar pembahasan keaagamaannya Mile tema, maka tiap malam selalu hal baru disampaikan sang ustaz kepada jamaah masjid yang menghadiri salat taraweh. Sejumlah tema yang pernah diceramahkan saya masih ingat-ingat, misalnya jangan pernah menunda bersedekah, pentingnya salat duha, jangan melalaikan salat berjamaah di masjid, zikir adalah keutamaan seorang hamba. Namun ada tema yang tidak gampang untuk dilupakan oleh jemaah masjid, mungkin juga sebagian besar penduduk kampung itu, yakni jauhilah perbuatan zina mata.

Dalam ceramahnya malam taraweh itu bahasan Ustaz Mile tentang perbuatan zina mata sangat panjang. Begitu panjang dan lamanya, jamaah terlambat menunaikan salat taraweh. Menurut Ustaz Mile, banyak orang mampu menjauhi perbuatan zina yang sangat dilarang oleh Allah Ta’ala itu, tapi mendekati zina yang juga bagian dari perbuatan zina itu sungguh masih banyak orang yang tak mampu menjauhinya. Bahkan justru mendekatinya. Ustaz Mile memberikan contoh zina mata itu, katanya yang dimaksud zina mata itu adalah seorang laki-laki yang memiliki kesenangan memandang perempuan dengan sinar mata yang didorong hawa nafsu syahwat. Katanya, bukan hanya laki-laki yang memiliki sinar mata seperti itu, tapi perempuan pun banyak melakukan zina mata, misalnya dengan memandang lalu mengagumi penampilan dan ketampanan seorang laki-laki, hal itu juga termasuk zina mata.

Tema zina mata itu menjadi menarik, buktinya terus diperbincangkan oleh jemaah. Hingga selesai salat taraweh pembicaraan tentang zina mata itu menjadi candaan sesama jemaah di jalan-jalan pulang ke rumah masing-masing.


MENJELANG berakhirnya bulan ramadhan, saat itu masih pagi-pagi, saya mendatangi Ustaz Mile di rumah panggung yang memang khusus disiapkan untuk ditempatinya selama bulan ramadhan. Saya mengunjunginya untuk menanyakan bagaimana kesannya selama tinggal di kampung ini, terutama soal sambutan warga kampung.

Dengan pelan dan sopan saya menaiki rumah panggung itu yang tangganya masih memakai bambu. Akhirnya sampailah saya di depan pintu yang juga terbuat dari bambu. Tiga kali saya mengucapkan salam, tiga kali pula tak ada jawaban. Saya bertanya-tanya dalam hati, ke mana ya Ustaz Mile. Setahu saya dia masih di kampung ini, dia masih punya tanggung jawab ceramah taraweh tiga hari lagi. Karena saya yakin Ustaz Mile ada di dalam rumah, saya terus mengetuk pintu sambil mengucap salam. Namun tak ada jawaban, bahkan tidak ada tanda-tanda ada orang di Mile rumah. Saya pun berinisiatif mengintip ke dalam rumah melalui lubang kecil di pintu bambu itu. Betapa kagetnya saya, saya melihat Ustaz Mile berdiri sedikit bungkuk menghadap ke belakang rumah yang juga dindingnya terbuat dari bambu. Kelihatan sangat serius, sepertinya melihat setan atau pencuri. Karena tidak ada lagi keraguan akan beberadaan Ustaz Mile di dalam rumah, saya pun menggedor pintu dengan keras. Akhirnya Ustaz Mile membuka pintu.

“Oh…Pak Rum. Masuk, Pak. Maaf, saya baru buka pintu. Biasa, saya masih zikir di dalam kamar,” ujar ustaz Mile tersenyum gugup.

“Maaf, saya juga pagi-pagi mengganggu, Ustaz,” kata saya sambil minta izin ke kamar kecil sambil mengintip ke bagian belakang rumah.

Terlihatlah gadis-gadis kampung memakai sarung hingga ke bagian dada sedang mandi berdiri di sebuah sumur tua.

Inikah yang disebut religius bertopeng? Entahlah. (#)

Ayo tulis komentar cerdas