Home Artikel / Opini

Badai (Tak) Pasti Berlalu…

40

BADAI Pasti Berlalu. Hanya indah untuk sebuah judul film. Hanya ilusi. Hanya fatamorgana. Hanya utopia. Hanya harapan yang tak berjejak. Kini kapal besar itu terus oleng. Dihantam badai corona. Para penumpang kian hari kian cemas. Kehidupan tak mencerahkan. Optimisme makin terkikis. Entah kapan badai itu berlalu. Atau badai (tak) pasti berlalu…

Kebijakan berganti-ganti. Ramalan gaya dukun tentang puncak pandemi tak pernah menepati janji. Seakan sebuah nyanyian untuk anak kecil agar berhenti menangis. Korban terus berjatuhan. Sebulan terakhir ini, bukan lagi puluhan terpapar, tapi ribuan tiap hari. Rumah sakit penuh. Tenaga medis kewalahan. Bahkan mereka yang di barisan terdepan itu pun bobol. Sebanyak 69 meninggal dunia.

New Normal melahirkan dilematis. Pemerintah ingin mengambil kebijakan bijak. Perekonomian rakyat tetap hidup dengan mengizinkannya kembali bekerja. Syaratnya, tetap dalam pengawasan protokol: jaga jarak, cuci tangan, pakai masker. Apa yang terjadi? Banyak rakyat mengartikan new normal itu sebagai tanda dibukanya kran kebebasan. Kebebasan seperti dulu ketika makhluk kecil pembunuh itu belum datang membawa badai. Begitulah pengertian sebagian rakyat. Maka jangan heran; pasar ramai, mall ramai, jalan ramai, di mana-mana ramai. Protokol kesehatan diabaikan. Pengawas setengah hati. Hari ini disiplin menerapkan aturan secara ketat, tapi esoknya? Dan seterusnya. Lantaran itu jangan heran bila korban pun ramai.


KINI di tengah masyakat bermunculan spekulasi akan hadirnya virus pembunuh berdarah dingin itu. Di balik kenyataan tentang jatuhnya puluhan ribu orang yang terpapar, dan itu dapat dibuktikan secara medis, namun ada saja pihak-pihak tertentu yang menantang kenyataan itu. Dan jumlah mereka tidak sedikit. Keyakinan seperti inilah yang biasanya tak mempedulikan protokol kesehatan. Bahkan menantang protokol itu. Kalau pun mereka menjalankannya bukan karena kesadaran akan ancaman virus pandemi. Tapi sekadar mempertontonkan sebuah drama setengah hati.


ANCAMAN kematian dan kehidupan yang riuh, menjadi pemandangan keseharian. Korban terus bertambah. Kesadaran perlawanan terus melemah. Ibarat sebuah perang. Hampir tak ada perlawanan. Seakan-akan negara hadir sekadar menghitung korban, tiap hari. Mungkin karena musuh itu datang menyelinap dalam senyap. Diam-diam, tiba-tiba menyergap, lalu memuntahkan peluru ke dalam tenggorokan. Menembus paru-paru. Mati! (#)

Ayo tulis komentar cerdas