Home Donggala

Anggota DPRD Donggala Dilempari Botol

56
RICUH - Ketua Fraksi Nasdem DPRD Donggala Moh Taufik (duduk) saat didatangi massa aksi dari Desa Marana saat proses RDP sedang berlangsung Senin (27/7/2020). (Foto: Metrosulawesi/ Tamsyir Ramli)

Donggala, Metrosulawesi.id – Dua agenda rapat dengar pendapat (RDP) yang dilaksanakan DPRD Donggala Senin sore (27/7/2020) diwarnai insiden. Nyaris terjadi adu jotos.

Insiden pertama ketika RDP tentang guru yang dimutasi oleh pihak Dikjar dan BKPSDM. Saat itu, dua staf Humas, Rohit Perdana dan Ibrahim Noer tiba-tiba dibentak oleh anggota DPRD karena dinilai mengganggu jalannya RDP karena mondar-mandir melakukan perekaman dan pengambilan gambar di ruang sidang.

Teguran pertama Ketua Fraksi Nasdem Moh Taufik menegur dua staf humas yang berpakaian seragam ASN lengkap dengan kameranya.

“Ada undangankah ba shooting di sini. Begini, kami juga punya lembaga, darimana, janganlah mengganggu,” bentak Taufik.

Teguran Ketua Fraksi Nasdem dilanjutkan oleh anggota Fraksi PKS Alex. Menurutnya, staf Humas tersebut menjawab pertanyaan Taufik sambil berdiri.

“Pandang enteng kau e. Jangan main tunjuk-tunjuk, kau paham administrasikah,” tekannya.

Mendengar itu, dua anggota DPRD yang mulai naik pitam, Rohit salah satu staf humas akhirnya duduk sambil memberikan penjelasan. Dari pengakuannya, dia diperintah pimpinannya Kabag Humas Selfi untuk melakukan peliputan demo dan RDP guru. Tujuannya sebagai dokumentasi Humas.

“Maaf pak ketua, kami hanya diperintah atasan. Kami juga tidak mau datang ini kalau tidak diperintah. Kami hanya staf, jangan bategur begitu pak,” bantahnya.

Mendengar jawaban tersebut pimpinan sidang Takwin mengendalikan situasi dan memerintahkan kedua Staf humas tersebut keluar kemudian meminta Sekab Donggala Rustam Effendi yang hadir di RDP untuk menyelesaikan persoalan ini bersama Kabag Humas.

“Tolong keluar saja pak. Pak Sekab komiu nanti selesaikan persoalan ini bersama kabag Humas,”sebut Takwin.

Selang beberapa menit kemudian Ketua Fraksi Nasdem Moh Taufik dilempari air botol mineral oleh Kepala Desa Marana Lutfin Yohan. Aksi ini disebabkan kekesalannya yang menilai anggota DPRD banci dan layak memakai pakaian wanita berupa daster.

“Sampai kapan persoalan kami ini? Ingat Kalian semua dipilih oleh rakyat,” kesalnya.

Reporter: Tamsyir Ramli
Editor: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas