Home Ekonomi

1.726 Nasabah Bank Sulteng Terdampak Covid-19

56
TERDAMPAK CORONA - Direktur Utama PT Bank Sulteng Rahmat A Haris (kanan) saat berbicara pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) Bank Sulteng, Kamis, 23 Juli 2020 di Gedung Pogombo, Kota Palu. (Foto: Humas)

Palu, Metrosulawesi.id – Sebanyak kurang lebih sekitar 1.725 nasabah dari PT Bank Pembangunan Daerah (Bank Sulteng) yang sudah dievaluasi terdampak langsung akibat pandemi covid-19 atau virus Corona.

Hal tersebut diungkupkan oleh Dirut Bank Sulteng, Rahmat A Haris pada kegiatan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Tengah (Bank Sulteng) yang dilaksanakan di gedung Pogombo, Kamis (23/7/2020).

Rahmat A. Haris mengatakan jumlah kredit yang telah terealisasi kurang lebih sekitar Rp335.530.000.000. Dimana sampai dengan Juli 2020, debitur yang datang ke Bank Sulteng membutuhkan restrukturisasi hanya 231 nasabah.

“Dan kami telah melakukan itu dengan jumlahnya baru mencapai Rp22.815.000.000, jadi kami menyatakan nasabah masih bisa menjalankan usahanya di masa pandemi dari target yang kita anggap terdampak,” katanya.

Menurutnya, daerah ini tidak terlalu besar pengaruh karena covid 19. Lanjut dia, jika dikalkulasi potensi laba yang tidak didapatkan dengan adanya restrukturisasi ini adalah Rp209 juta per bulan.

“Potensi angsuran yang tidak kita terima ialah Rp812 juta per bulan. Tapi ini bukan hilang, melainkan ini akan mundur menjadi enam bulan kemudian baru bisa dibayarkan oleh customer. Insya Allah berjalan dengan baik dan tidak ada yang macet,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan pada Juni 2020 financial Bank Sulteng atau tingkat ukuran kinerja keuangan cukup tinggi 27,29 persen. Dimana rencana kerja juga menunjukkan capaian 23,46 persen.

“Kalau dilihat tingkat kesehatan bank, kita jauh dari batas minimum sekitar 12 persen. Kita masih dianggap sehat dari tingkat praktek di atas 18 persen,” sebutnya.

Artinya, kata dia, pemegang saham mendapatkan keuntungan 15,41 persen dari dana yang ditempatkan. Dalam hal ini jauh dari simpanan tabungan maupun deposito yang hanya kurang lebih 6 persen.

“Begitu pula dengan Return on Assets (ROA) atau aset juga memperlihatkan masih di atas. Kalau masuk ke initial public offering (IPO) kita sangat layak,” katanya.

Reporter: Fikri Alihana
Editor: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas