Home Artikel / Opini

Apa Arti Sebuah Kemarahan?

50

BIASANYA ramah. Senyum terkulum. Penuh hormat. Rendah hati. Ada keluguan. Gayanya biasa-biasa saja. Tak ada yang dibuat-buat. Tak ada yang istimewa. Tampaknya semua lahir dari kejujuran. Tapi siang itu, lewat televisi, jutaan rakyat menontonnya, tiba-tiba kaget. Benar-benar kaget. Mereka mendekat ke televisinya lalu menambah volume suaranya. Ada apa gerangan? Oh… Bapak Presiden kita, Jokowi, mempertontonkan sebuah wajah yang tak biasa. Raut wajahnya berkerut. Matanya memelotot.

Tangannya gemetar menunjuk-nunjuk. Seakan menuding-nuding orang di depannya. Suaranya meledak-ledak. Rupanya Jokowi yang dulu, dulu sekali, punya hobbi blusukan ke tengah rakyat lapisan bawah, itu sedang marah. Sangat marah. Marah sekali. Kepada siapa? Untung bukan kepada rakyatnya yang sedang menonton televisi, tapi kepada pembantu-pembantunya yang bergelar menteri, itu.
***
Di Negeri ini belum ada larangan untuk marah. Belum terdengar kabar ada orang marah lalu dilaporkan ke polisi. Kecuali kalau kemarahan itu disertai pemukulan atau tindakan fisik lainnya, ya wajar dilaporkan ke pihak berwajib. Karena itu untuk apa dipersoalkan atau diributkan ketika Jokowi marah dengan gaya kemarahan yang meledak-ledak itu disiarkan di televisi, berulang kali.

Memang, boleh jadi, inilah kemarahan terbesar–dilihat dari raut wajah, gemetaran tangan, dan sorot mata–Jokowi, sejak dia dipercaya menjadi nomor satu di republik ini. Meski tampaknya kemarahannya tak biasa, namun tentu ini masih dalam kewajaran. Bukankah dia marah kepada pembantu-pembantunya, mereka yang disebut menteri itu. Sama wajarnya seorang majikan memarahi pembantunya atau istilah kerennya asisten rumah tangganya. Kalau pun kemarahan itu dinilai tak wajar, tentu jika pembantu-pembantu itu tak memiliki kesalahan untuk dimarahi. Tapi ah masak ia, seorang presiden, begitu juga seorang majikan, tiba-tiba marah, begitu saja, tanpa perlakuan buruk pembantu-pembantunya.

Sesungguhnya rakyat senang dengan kemarahan yang sungguh-sungguh marah itu. Bukan kemarahan yang dibuat-buat, misalnya untuk pencitraan. Lagi pula untuk apa pencitraan itu, bila benar ada yang menuduh demikian, toh Jokowi sudah berakhir di periode kedua ini. Jadi tentu kita sebagai rakyat percaya bahwa kemarahan itu lahir dari niat baik. Agar pembantunya tidak hanya sekadar menyandang jabatan keren dengan penghasilan selangit, tapi juga bekerja dengan baik, dengan sunguh-sungguh, semua untuk rakyat.

Mengapa rakyat senang Jokowi memarahi pembantunya? Tentu, agar mereka yang jumlahnya puluhan itu bekerja dengan benar dan baik untuk mereka, rakyat. Lantaran selama ini dianggap belum benar dan baik. Lalu setelah sebulan lebih kemarahan itu mendengung ke seantero negeri, berubah baikkah pembantu-pembantu itu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, demi rakyat? Atas pertanyaan ini rakyat tak butuh jawaban kata-kata. Mereka butuh jawaban pembuktian dari kata-kata.

Soal marahnya seorang presiden kepada menterinya, Jokowi berbeda dengan Soeharto. Jokowi di depan sejumlah menterinya melontarkan kata-kata emosional. Bahkan mengancam akan meresafel kabinetnya. Raut wajahnya tegang. Soeharto tidak memilih gaya itu. Bila dia marah kepada menterinya, dia tetap memperlihatkan wajah kalem. Kadang senyum.

Padahal, boleh jadi, tak lama lagi menteri itu akan dipecat. Sulit melihat raut wajah kemarahan Soeharto di depan orang banyak. Refleksi kemarahan itu ke dalam, bukan ke luar. Entah di ruang kerja atau di istanahnya. Kita tidak paham.

Apa pun itu. Mau pakai gaya apa. Silakan. Rakyat berharap perubahan ke arah kesejahteraan memihak pada mereka. Jangan berhenti hanya pada kemarahan. Rakyat menunggu hasil dari kemarahan. Bila tak mendatangkan manfaat, jangan salahkan bila rakyatmu bertanya: Apa arti sebuah kemarahan? (#)

Ayo tulis komentar cerdas