Home Senggang

Mataku Kau Butakan, tapi Pikiranku Tidak!

46

SUBUH gerimis itu, usai bermunajat kepada Tuhan, engkau keluar dari masjid, lalu berlari-lari kecil menuju rumahmu. Hanya beberapa langkah lagi engkau sudah bisa menginjakkan kaki di teras rumahmu, namun tiba-tiba engkau terjatuh, tersungkur, terkapar, tak berdaya. Saat itu, di subuh yang masih pekat itu, seorang pengendera motor berboncengan, setelah menyiramkan cairan ke wajahmu, lalu menancapkan motornya dengan kencang, seperti gaya seorang begal yang berhasil merebut perhiasan korbannya. Tertawa puas melihatmu meringis kesakitan tak terhingga.

Kemudian engkau dirawat di rumah sakit milik negeri ini, belum juga memberikan tanda-tanda kesembuhanmu. Engkau pun dibawa ke rumah sakit luar negeri. Tragis, engkau dinyatakan oleh dokter telah terkena siraman air keras. Dan sebelah matamu tak mampu lagi melihat hingga akhir hidupmu di dunia ini. Engkau pun menyandang gelar sebagai lelaki bermata satu.

Siapakah lelaki tragis itu? Akhirnya kita kenal sebuah nama: Novel Baswedan. Spekulasi pun bermunculan, siapa gerangan dua orang yang telah kehilangan hati nurani itu? Tidak berhenti sampai di situ. Siapa dalang di balik tragedi yang telah hilang rasa kemanusiaannya itu? Dalam novel karya Mochtar Lubis yang berjudul “Harimau! Harimau!” mengandung makna bahwa setiap orang berhak disebut manusia jika mampu mengalahkan harimau yang ada dalam dirinya. Tentu, mereka yang terlibat atau sepaham dengan tindakan penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan itu, bagi Mochtar Lubis, adalah orang yang memelihara harimau dalam dirinya.
*
SETELAH sekian tahun spekulasi itu menyebar di negeri ini, bahkan dunia ikut prihatin, kita pun dikagetkan dengan munculnya dua pemuda yang berprofesi sebagai polisi, Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette, mengaku mereka yang menyiramkan air keras ke wajah Novel Baswedan. Saat ditangkap oleh petugas kepolisian, di depan wartawan, seorang di antaranya mengangkat kepalan tangannya dengan wajah “bangga” sambil berteriak merendahkan kepribadian Novel Baswedan.

Lengkap sudah. Meski telah melakukan kejahatan terang-benderang, dan kehilangan kemampuannya melawan harimau dalam dirinya, namun tetap saja berkeinginan disebut pahlawan. Padahal sejujurnya mereka adalah pecundang yang telah menodai citra keagungan profesi POLRI, Polisi Republik Indonesia.

Dan akhir-akhi ini, masih berkaitan dengan tragedi itu, tiba-tiba pihak kejaksaan melawan akal sehat rakyat banyak. Lembaga penegakan hukum itu hanya menuntut satu tahun penjara kepada pelaku yang telah merencanakan penganiayaan berat yang menyebabkan salah satu mata korbannya buta. Ya, buta! Kita pun sadar apa arti sebuah perlawanan menghadapi orang-orang yang disebut ahli hukum itu. Rakyat hanya berpijak pada hukum hati nurani dan akal sehat. Mereka tidak paham apa itu pasal-pasal. Mungkin karena itu seorang Novel Baswedan yang selama ini dikenal sebagai penyidik dari KPK–yang menolak bentuk kompromi–dalam memburu para koruptor, meski pun itu dari lembaga kepolisian, lembaga asalnya, meminta kepada penegak hukum yang menangani pelaku yang membutakan matanya itu untuk membebaskannya saja!

Tragedi Novel Baswedan adalah setitik noda negeri ini. Boleh jadi suatu waktu terlupakan, namun sejarah mencatatnya, bahwa hukum yang engkau agungkan untuk melahirkan keadilan, hanyalah sebuah museum buku tua yang mengagumkan untuk dipandang dan dibaca, bukan untuk dirasakan dan dinikmati! “Mataku kau butakan, tapi pikiranku tidak.” Novel Baswedan kini terus memburu tikus-tikis rakus… (#)

Ayo tulis komentar cerdas