Home Inspirasi

Raja Wartabone Dalam Relasi Sosial-Politik Bugis, Suwawa dan di Lembah Sulawesi Tengah (1)

106
ILUSTRASI - Pejuang. (Foto: Ist)

Oleh: Muhlis Hadrawi

SECARA historis, terciptanya relasi sosial-politik Bugis dengan penduduk di kawasan Sulawesi bagian tengah pada masa lampau tidak dapat dipisahkan dari tradisi rantau (bugis=sompe’), di samping hubungan politik antarkerajaan. Hubungan sosial yang baik tercipta dalam masa yang panjang kemudian menghasilkan kerjasama, terutama bidang ekonomi, yang saling membutuhkan kedua belah pihak.  Meskipun demikian, satu hal yang lebih penting untuk diketahui,  bahwa hubungan sosial dan ekonomi itu kemudian menciptakan pergaulan sosial hingga mewujudkan perkawinan. Itulah sebabnya sehingga terangkai hubungan kekerabatan antara orang Bugis dengan penduduk asli di tanah rantau, seperti di wilayah Gorontalo, tidak terkecuali di  kawasan Sulawesi Tengah.

Sumber-sumber yang mendukung fakta integrasi sosial dan kekerabatan antara orang Bugis dengan suku bangsa di Sulawesi Tengah,  tercermin di dalam tradisi lisan (oral tradition) dalam masyarakat Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Tradisi lisan yang sama terdapat pula di dalam masyarakat Bugis, bahkan tercatat pula pada dokumen tradisional yang disebut lontara. Naskah-naskah lontara Bugis  secara tersurat telah menunjukkan hubungan kekerabatan antara orang-orang Bugis Bone dan Luwu dengan masyarakat di kerajaan Suwawa Gorontalo. Bukan saja di Gorontalo, naskah-naskah Bugis juga mengungkapkan integrasi kekerabatan dengan Kaili, Ampana, Parigi, dan Tojo di Sulawesi Tengah. Hubungan kekerabtan itu diprediksi tercipta sejak abad ke-17.  

Sebenarnya, indikasi hubungan itu boleh jadi lebih awal melalui narasi mitologi yang  menunjukkan kesan bahwa hubungan  antarkawasan Sulawesi Bagian Tengah dan Sulawesi Selatan sudah tercipta kira-kira sejak abad ke-14 atau 600 tahun lampau. Diprediksi bahwa hubungan antarkawasan di Sulawesi Selatan dan Tengah  itu sejak abad ke-14 tampaknya terus-menerus  menanjak hingga memasuki masa kolonial abad ke-18 dan 19.

Hubungan Awal Bugis dan Sulawesi Bagian  Tengah

Cerita-cerita sejarah atau folk history menunjukkan indikasi yang sangat kuat adanya keterkaitan sosial-politik antara kawasan Sulawesi Selatan dan Gorontalo semenjak periode La Galigo di Sulawesi Selatan. Indikasi terawal yang dimaksudkan itu tidak lain  adalah hubungan antara Luwu dan Suwawa yang terabadikan melalui teks sastra sejarah yang beredar secara terbatas masyarakat Suwawa  yang  dikenali sebagai sebuah kerajaan tertua di Gorontalo (Riedel, 1885:495-528). Cerita yang dimaksudkan itu mengisahkan peristiwa ketika perahu Rawe, saudari Sawerigading, yang berlayar dari perairan Luwu menuju kawasan utara Sulawesi. Ceritanya mengungkapkan perahu yang ditumpangi Putri Rawe tiba-tiba terkandas pada sebuah perairan  bernama Tinonggihia. Toponimi Tinonggihia itu sudah termasuk dalam dalam peta kerajaan Suwawa. Raja Pinogu yang memegang tampuk pemerintahan pada masa itu dikenali dengan nama Mooduto. Mooduto akhirnya menaruh perhatian atas nasib yang dialami Rawe. Beliau dengan penuh perhatian memberikan pertolongan, menyambutnya dengan senang hati atas kedatangan  Putri Luwu  di Pinogu.

Kisah kedatangan Rawe di Pinogu tersebut kemudian menjadi tonggak yang mengawali awal perkenalan dan integrasi antara Bugis dan Suwawa. Pertemuan itu kemudian  menciptakan hubungan perkawinan antara Mooduto sebagai Raja Pinogu  dengan I Rawe Putri Bugis. Buah dari perkawinan itulah kemudian merangkaikan tali kekerabatan  antara bangsawan istana Pinogu dengan perantau bangsawan Bugis, melahirkan anak-cucu pewaris kepemimpinan di istana kerajaan Suwawa.

Kedatangan I Rawe di Pinogu, tidak sekadar disambut manis oleh Raja Pinogu; bahkan sang Putri diinisasikan menjadi Ratu pertama di Bonda. Lagi-lagi Putri Rawe dikukuhkan pula sebagai raja di  Bondadaa atau ‘Bone Besar’. Rupanya, pertalian darah bukan saja melalui jalur I Rawe, tetapi putri-putri pengawal I Rawe yang menyertainya kemudian kawin-mawin pula dengan putra-putra negeri Bonda. Nani Tuloli (dalam Enre, 2003: 80) menyimpulkan cerita itu sebagai peristiwa yang menjadi narasi yang menunjukkan cikal-bakal terbentuknya masyarakat  Bondadaa atau Bonedaa.  Dalam konteks itulah membuka ruang sosial yang mendasari terciptanya hubungan darah antara  Suwawa yang merepresentasikan  kerajaan  Suwawa di Gorontalo dengan Luwu sebagai kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan.

Argumentasi Tuloli (2003)  dapat meyakinkan kita bahwa, mitos kedatangan I Rawe di Bondadaa itu sesungguhnya merupakan kode sosial-budaya yang memaknakan hubungan  antara kedua suku bangsa antara Bugis dan Gorontalo sejak masa lampau. Cerita itu lagi-lagi memberi gambaran  dengan jelas bahwa ada keterkaitan  antara keturunan raja-raja Gorontalo dengan raja Bugis. Perihal keberadaan Bugis di Gorontalo, Pelras (Archipel 21, 980) menyatakan bahwa, terdapat sebuah toponimi di Gorontalo yakni kerajaan yang bernama Wadeng. Konteks nama Wadeng dalam teks epik La Galigo dideskripsikan sebagai sebuah negeri yang menjadi tempat persinggahan pangeran Bugis bernama Sawerigading  manakala ia berlayar ke pelbagai tempat di Nusantara seperti ke Taranati (Ternate),  Sama, Maloku (Maluku), dan Tompotikka.

Tuloli (2003) memandangnya dari perspektif sejarah dengan menyimpulkan, ada enam aspek yang terpaut dengan terciptanya jalinan sosial Gorontalo-Bugis, yaitu: 1) hubungan perkawinan; 2) hubungan antara keturunan raja-raja; 3) hubungan kepentingan kerajaan; 4) hubungan antara masyarakat kedua suku itu; dan 5) hubungan keagamaan; dan  6) hubungan perdagangan.

Selain Gorontalo, indikasi hubungan Bugis sudah terjadi juga dengan masyarakat di Sulawesi Tengah masa pra Islam. Salah satu contoh yang dinyatakan Adriani (1901, jil.1, 48-57), terdapat cerita yang beredar di kalangan masyarakat setempat yang mengungkapkan bahwa nenek moyang raja Sigi, Pangi, Wotu, dan Toyo memiliki  hubungan kerabat dengan Sawerigading sebagaimana karakter tokoh yang dikenali berdasarkan teks epik La Galigo. Demikian pula wilayah lainnya seperti Kulawi juga menyimpan mitos  tradisional setempat yang mengukuhkan asal-muasal nenek moyang raja Kulawi yakni dengan tokoh pendatang dari negeri Bugis  (Wawancara dengan Jore Pamei, 2015).

Di lembah Palu, terdapat mitos ‘Gunung Kavole’ yang beredar di kalangan masyarakat Balaroa yang mengukuhkan asal-usul kekerabatan dan hubungan sosial-politik antara kerajan kawasan Sulawesi bagian Tengah dan kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan. Kisah ‘Gunung Kavole’ dimitoskan sebagai fosil perahu Sawerigading yang tertelungkup yang telah menjadi tanah.

Di Parigi ditemukan folk history yang mengisahkan sebuah tempat yang disebutkan tanabangkala’  yang disimbolkan sebagai ‘regalia’ kerajaan Parigi. Kata tanabangkala’  dalam masyarakat Balaroa secara utuh adalah  kosa kata yang dikenal pada bahasa Bugis yaitu tana+bangkala’ yang artinya merujuk makna dan konteks yang sama, yaitu tanah pusaka kerajaan. Tanah tanabangkala’ memiliki ciri-ciri yaitu berwarna kuning dan biasanya tidak ditumbuhi sesuatu apa pun di atasnya. Di dekat Tanabangkala’ terdapat sebatang pohon asam besar nan rindang. Konon pangeran Bugis Sawerigading  dari Luwu yang legendaris itu pernah mengadakan pesta sabung ayam di atas Tanabangkala’ wilayah Parigi tersebut (Enre, 1992).

Teristimewa terhadap kerajaan Kaili, tak luput pula menunjukkan hubungan dengan kerajaan di Sulawesi Selatan terutama di abad XVI berdasarkan teks-teks lontara. Lontara mencatat sebuah peristiwa yang berkenaan dengan hubungan politik Bone dan Kaili, dimana raja Bone, La Tenrirawe Bongkangnge (1568-1584), pernah mengirimkan tentaranya untuk membantu raja Kaili memadamkan pemberontakan yang terjadi di dalam negerinya. La Tenrirawe Bongkangnge, yang dikenali ahli strategi berperang, bersepadu dengan raja Soppeng, Matinroe  Risalassana, mengerahkan armada tentara (passiuno) Bugis dan Mandar menuju Kaili di bawah komando Raja Balannipa bernama I Tomatindo To Dialumpa. Lontara Bone mengabadikan peristiwa ini dengan menuliskan kisahnya, bahwa balatentara Samparaja Bone bersama prajurit Soppeng dan Balannipa bergerak dari Mandar menuju utara di Kaili membawa misi bantuan kepada kerajaan Kaili untuk menumpas pemberontakan di dalam negerinya.

Hal yang dikemukakan di atas menunjukkan kepada kita bahwa antara Sulawesi Selatan  dan kawasan Sulawesi Tengah telah tercipta hubungan sosial dan politik sejak sekian abad lampau. Hal yang lebih jauh dan lebih penting untuk dipahami bahwa, hubungan tersebut rupanya diikuti dengan kawin-mawin antara satu dengan lainnya sehingga Bugis menciptakan pertautan darah atau kekerabatannya di kawasan tengah Sulawesi. Hubungan sosial-politik yang ada itu rupanya terus-menerus  terjalin hingga memasuki abad XVII bertepatan masuk dan berkembangnya  Islam di Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. 

Perihal kehadiran Islam di Lembah Palu khususnya di Kaili pada tahun 1650 misalnya,  tidak terlepas dari peranan atau keterlibatan para muballiq  dari yang pada masa itu digalakkan oleh Abdullah Raqi  alias Dato Karama yang datang bersama 50 orang pengikutnya. Hal yang tidak boleh dilupakan terkait gerakan Islamisasi di Lembah Palu saat itu adalah, bahwa kedatangan ulama-ulama Melayu dari Sumatera dengan urusan pengislaman melalui jalur pelayaran yang bertumpu dari pelabuhan Sulawesi Selatan menuju utara. Orang-orang Bugis dan Makassar  adalah bagian penting kelompok Abdullah Raqi itu terlibat langsung sebagai anggota yang menjalankan proses Islamisasi  di Lembah Palu.  Keberadaan orang Bugis dan Makassar ditandai pada nama-nama muballiq dalam rombongan Abdullah Raqi, di antaranya adalah Ince Jille, Ince Saribanong, Ince Dongko,  Daeng Puji, Daeng Limpo,  Daeng Baji, Daeng Manamba, Jamalauddin Daeng Koji, dan Daeng Ucu.  Nama-nama orang ini sebahagian dari kalangan orang-orang Bugis –Makassar yang ditandai dari segi kode khas namanya misalnya Ince dan Daeng.

Dokumen Bugis yang disebut  lontara koleksi Brtish Library kode ADD 12354 menyebutkan seorang nama seorang tokoh penting yaitu La Bunue. Naskah ini diperoleh dalam bentuk salinan foto copy pada tahun 2001 dari seorang kawan yang kuliah program doctor di Hull University. Nama La Bunue patut dicatat sebagai pribadi yang membentuk jaringan dasar politik Bugis (Bone) dan Suwawa Gorontalo. Nama La Bunue tercatat dengan jelas di dalam naskah lontara itu yang berupa catatan harian raja.

La Bunue Dalam Kesaksian Lontara

Naskah Lontara (ADD 12354) menyebutkan bahwa nama La Bunue sebagai tokoh yang menciptakan dasa jaringan kekerabatan antara Sulawesi Selatan dengan Sulawesi bagian tengah.  Nama La Bunue inilah yang kemudian menjadi sebuah gelaran khusus yaitu Wartabone. Kata ‘Wartabone’ yang selama ini dikenal dalam kerajaan Suwawa sebenarnya dalam perspektif bahasa Bugis adalah kata sapaan yang khas dari logat bahasa Bugis yaitu Aruttabone (Raja Bone kita). Nama Aruttabone kemudian tertansformasi menjadi sebuah nama gelaran menjadi ‘Wartabone’.

Wratabone adalah sosok tokoh yang penting hidup di akhir abad ke-18 hingga awal ke-19. Beliau kemudian dikenali sebagai raja Suwawa Gorontalo, yang rupanya di dalam tubuhnya mengalir darah  bangsawan Bugis dari kerajaan Bone.

Di dalam sebuah catatan harian yang disebut Lontara Bilang, nama Wartabone ditemukan keberadaannya berikut aktivitas ketika berada di Makassar pada penghujung abad ke-18. Kisah Wartabone diuraikan, ia berlayar dari Suwawa menuju tanah leluhurnya di negeri Bugis. Setelah menempuh pelayaran selama sekian lamanya, ia kemudian mendaratkan perahunya di Makassar. Konon dikisahkan beliau datang ke Makassar untuk sebuah urusan khusus. Ketika ia tiba dengan perahunya, ia kemudian langsung menghadap kepada raja Bone La Tenritappu di istana Rompegading. Ketika menghadap beliau menyebutkan bahwa dirinya datang dengan maksud untuk mengurus keluarga yang menghadapi masalah hukum. Namun,  kedatangannya tidak terlepas dari urusan untuk memperoleh dukungan politik dari kerajaan Bone sebagai kuasa Sulawesi Selatan pada masa itu.

Sesuai penanggalan di dalam lontara, kedatangan beliau adalah pada tahun 1781. Pada kesempatan kunjungan La Bunue di istana Rompegading di Makassar itu,  beliau pun juga mamanfaatkan waktunya dengan menimba ilmu agama (Islam) kepada Kadi  kerajaan.  Waktu beliau cukup lama berada di Makassar yakni selama 22 tahun dan bertempat tinggal di  Rompegading. Sejak kedatangannya tahun 1781 ia benar-benar tinggal menetap dengan sekian banyak aktivitasnya terutama dalam urusan agama. Barulah beliau dicatat meninggalkan Makassar yakni pada  tahun 1803 dengan berlayar kembali ke Sulawesi Tengah.

Kepulangan beliau langsung menuju wilayah Sulawesi Tengah. Sebagai tanda legitimasi dan sekaligus menandai kalau ia bukanlah orang rendahan, melainkan ia bangsawan, maka ia dilegitimasi selembar sertifikat yang dibubuhi stempel Raja Bone. Sertifikat itu menjadi dasar legitimasi politik dan kekuasaan yang diperoleh La Bunue dari Raja Bone bernama La Tenritappu Sultan Ahmad as-Saleh (1775-1812).

Ketika mendarat di negeri tujuannya, La Bunue pun memulai sepak terjangnya di bidang politik. Ia mulai merintis karier politiknya dari tahap ke tahap hingga mencapai taraf yang tinggi. Demikianlah, sehingga dalam catatan hidupnya, selain beliau dikenali sebagai aristokrat ulung di tiga wilayah yaitu  Tojo, Ampana dan Bokang,  La Bunue kemudian bergeser ke kerajaan Suwawa. Di sanalah di Suwawa  kemudian dikenali dengan nama gelaran yaitu Wartabone yang artinya “tuan kita dari Bone”. Beliau serta-merta  menjadi penguasa di kerajaan Bone Suwawa. Tak sekadar itu saja, ia pun tampil menjadi sosok sufi dalam jaringan Khalwatiah yang  sanadnya bersumber dari Syekh Yusuf al-Makasari al-Kkhalwaty. Itulah sebabnya sehingga kehidupan La Bunue menampilkan dua sosok sekaligus yaitu sebagai aristokrat yang berwibawa dan seorang sufi kharismatik. 

Pada abad XXI ini, selain terangkai kekerabatan marga Wartabone yang sangat luas, beliau juga mewariskan spirit kepemimpinan kepada anak-cucunya yang menyandingkan spritualitas Islam. Apa dan bagaimana sejarah sosok Wartabone itu sebagai pribadi yang memiliki kaitan sosial-politik dengan Sulawesi Selatan  berdasarkan sumber tertulis yaitu lontara. Sebelum menjawab pertanyaan di atas, lebih awal akan diuraikan jejak awal hubungan Bugis dan negeri-negeri kawasan Sulawesi Bahagian  Tengah.

Legalitas  Istana Bone kepada La Bunue

Lontara Surat Raja Bone yang tersimpan di Desa Bolano. (Sumber: Maumbu 1984, lamp. ke-2 dan Haliadi thn 2016)

Sebuah pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana hubungan antara kawasan Gorontalo dan Palu  dengan Sulawesi Selatan pada abad ke-18 & 19  yang masa itu kerajaan Bone sudah wujud sebagai  penguasa di Sulawesi Selatan? Sebagai jawaban awal, perlu dikemukakan bahwa kawasan  Gorontalo dan wilayah Sulawesi Tengah terus-menerus menjalin hubungannya dengan Sulawesi Selatan, baik segi sosial, ekonomi, maupun segi  politik dari waktu ke waktu.

Sejarah telah mengukuhkan bahwa nama Wartabone adalah sosok terpenting  yang merepresentasikan politik dan genealogi antara kerajaan Bugis dengan kerajaan-kerajaan di Gorontalo terutama Bone Suwawa dan kerajaan di kawasan tengah pulau Sulawesi lainnya. Fakta sejarah menunjukkan kalau nama Wartabone yang dikenali masyarakat luas adalah seorang bangsawan berwibawa dari kerajaan Suwawa, tidak lain beliau adalah seorang bangsawan tinggi yang memiliki hubungan darah Bugis dari Bone.  

Salah satu sumber pribumi berupa surat  kuno berbahasa Bugis memberikan keterangan  siapakah sosok dan asal-usul nama Wartabone yang kharismatik itu. Surat beraksara lontara dalam bentuk salinan, kolofon atau data penulisannya  menunjukkan surat itu berasal dari istana Bone yang berada di Rompegading. Rompegading adalah lokasi dimana istana Raja Bone La Tenritappu berada yang areanya berada di wilayah Makassar atau Tallo. Surat itu  ditulis oleh Tomarilaleng sebuah jabatan dalam sistem pemerintahan kerajaan Bone yang tugasnya setara dengan Menteri Dalam Negeri. Surat ditulis atas titah Raja Bone La Tenritappu untuk diberikan kepada La Bunue yang akan berangkat ke utara. 

Manuscript  berupa surat tersebut ditemukan oleh Mohammad Maumbu pada tahun 1984 atas bantuan informasi Rustan Salihu, seorang tokoh masyarakat Bolano. Fisik suratnya tampak masih terawat dengan baik; alas tulisnya dari kertas folio, walaupun kertasnya sudah tidak utuh lagi. Lembaran kertasnya nya terbelah dua yang alurnya mengikuti garis lipatan kertasnya. Jika menempelkan sisi kedua belahan kertas yang terlepas itu, maka tulisannya akan menyatu dan teksnya terbaca lengkap. Pada bagian tengah-atas muka suratnya  terdapat cap (stempel) resmi Raja Bone Ahmad al-Saleh. Cap itu menjadi penanda kalau surat itu adalah surat resmi yang dikeluarkan dari istana Bone. Fisik surat atau sertfiikat beraksara lontara dari Raja Bone tersebut dapat terlihat pada gambar berikut di bawah ini.

Teks surat terdiri dari 10 baris, terdapat data kolofon yang menunjukkan  waktu penulisan surat yaitu pada hari Jum’at 16 Sya’ban tahun 1220 Hijriah atau setara 1803 Masehi. Dokumen surat Bugis yang beraksara aksara lontara menggunakan aksara yang sama dengan aksara yang pada umumnya digunakan dalam manuskrip Bugis, seperti attoriolong (historiografi) Bone, Soppeng, Wajo, Luwu, Gowa, Tanete, Sidenreng, Suppa, Sawitto, dan kerajaan Bugis dan Makassar lainnya. Aksara surat itu pun sama dengan aksara lontara yang digunakan di dalam naskah-naskah  La Galigo.  

Adapun kandungan teks surat itu dapat dikenali sebagaimana yang terbaca pada transliterasi dan terjemahan teks yang disajikan sebagai berikut.

 “Uwéréngngi  ca’  La Bunué mukka’ uturunana  nréwe’   ri wanuanna/ Napogau’i  Ade’Abiasanna/ ri tanaé ri Boné/ Narékkuwa engka gau’ nasaléwe’/ nangkanaé  Ca’ku-

Appatenning/ aja’ nari bawampawang rialempurenna/ nigi nigi bawampawangi tanaé tu ri Boné nagau’ bawang/ Narékkuwa maggéngké mupi / Nréwe’ ri wanuwanna La Bunué/ Saba’  élona Surona Boné  paréwe’i/  Iyanatu mapping monroéri Tojo/ Enrengngé ri Yampana / Kuwaé topa ri Bokang/ Uélorang/ silaongngi/ Enrengngé/ messeriwi/  Namukka?passurona  Boné/Silaong Arumpone/Nariuki sure’ éwé ri essona JUMAT é/ ri seppulona enneng ompona/ uleng Zulkaiddah/ ri 1220  hijerana SALLALLAHU ALIHI WASALLAM na taung Ha/ Naiya Mukiéngngi sure’éwé/ Passisié Arung Pasémpe’/ La Pakkanynyarang/ Namukka’ passurona”

(Saya memberi surat bercap pada La Bunué manakala Saya merestuinya pulang ke negerinya untuk menjalankan adat kebiasaannya di Tanah Bone/ Apabila ada perkara yang dihadapinya, maka Capku inilah yang dipegang agar  dia tidak disanggah atas kejujurannya/ Barang siapa yang berbuat semena-mena terhadapnya, maka sama saja Ia menentang Bone/ Dia diberikan kekuasaan atas kembalinya ke negerinya dengan mandat sebagai Suro (utusan) Bone / Dialah yang kekal akan berkuasa raja di Tojo, di Yampana, dan Bokang/  Aku harapkan surat ini mengesahkan bahwa dirinya adalah utusan (Suro) Bone dan mewakili Raja Bone/ Surat ini ditulis pada hari JUMAT tangal 6 Dzulqaidah, tahun 1220 Hijriah Sallahu Alaihi Wasallam tahun Ha/ Adapun yang menulis surat ini adalah Arung Pasempe’ La Pakkanynyarang di atas Daulatku) (*)

Ayo tulis komentar cerdas