Home Politik

Cudy Bernostalgia di ‘Kampung Ringgit’ Una-Una

80
Calon Gubernur Sulteng Rusdy Mastura menyusuri Kampung Ringgi di Kecamatan Una-Una. (Foto: Ist)

Touna, Metrosulawesi.id – Gunung Colo mengamuk sekitar tahun 1983, erupsi dan letusan disertai gempa bumi itu adalah akhir dari cerita kejayaan “Kampung Ringgit”.

Seluruh warga se Kecamatan Una-Una mengungsi ke Ampana. Semua harta benda ditinggalkan. Kota dan jalan lingkar sepanjang 30 kilometer mengalami downlitf menelan seluruh peradaban penghasil kopra terbaik di Asia Tenggara tersebut.

Demikianlah se cuplik pengisahan dari Rusdy Mastura. Kala itu bersama para aktivis di bawah bendera Pemuda Pancasila, Rusdy Mastura membawa misi kemanusiaan ke Pulau Gunung Colo.

“Saya naik kapal kayu dari Parigi bersama Yapto dan lain-lain. Suasana mencekam, pantat kapal dihantam ombak dari belakang,” aku Rusdy Mastura.

Pulau Una-Una bagi Rusdy Mastura adalah sebuah Kota Tua yang bersejarah. Peradaban dan kemasyuran agraris Una-Una telah melahirkan sederet nama dan tokoh nasional, semisal Kasim Latjuba yang pernah menjabat Duta Besar, kakek dari artis Sophia Latjuba. Bahkan Gubernur anak negeri pertama Sulawesi Tengah Galib Lasahido, putra Una-Una.

“Pulau Una-Una ini adalah sebuah daerah bersejarah, penuh kejayaan dan kepahlawanan. Ini adalah Pulau yang pernah di kunjungi Cokroaminoto,” ungkap Cudy—sapaan akrab Rusdy Mastura.

Diuangkapkan Cudy, Una-Una dan Kepulauan Togean secara keseluruhan adalah bagian dari segitiga coral dunia. Daerah ini bukan saja indah dan mempesona tetapi memiliki khazanah sejarah yang cukup hebat.

ILUSTRASI – Gunung Colo. (Foto: Ist/ ant)

“Walea adalah nama yang diambil dari Wallacea. Dari sini korespondensi surat menyurat antara Charles Darwin dan Wallacea melahirkan teori evolusi dan seleksi alam yang diterbitkan dalam buku On Spesies,” urai Cudy.

Dua desa, Cendana dan Binanguna yang kini dihuni kembali, merupakan sisa-sisa peradaban kejayaan Una-Una sebagaiKkampung Ringgit.

Rusdy Mastura mengunjungi daerah ini dan melakukan dialog mendalam dengan sejumlah masyarakat setempat. Kesaksian warga terkenang oleh satu harapan untuk kembali bisa sejahtera di tanah subur tersebut.

“Dahulu orang Malaysia sering datang ke sini berdagang kopra. Tradisi Melayu Islam cukup kuat mempengaruhi daerah ini,” ujar Salam, warga Desa Cendana.

Una-Una dulu adalah sebuah ibu kota kecamatan yang memiliki pelabuhan sebagai kota bandar di Teluk Tomini. Para saudagar pemilik kopra melakukan perdagangan ke Pulau Jawa hingga ke Asia Timur.

“Tahun 70-an sudah ada mobil landcruiser disini,   bahkan di Ampana belum ada. Bisa dilihat peningggalan rumah-rumah besar dan mewah masih ada,” kata Salam.

Bak arus balik, Cendana yang dikenal sebagai Kampung Ringgit, sebuah ibu kota kecamatan yang masyur dari sisa perkebunan kelapa jawatan kolonial Belanda, kini tinggal menjadi sebuah desa bernama Cendana dan Binaguna, sebagai dampak dan traum pasca ledakan Gunung Colo tahun 1983. (*)

Ayo tulis komentar cerdas