Home Inspirasi

Biografi Muhammad J. Wartabone (2)

119
Muhammad J. Wartabone.

MUHAMMAD  J. Wartabone adalah senator yang mewakili masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah pada Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia untuk masa bakti 2019-2024. Masyarakat provinsi tersebut memberikan amanah kepadanya setelah Muhammad J. Wartabone menyelesaikan tiga periode masa baktinya sebagai Anggota pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu.

Selama masa baktinya mewakili masyarakat di Kota Palu, seperti yang sudah umum terjadi, cukup banyak intrik politik yang menguji keistikamahannya menjalankan amanat rakyat. Berangam intrik-intrik telah menguji keistikamahan hingga membentuk mentalitas komitmen dalam bidang sosial dan politik dari seorang Muhammad J. Wartabone yang berlatar belakang santri.

Sebagai pribadi yang pernah menimba ilmu pengetahuan agama Islam di pondok pesantren, Muhammad J. Wartabone menghadapi intrik-intrik politik dengan pemahaman bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah SWT, senantiasa menitipkan hikmah di balik setiap ujian yang menimpa hamba-Nya. Salah satu di antara sekian banyak hikmah yang dipelajarinya adalah terbinanya kembali jalinan silaturahim antara Muhammad J. Wartabone dengan segenap keluarga besar Raja Wartabone di Gorontalo tanpa melupakan tanah kelahirannya di Kabupaten Sigi serta kewajibannya untuk mengabdikan diri bagi masyarakat di Provinsi Sulawesi Tengah. Berikut lanjutan  tentang perjalanan anak santri menjadi senator di menuju DPD RI untuk masa bakti 2019-2024.

Muhammad  J.  Wartabone:  Sanad  Ilmu  yang  Bersambung Melalui Ulama Terkemuka di Tanah Air

Sebagai anak dari murid Guru Tua yang mengabdikan seluruh hidupnya demi menyebarkan ajaran agama di tengah-tengah umat Islam di Sulawesi Tengah, Muhammad J. Wartabone telah terbiasa dengan dasar-dasar ajaran agama sejak usia dini. Beranjak remaja, Muhammad J. Wartabone memulai pendidikan formalnya pada Madrasah Ibtidaiyah Alkhairaat Kulawi yang didirikan oleh ayahandanya, Jarudin, bersama dengan Ustaz H. Sa’id bin ‘Awadh ‘Abdun. Setelah menamatkan pendidikannya di madrasah tersebut, oleh ayahnya, Muhammad J. Wartabone didaftarkan sebagai santri di Pondok Pesantren Alkhairaat Dolo yang juga diasuh oleh murid Guru Tua yang berasal dari Bungku, Kabupaten Morowali, yakni Ustaz K.H. Syu’aib Bandera.

Ustaz K.H. Syu’aib Bandera.

Ketika nyantri di Pesantren Alkhairaat Dolo, Muhammad J. Wartabone seringkali diajak oleh Ustaz Syu’aib Bandera untuk ikut berkumpul di tengah keluarganya. Mengingat Ustaz K.H. Syu’aib Bandera menikah dengan Hj. Zainab Latopada, Muhammad J. Wartabone terbiasa berkumpul dengan keluarga besar Latopada yang pada umumnya bermukim di Desa Kotarindau, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Untuk menambah bekal pengetahuan agama yang telah ia dapatkan di Pesantren Alkhairaat Dolo, Muhammad J. Wartabone dibawa oleh ayahnya ke Kota Malang, Jawa Timur, untuk didaftarkan sebagai santri di Pesantren Daruttauhid Malang yang didirikan oleh al-Ustaz al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun.

Al-Ustaz al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun.

Al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun merupakan “titik kumpul” dari otoritas keagamaan milik sejumlah ulama terkemuka, terutama dari kalangan habaib, di Indonesia pada abad ke-20. Dilahirkan dan menghabiskan masa kanaknya di Desa Pelawa, Kecamatan Parigi, Provinsi Sulawesi Tengah, al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun merupakan salah seorang murid kesayangan dari Guru Tua ketika masih menimba ilmu agama di Madrasah Alkhairaat.

Al-Habib ‘Idrus bin Salim al-Jufri (Guru Tua).

Setelah menempa pengetahuan di Madrasah Alkhairaat, atas izin dari Guru Tua, al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah di Kota Malang, Jawa Timur, di bawah asuhan ulama quthb dan ahli hadis, al-Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, dan anaknya, al-Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul   Qadir   Bilfaqih.

Al-Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih.

Di   samping   berguru   secara   khusus (takhashshush)  kepada  dua  ulama  ini,  selama di Jawa, al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun juga menimba ilmu dari dua ulama terkemuka lainnya, yakni al-Habib Shalih bin Muhsin al-Hamid dan al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki. Setelah menimba ilmu serta memperkaya pengalamannya dengan mengajar pada Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah dan Pesantren al-Ma’had al-Islami di Kabupaten Bondowoso, al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun mendirikan pesantrennya sendiri, yaitu Pesantren Daruttauhid di Kota Malang. Di pesantren inilah Muhammad J. Wartabone menimba ilmu agama dan mengikatkan sanad ilmunya pada al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun melalui para guru beliau yang berasal dari para ulama-ulama terkemuka yang memiliki sanad ilmu yang bersambung hingga kepada Rasulullah, Nabi Muhammad SAW.  ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun juga dipercaya untuk mengajar di Pesantren tersebut.

Al-Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir Bilfaqih.

Pendidikan agama yang dijalani oleh Muhammad J. Wartabone di Pesantren Daruttauhid berlangsung sejak tahun 1992 hingga tahun 1998. Sembari nyantri di pesantren ini, Muhammad J. Wartabone juga secara rutin bersilaturahim sekaligus belajar kepada al-Habib Muhammad bin ‘Abdul Qadir al-Habsyi di Kota Malang. Dari beliau, Muhammad J. Wartabone menuai nilai-nilai spiritualitas Islam (tasawuf) tentang pentingnya menjaga keikhlasan, senantiasa bersikap rendah hati (tawadhu’), dan mengabdikan seluruh hidup semata-mata karena Allah SWT.

Al-Habib Shalih bin Muhsin al-Hamid.

Ketika menimba ilmu agama di Malang, di tahun 1995, Muhammad  J.  Wartabone  diutus  oleh  al-Syaikh  ‘Abdullah  bin ‘Awad ‘Abdun untuk melanjutkan pendidikannya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Akan tetapi, setelah tiga hari berada di Jakarta, hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan bahwa Muhammad J. Wartabone tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke Negeri Piramida tersebut. Kondisi kulit Muhammad J. Wartabone dianggap rentan bagi iklim cuaca di Mesir.

Al-Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki.

Kegagalan melanjutkan pendidikan agama di Mesir tidak menyurutkan niat Muhammad J. Wartabone. Pada tahun 1997, ia kembali mencoba untuk melanjutkan studinya ke Timur Tengah. Kali ini tujuannya adalah Madinah, tepatnya di Ribath al-Jufri. Akan tetapi, serupa dengan rencana sebelumnya, Muhammad J. Wartabone kembali belum diizinkan untuk melanjutkan studi ke Timur Tengah. Krisis ekonomi menjadi kendala yang menyebabkannya gagal meneruskan cita-citanya. Setelah mendapatkan kepastian, Muhammad J. Wartabone kembali ke Pesantren Daruttauhid di Kota Malang. Oleh al-Syaikh ‘Abdullah  bin ‘Awad ‘Abdun, Muhammad J. Wartabone disarankan untuk meminta petunjuk kepada Allah swt. melalui salat istikharah.

Pada malam keempat dari rangkaian ritual salat istikharah itu, Muhammad J. Wartabone mendapatkan isyarat melalui mimpi. Di dalam mimpi tersebut, ia melihat dua cahaya turun dari langit dan ditangkap oleh ayahnya, Jarudin. Kedua cahaya itu kemudian diserahkan kepada Muhammad J. Wartabone. Seketika, cahaya tersebut berubah menjadi mustika delima.

Sebagai santri, Muhammad J. Wartabone menyadari bahwa tafsir atau penjelasan dari suatu mimpi sebaiknya diserahkan kepada pribadi yang ‘alim. Oleh sebab itu, keesokan harinya, ia segera menghadap gurunya, al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun, dan menceritakan mimpinya di atas agar diberikan penjelasan dan petunjuk. Al-Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad ‘Abdun menjelaskan bahwa mimpi tersebut merupakan tanda bagi Muhammad J. Wartabone agar kembali dan mengabdikan dirinya di tanah kelahirannya, Provinsi Sulawesi Tengah. Atas petunjuk dari gurunya inilah, pada tahun 1998, Muhammad J. Wartabone memutuskan untuk kembali ke Kota Palu.

Al-Habib Muhammad bin ‘Abdul Qadir al-Habsyi.

Ilmu pengetahuan agama dan pengalaman selama di Jawa tentu memberikan bekas yang tidak dapat dihapus dari memori dan jiwa Muhammad J. Wartabone. Selain aspek akidah dan syariat yang berfungsi sebagai benteng yang melindungi manusia dari perilaku yang menyimpang, salah satu yang penting dan tidak dapat dilupakannya adalah nilai etika dan spiritual yang terkandung di dalam prinsip-prinsip ajaran tasawuf. Kebeningan diri serta kebersihan hati merupakan beberapa di antaranya.

Pengalaman dalam mengaplikasikan ajaran serta nilai-nilai religius membuat Muhammad J. Wartabone percaya bahwa siapapun yang memiliki bekal pengetahuan agama, menjalankan ajaran serta berpegang pada nilai-nilainya, tidak akan kesulitan untuk mendapatkan simpati dan kebaikan dari sesama manusia, karena Allah swt. ikut berperan dalam menggerakkan hati manusia agar berlaku baik kepada hambanya tersebut. Mereka yang setia pada ajaran Allah swt. juga tidak akan merasakan kesulitan dalam menjalani segala bentuk aktifitas kehidupan, seberat apapun cobaan yang sedang ia hadapi.

Muhammad J. Wartabone: Bermula dari Masjid

Lulus sebagai santri dari Pondok Pesantren Daruttauhid di Kota Malang, adalah hal yang lumrah bila Muhammad J. Wartabone memilih masjid sebagai tempatnya beraktifitas di awal karirnya di Kota Palu. Masjid Jami’ Darussalam, Masomba, Kecamatan Palu Selatan merupakan tempat yang ia pilih. Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua sekaligus pusat dari kegiatan-kegiatan umat Islam di Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu. Tidak membutuhkan waktu lama, Muhammad J. Wartabone diberikan kepercayaan sebagai Ketua Remaja Masjid (risma) tersebut.

Sembari disibukkan dengan tanggung jawabnya sebagai Ketua Risma, Muhammad J. Wartabone melanjutkan pendidikannya pada jenjang Strata Satu (S1) dalam bidang hukum dan administrasi ketatanegaraan di dua perguruan tinggi sekaligus, yakni di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Pancha Bhakti dan Universitas Muhammadiyah Palu.

Masjid merupakan wahana terbaik dalam menjalin tali silaturahim, karena berfungsi sebagai tempat  berkumpul bagi masyarakat dari berbagai lapisan sosial. Dari aktifitasnya sebagai risma Masjid Jami’ Darussalam, Masomba, Kecamatan Palu Selatan, Muhammad J. Wartabone kemudian berkenalan dengan beragam kalangan dan diajak serta untuk terlibat di dalam organisasi-organisasi sosial keagamaan.

Muhammad J. Wartabone ternyata tidak mengalami kesulitan untuk turut berkontribusi di dalam organisasi sosial dan keagamaan. Pada masa awal pembentukan karirnya di Kota Palu ini, Muhammad J. Wartabone ditunjuk sebagai Sekretasi Perkumpulan Para Qari` dan Penghafal Alquran (Jam’iyyatul Qurra’ wa al-Huffazh) Kota Palu di tahun 2001. Setahun berselang, tahun 2002, ia juga dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI) Provinsi Sulawesi Tengah.

Di antara tahun 1999 hingga tahun 2001, di sela-sela aktifitasnya di atas, Muhammad J. Wartabone masih menyempatkan diri untuk menimba ilmu secara khusus kepada ulama terkemuka di Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan keturunan langsung dari Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari, yakni Tuan Guru Muhammad Zaini bin ‘Abdul Gani atau, dikenal oleh masyarakat Muslim setempat dengan gelar Guru Sekumpul.

Tuan Guru Muhammad Zaini bin ‘Abdul Gani (Guru Sekumpul).

Di Masjid Jami’ Darussalam, Masomba, Kecamatan Palu Selatan, Muhammad J. Wartabone berkenalan dengan (almarhum) Drs. H. Adjimin Ponulele. Tokoh masyarakat Kota Palu inilah yang membawa Muhammad J. Wartabone masuk ke dunia politik melalui salah satu partai nasional berhaulan nasionalis. Di partai ini, Muhammad J. Wartabone memulai karir politiknya dari level terbawah, yaitu sebagai kurir atau pengantar surat-surat kepartaian.  Dari  sini,  ia  lantas  berkenalan  dengan  tokoh-tokoh partai lainnya, salah satunya adalah Drs. Lahade Romu.

Akibat dari ketekunannya, meski harus memulai karir dari tingkat yang paling bawah, Muhammad J. Wartabone tidak kesulitan untuk mendapatkan  kepercayaan  dari  jajaran  pengurus di Kota Palu. Pada musyawarah partai Kemacatan Palu Selatan di tahun 2001, Muhammad J. Wartabone diberikan kepercayaan sebagai Sekretaris membantu H. Usman Tj. Lainti.

Dari pengalaman sebagai sekretaris partai pada tingkat kecamatan, Muhammad J. Wartabone memiliki akses guna menjalin silaturahim dengan tokoh-tokoh di tingkat Provinsi Sulawesi Tengah, seperti Prof. Drs. H. Aminuddin Ponulele, M.S., H, Baso Lamakarate, H. Rusdy Mastura, H, Suardin Suebo, S.E., dan H. A. Mulhanan Tombolotutu, S.H. Tokoh-tokoh inilah, di antaranya, yang memberikan kepercayaan kepada Muhammad J. Wartabone untuk mengajukan diri sebagai salah seorang Calo Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu mewakili masyarakat Kecamatan Palu Selatan.

Kemudahan tampak selalu dekat dengan garis karir Muhammad J. Wartabone dalam bidang politik. Di tahun 2004, meski memiliki modal politik yang sangat minim, masyarakat Kecamatan Palu Selatan memberikan kepercayaan kepadanya sebagai Anggota DPRD Kota Palu untuk masa bakti 2004-2009. Demikian juga pada dua periode berikutnya, yakni 2009-2014 dan  2014-2019. Secara keseluruhan, Muhammad J. Wartabone berhasil mencetak hattrick dengan menduduki jabatan sebagai wakil rakyat pada tingkat Kota Palu sebanyak tiga periode berturut-turut.

Muhammad J. Wartabone tidak pernah melupakan pendidikan sebagai bagian dari pengembangan kapasitas dan intelektual. Oleh sebab itu, di sela-sela aktifitasnya sebagai anggota DPRD Kota Palu selama tiga periode, ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Tahun 2008, Muhammad J. Wartabone menyelesaikan pendidikannya pada Program Strata Dua (S2) Jurusan Ilmu Hukum Islam di Unversitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Sembilan tahun berselang, tepatnya di tahun 2017, Muhammad J. Wartabone berhasil menamatkan pendidikan tertinggi pada jenjang Strata Tiga (S3) Jurusan Hukum Tata Negara, Program Pascasarjana, Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, dan dinyatakan sah menyandang gelar doktor dalam bidang Ilmu Hukum.

Pencapaian karir politik dan intelektual Muhammad J. Wartabone di atas boleh jadi dianggap sebagai kesuksesan yang patut dibanggakan. Meski demikian, Muhammad J. Wartabone menyadari bahwa tidak ada yang perlu ia banggakan dari pencapaian tersebut, karena semua pencapaian di dunia tidak mungkin terjadi di luar kehendak Yang Maha Kuasa. Baginya, terutama dalam kapasitasnya sebagai anggota legislatif, kepercayaan rakyat merupakan amanah yang harus dijaga dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Muhammad J. Wartabone tidak memungkiri bahwa kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat Kecamatan Palu Selatan ketika ia masih menjabat sebagai anggota DPRD Kota Palu juga tidak lepas dari campur tangan Allah Swt. Pada akhirnya, kesadaran Muhammad J. Wartabone tentang kehadiran Allah Swt. di setiap aspek kehidupan tidak lain merupakan wujud dari kesadaran religius yang ia terima dari pendidikan agama, mulai dari lingkungan keluarga, pesantren, hingga di dalam interaksinya bersama masyarakat melalui Masjid Jami’ Darussalam, Kelurahan Tatura Utara, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu. (*)

Ayo tulis komentar cerdas