Home Inspirasi

Biografi Muhammad J. Wartabone (1)

180
Muhammad J. Wartabone.

•  Santri Mengabdi: Menuju Sulawesi Tengah Serambi Haramain

MUHAMMAD  J. Wartabone adalah senator yang mewakili masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah pada Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia untuk masa bakti 2019-2024. Masyarakat provinsi tersebut memberikan amanah kepadanya setelah Muhammad J. Wartabone menyelesaikan tiga periode masa baktinya sebagai Anggota pada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu.

Selama masa baktinya mewakili masyarakat di Kota Palu, seperti yang sudah umum terjadi, cukup banyak intrik politik yang menguji keistikamahannya menjalankan amanat rakyat. Berangam intrik-intrik telah menguji keistikamahan hingga membentuk mentalitas komitmen dalam bidang sosial dan politik dari seorang Muhammad J. Wartabone yang berlatar belakang santri.

Sebagai pribadi yang pernah menimba ilmu pengetahuan agama Islam di pondok pesantren, Muhammad J. Wartabone menghadapi intrik-intrik politik dengan pemahaman bahwa Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah swt., senantiasa menitipkan hikmah di balik setiap ujian yang menimpa hamba-Nya. Salah satu di antara sekian banyak hikmah yang dipelajarinya adalah terbinanya kembali jalinan silaturahim antara Muhammad J. Wartabone dengan segenap keluarga besar Raja Wartabone di Gorontalo tanpa melupakan tanah kelahirannya di Kabupaten Sigi serta kewajibannya untuk mengabdikan diri bagi masyarakat di Provinsi Sulawesi Tengah.

Muhammad J. Wartabone: Keluarga Religius dan Silsilah hingga ke Raja Wartabone

Muhammad J. Wartabone, yang oleh masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah akrab disapa Buya MJW, merupakan anak kedua dari pasangan almarhum Jarudin dan Hajjah Lise S. Buu Sura. Muhammad J. Wartabone lahir pada Hari Jumat tanggal 28 Oktober 1975 di Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala (saat ini, akibat pemekaran wilayah, berada di Kabupaten Sigi), Provinsi Sulawesi Tengah. Nama “Muhammad” merupakan nama yang disematkan oleh cucu Guru Tua, Habib Abdillah bin Muhammad al-Jufri, ketika berkunjung ke Kecamatan Kulawi untuk meresmikan pembukaan madrasah Alkhairaat di Desa Salua. Setelah menghadiri acara pembukaan, Habib Abdillah singgah untuk makan siang di kediaman almarhum Jarudin. Setelah jamuan makan siang inilah Habib Abdillah memberikan nama Muhammad, sesuai dengan nama anak Guru Tua, yaitu Muhammad bin ‘Idrus al-Jufri. Nama tersebut diberikan ketika Muhammad J. Wartabone masih berusia tiga bulan di dalam kandungan ibunya.


Almarhum Jarudin bin Lamacca Wartabone (Om Lopu Guru Mengaji)

Selain Muhammad, secara keseluruhan, pasangan almarhum Jarudin dan Hajjah Lise S. Buu Sura dikaruniai oleh Allah swt. enam orang anak, secara berurutan, antara lain: Sitti Aisyah (almarhumah), Muhammad J. Wartabone, Ibrahim (almarhum), Aminah Wartabone, Ismail (almarhum), dan Abu Bakar La-Iboerahima Wartabone.

Ayah Muhammad, Jarudin, lahir pada malam Jumat tanggal 5 Desember 1925 di Kelurahan Petobo, Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Sejak belia, Jarudin telah dikenalkan dengan ajaran Islam oleh ayahnya yang bernama Lamacca.

Lamacca menikah dengan perempuan dari Tanah Kaili asal Petobo bernama Yamalera binti Sumbangudu. Dari pernikahan ini lahir lima orang anak, yaitu Jarudin, Tamrin, Indowaru, Jasna, dan Asoria. Lamacca, yang lahir pada tahun 1902 di Dolo Potoya, Kabupaten Donggala (sekarang: Kabupaten Sigi) merupakan anak dari Ladjontjo.

Ladjontjo menikah di Dolo Potoya dengan perempuan Kaili asal Desa Tulo, Kabupaten Donggala (sekarang: Kabupaten Sigi), yang bernama Renjoine binti Latapande. Pasangan ini dikaruniai sembilan anak, yaitu Incehani, Incepapu, Jahani, Lamacca, Sapia, Sadasia, Baiduri, Sohoria, dan Siti Saleha.

Ladjontjo, yang lahir di Ujuna pada tahun 1867, merupakan anak dari La-Iboerahima Wartabone. Oleh Kolonial Belanda (kompeni),   La-Iboerahima Wartabone kerap disapa Kapitan Laut Iboerahim – sesuai dengan nama aslinya yang berasal dari bahasa Arab: Ibrahim. Masyarakat suku Bugis memiliki kebiasaan untuk memberikan imbuhan “la” di depan nama anak yang dituakan, sehingga Ibrahim dikenal dengan sebutan La-Iboerahima Wartabone.

Di Suwawa, Gorontalo, La-Iboerahima Wartabone dikenal dengan panggilan Talibu atau Te Ibu. Ia adalah anak pertama dari Raja Wartabone. Secara keseluruhan, Raja Wartabone memiliki lima orang anak, antara lain La-Iboerahima Wartabone, Hadidah Wartabone, Nino Wartabone, Nuku Wartabone, dan Mio Wartabone. Salah seorang Pahlawan Nasional Republik Indonesia, Nani Wartabone, memiliki garis silsilah yang bersambung ke Raja Wartabone melalui Nuku Wartabone.

Meskipun berstatus sebagai putra mahkota, La- Iboerahima tidak tertarik untuk menjadi penerus kekuasaan ayahnya. Kapasitasnya sebagai salah seorang pengikut aliran dalam tradisi tasawuf Islam membuatnya tidak tertarik pada hal-hal duniawi. Pada tahun 1812, atas keputusannya sendiri, La-Iboerahima memilih untuk meninggalkan kerajaan ayahnya untuk melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Sulawesi Tengah dalam rangka dakwah menyebarkan ajaran agama Islam.

Tidak seperti dai pada saat ini yang lazim menetap di satu daerah, para juru dakwah pada masa lalu umumnya berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya dalam jangka waktu yang relatif panjang. Dalam menyebarkan ajaran Islam, La-Iboerahima pertama kali singgah di Togean, lalu pindah ke Kerajaan Tompotika Luwuk, Makassar, Bungku, Bunta, Tojo Una-Una, Batu Suya di Pantai Barat (Kabupaten Donggala), hingga di Kerajaan Bone Tatura Palu, Sulawesi Tengah. Ketika bermukim untuk mengajarkan agama Islam di daerah yang saat ini berada di Kota Palu, masyarakat Ujuna menjodohkan La-Iboerahima Wartabone dengan perempuan Kaili bernama Roneama.

Roneama memiliki saudara kandung, antara lain Latunau, Kamalo, Lanau, Donitora, Pudu, dan Sisiara. Roneama juga memiliki hubungan famili dengan ayah Pue Lasadindi (Mangge Rante) yang bernama Yandala atau Yandara yang berasal dari Sindue. Buku cerita rakyat di Sulawesi Tengah menyebutkan bahwa ayahnya yang bernama Rampatan diberi gelar Rapotango yang berarti orang yang mengetahui rahasia tanah.

Dari pernikahannya Roneama, La-Iboerahima dikaruniai lima orang anak, antara lain Ladjontjo, Jahia, Habasia, Susapalu, dan Sawasia. La-Iboerahima Wartabone wafat pada tanggal 7 September 1897 di Desa Dolo Potoya. Saat ini, makam beliau terletak di wilayah Pekuburan Umum Buli, Desa Potoya, Dusun III, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Anak kedua La-Iboerahima Wartabone yang bernama Jahia, yang lahir di Ujuna, juga menikah di Dolo Potoya, Kabupaten Sigi, dengan Kontowua Rapa Lemba. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai empat anak, yaitu Rahani Lemba, Lahami Lembah, Lahudo Lemba, dan Maliha Lemba. Anak ketiga La-Iboerahima Wartabone, Habasia, menikah dengan Pue Labe Latonji. Mereka dianugerahkan lima anak, antara lain Yawasia Latonji, Sabalera Latonji, Djido Latonji, Tahido Latonji, dan Sahabudin Latonji. Keturunan dari pernikahan Habasia dan Yawasia pada umumnya tinggal di Jalan Tombolotutu, Kelurahan Talise, Kota Palu.

Anak keempat La-Iboerahima Wartabone yang bernama Susapalu dilahirkan bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Tatanga dan Bone Tatura di Kota Palu. Dalam kehidupannya, Susapalu empat kali menikah. Pernikahannya yang pertama dengan perempuan Kaili berasal dari Tatura yang bernama Lera. Dari pernikahan ini, Susapalu dikaruniai seorang anak perempuan bernama Nari. Dalam perjalanannya, Nari menikah dengan laki-laki asal Besusu, Kota Palu, bernama Halim Tembabula dan dikaruniai tujuh orang anak, antara lain Halim, Amir, Taha, Asnani, Udin, Hasna, dan Masli. Pernikahan kedua Susapalu dilangsungkan di Rarapadende, Dolo, Kabupaten Sigi, dengan perempuan setempat yang bernama Saridali. Dari pernikahan ini, mereka dianugerahkan enam orang anak, antara lain Lahasi, Cinaupa, Lagado, Lacare, Simi, dan Lapere. Setelah di Rarapadende, Susapalu menikah untuk ketiga kalinya dengan perempuan Balaroa, Kota Palu, yang bernama Andi. Mereka diberikan keturunan seorang anak perempuan bernama Yagaera. Ketika dewasa, Yagaera dinikahkan dengan Temba Lamatata. Dari pernikahan ini, Yagaera dan Temba Lamatata dikaruniai empat anak, yakni Asrudin T. Lamatata, Sahlan T. Lamatata, Rukizah (alm.), dan Ajis T. Lamatata. Adapun pernikahan Susapalu yang terakhir, keempat, juga dengan perempuan Balaroa yang bernama Cani. Dari pernikahannya yang terakhir ini, Susapalu dan Cani dianugerahkan lima orang anak, antara lain Djaha, Taha, Ama, Hamna, dan Latif.

Seperti keempat kakaknya, anak La-Iboerahima Wartabone yang terakhir, Sawasia, dilahirkan di Ujuna. Anak kelima La-Iboerahima Wartabone ini menikah dengan Abdul Wahit Toana dan dikaruniai seorang anak bernama Sahabudin Toana (alm) beserta delapan orang cucu, antara lain Gandi Toana, Rustam Toana, Hamsen Toana, Dei Toana, Busran Toana, Maryam Toana, Diaman Toana, dan Nikma Toana. Setelah bercerai dengan Abdul Wahit Toana, Sawasia menikah dengan Mantri Lekong di Dolo Potoya dan dikaruniai seorang anak perempuan bernama Indosima. Kelak, Indosima memiliki anak-anak, antara lain Asniar, Ati, Asman, Hasna, Fahrun, dan Alfia. Adapun pernikahan Sawasia yang ketiga adalah dengan Majadatun yang berasal dari Bora, Kabupaten Sigi. Mereka diberikan anugerah dua orang anak, yaitu Junudin dan Nahawia serta cucu-cucu yang bernama Asni, Usman, Jasmin, Udin, Idris, dan Asnimah.

Kembali pada ayah Muhammad J. Wartabone, sebagaimana leluhurnya, Jarudin tumbuh di tengah keluarga religius sehingga mendapatkan pendidikan agama sejak di lingkungan keluarga. Di saat beranjak dewasa, ia menimba ilmu pada dua ulama terkemuka di Tanah Kaili. Guru pertama Jarudin adalah Pue Lasadindi atau, oleh masyarakat di Sulawesi Tengah, dikenal dengan Mangge Rante.


Pue Lasadindi (Mangge Rante)

Pue Lasadindi atau Mangge Rante lahir di Desa Enu, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, pada tanggal 6 September 1828. Ia dianugerahkan usia yang panjang hingga wafat pada 10 Oktober 1958 di Desa Randomayang, Kabupaten Pasang Kayu, Provinsi Sulawesi Barat. Sepanjang hidupnya, Pue Lasadindi dikenal sebagai ulama yang mengajarkan Islam di daerah Sindue serta aktif sebagai imam tetap di Masjid Enu. Di luar aktifitasnya ini, sebagaimana ulama-ulama di abad ke-19 hingga abad ke-20, Pue Lasadindi mengajarkan syariat Islam ke berbagi daerah di sekitar Provinsi Sulawesi Tengah, terutama di kawasan Pantai Timur, di wilayah yang menjadi pusat tempat tinggal masyarakat suku Tajio dan Lauje. Mengingat usianya yang relatif panjang hingga memasuki era perjuangan kemerdekaan, Pue Lasadindi tercatat ikut aktif dalam perjuangan politik masyarakat di Sulawesi Tengah. Ia diketahui pernah bergabung sebagai anggota Sarekat Islam (SI) di Donggala. Aktifitas ini mendorong Pue Lasadindi membentuk laskar perjuangan dan terlibat di dalam gerakan-gerakan anti-kolonial, seperti di dalam Perlawanan Kayu Malue (1888), Perlawanan Tovoa Langi di Kulawi (1905), Perang Sojol (1904), Perlawanan Kolomboy di Tojo Una-Una (1926), hingga perjuangan Tanjumbulu di Tojo Una-Una dan Poso (1942)

Muhammad J. Wartabone bersama Pue Ratu Hindia binti Pue Lasadindi Mangge Rante.

Setelah mempelajari ajaran-ajaran Islam kepada Pue Lasadindi, Jarudin melanjutkan pendidikan agamanya pada Madrasah Alkhairaat di bawah asuhan Sayyid ‘Idrus bin Salim al-Jufri atau Guru Tua. Sebagaimana para alumni Alkhairaat generasi awal, Jarudin diberikan amanat oleh Guru Tua untuk membuka sekaligus membina madrasah-madrasah Alkhairaat di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, bersama sahabatnya, Ustad H. Sa’id bin ‘Awadh ‘Abdun. Oleh masyarakat setempat Kulawi, Jarudin akrab dikenal Om Lopu Guru Mengaji.

Ustaz H. Sa’id bin ‘Awadh ‘Abdun

Di tengah pengabdiannya di tempat tersebut, Jarudin menikah dengan Hajjah Lise S. Buu Sura yang berasal dari Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.. Dari pernikahan ini, Jarudin dikaruniai enam orang anak, di mana Muhammad J. Wartabone merupakan salah seorang di antaranya. Jarudin mengabdikan dirinya untuk menjalankan amanat Guru Tua di desa-desa pada Kecamatan Kulawi selama dua tahun, yaitu sejak tanggal 25 Maret 1960 hingga tahun 1962. Aktifitasnya membina madrasah Alkhairaat serta mengajarkan agama bagi masyarakat Desa Kuwali terhenti akibat sakit yang ia derita selama enam bulan.

Di kala sakit, ayahanda dari Muhammad J. Wartabone ini melewati suatu pengalaman spiritual yang sangat berarti lewat mati suri selama 12 jam. Dalam kondisi mati suri inilah Allah swt. memberikan pengungkapan rahasia ilahiah (bashirah) kepada Jarudin dengan membawa arwahnya ke dalam suatu perjalanan spiritual ditemani oleh seorang Pemandu yang tidak ia kenali.

Di dalam perjalanan itu Jarudin diajak untuk melihat jembatan yang harus dilewati oleh setiap manusia pada Hari Perhitungan nanti. Dari Sang Pemandu, Jarudin mengetahui bahwa jembatan tersebut adalah Shirat al-Mustaqim yang disebutkan di dalam Alquran, Surat al-Fatihah. Pada kesempatan itu Jarudin diperlihatkan bagaimana para pendosa tidak dapat melewati jembatan tersebut, tersiksa hingga mati, dihidupkan, dan disiksa kembali. Ia juga melihat bagaimana perempuan-perempuan mengalami siksaan serupa akibat melakukan aborsi ketika masih hidup di dunia.

Setelah melihat siksaan-siksaan yang dialami oleh manusia yang tidak mengikuti tuntunan Allah swt., Jarudin lantas diajak oleh Sang Pemandu untuk melewati Shirat al-Mustaqim. Sebelum melewati jembatan tersebut, Sang Pemandu bertanya, “Apa yang akan kau ucapkan  agar selamat  melewati jembatan  Shirat  al- Mustaqim?” Jarudin menjawab, “Dengan kalimat Asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”.

Jarudin terus mengulang-ulangi kalimat dua syahadat di atas hingga selamat di dalam perjalanannya melewati Shirat al-Mustaqim. Di seberang jembatan, Jarudin tiba-tiba memasuki sebuah ruang gelap gulita. Ia meraba sekeliling ruangan tersebut dan mendapati tembok-tembok yang basah. Ketika tangannya menemukan pintu, Sang Pemandu memperingatkannya, “Jangan membuka pintu itu!” Akan tetapi, dipicu oleh rasa penasaran, Jarudin mendorong pintu tersebut hingga terbuka. Seketika, ia terdorong keluar dan terjatuh. Di saat itulah ia terbangun lalu tersadarkan dari mati surinya. Jarudin segera menceritakan pengalaman spiritualnya tersebut kepada ibundanya, Yamalera binti Sumbangudu, yang senantiasa mendampingi jasad Jarudin ketika mati suri.

Beberapa bulan berikutnya, Jarudin kembali bermimpi tentang Nabi Musa a.s. Dalam mimpi itu, Jarudin diberikan tuntunan tentang prinsip-prinsip untuk istikamah dan tegas dalam menegakkan ajaran agama, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Nabi Musa a.s. di dalam kehidupannya. Selain tuntunan hidup, dalam mimpi tersebut, Nabi Musa a.s. juga mengajarkan Jarudin beberapa doa-doa, salah satunya adalah doa untuk memindahkan jalur aliran yang biasa dilalui air sungai. Ketika banjir melanda Desa Bolapapu, Kecamatan Kulawi, Jarudin mengamalkan doa tersebut untuk menghalau aliran air sungai yang mengarah ke rumah sahabatnya, Ustad Sa’id bin ‘Awadh ‘Abdun.

Setelah sembuh dari sakitnya, Jarudin meninggalkan Desa Kulawi dan memilih untuk menjadi guru mengaji Alquran yang berkeliling ke berbagai tempat. Daerah pertama yang ia singgahi adalah Tompi Bugis, Kecamatan Kulawi. Di desa ini, Jarudin membuka taman pengajian Alquran dan mengajarkan nilai-nilai serta ajaran agama kepada penduduk di daerah ini selama empat tahun (1964-1968). Setelah itu, ia pindah ke Desa Salua, Kecamatan Kulawi. Di desa ini, Jarudin juga membuka taman pengajian Alquran dan mengabdi selama tujuh tahun (1968-1975).

Di tahun 1979, Jarudin pindah ke Desa Sidondo. Di desa yang kini menjadi kecamatan tersendiri di wilayah Kabupaten Sigi itu Jarudin mengabdi selama delapan tahun (1979-1987) demi kemaslahatan masyarakat setempat. Dari Desa Sidondo, Jarudin hijrah ke Desa Sioyong, kawasan Pantai Barat, Kabupaten Donggala. Di tempat ini, seperti juga tempat- tempat sebelumnya, ia mengajarkan agama kepada penduduk setempat serta membuka taman pengajian Alquran. Namun, berbeda dengan desa-desa sebelumnya, di Sioyong, Jarudin hanya tinggal selama tiga tahun (1989-1992).

Pada tahun 1992, Jarudin melakukan perjalanan ke Pulau Jawa untuk mengantarkan anak laki-lakinya yang pertama, Muhammad J. Wartabone, untuk merantau sekaligus menimba ilmu agama sebagai santri di Pondok Pesantren Daruttauhid, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Pilihan Jarudin untuk memasukkan anaknya di pesantren ini tidak datang dengan tiba-tiba, karena, meski terpisah oleh pulau, pendiri Pesantren Daruttauhid pada dasarnya merupakan murid Guru Tua sekaligus adik dari sahabatnya ketika mengabdi di Desa Kulawi, Ustad H. Sa’id bin ‘Awadh ‘Abdun.

Setelah mendaftarkan Muhammad J. Wartabone untuk nyantri dari Kota Malang, Jarudin kemudian pindah ke wilayah Pantai Timur, tepatnya di Desa Kayu Agung, Kabupaten Parigi Mautong. Di sini, Jarudin menghabiskan waktu dua tahun (1992-1994) untuk tujuan yang sama dengan tempat-tempat yang telah ia singgahi sebelumnya.  Selain  mengajarkan agama dan mengaji Alquran, di Kayu Agung, Jarudin turut mengislamkan lima orang warga setempat.

Pada penghujung masa pengabdiannya di Kayu Agung, Jarudin sempat bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh ke arahnya. Dengan sigap, ia menangkap bulan jatuh tersebut dengan tangan kanannya. Ketika terjaga dari tidurnya, Jarudin segera berwudu dan melaksanakan salat malam dua rakaat. Dengan mengikuti tuntunan agama mengenai waktu-waktu di kala doa dikabulkan oleh Allah swt., Jarudin tidak lupa menyisipkan doa di akhir sujudnya agar Allah swt. senantiasa memberikan hikmah kepada keluarganya dan memberikan karunia bagi anak-anaknya hingga dapat menjadi anak-anak yang saleh serta senantiasa berbakti kepada kedua orang tua mereka.

Setelah menunaikan tugasnya di kawasan Pantai Timur, Jarudin kembali ke wilayah Kabupaten Sigi dan membuka taman pengajian Alquran di Dusun Perumahan Kodim Rantekala. Setelah itu, ia pindah ke Lompio, Desa Bora, dan terus mengabdi di daerah ini hingga tahun 2004.

Meski saat itu ia telah berusia 79 tahun, semangatnya dalam menyebarluaskan ajaran agama di tengah masyarakat sama sekali tidak surut. Pada usia tersebut, Jarudin memutuskan untuk kembali ke tanah kelahirannya di Kelurahan Petobo, Kota Palu, guna mewujudkan cita-cita yang lebih besar, yaitu mendirikan pusat kegiatan keislaman (Islamic center) di atas lahan yang telah ia siapkan di Kelurahan Petobo dan di Desa Bora, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Jarudin memulai cita-cita ini dari bawah, yaitu dari taman pengajian Alquran di tempat tinggalnya.

Pada tanggal 8 Oktober 2009, Allah swt. memanggil Jarudin untuk menghadap kepada-Nya. Meski belum sempat melihat Islamic Center yang ia cita-citakan, salah seorang anaknya yang telah ia persiapkan, Muhammad J. Wartabone, berupaya mewujudkan cita-cita mulia tersebut.(*)

Ayo tulis komentar cerdas