Home Artikel / Opini

Ekonomi Digital di Era New Normal

125
Suparman. (Foto: Ist)

Oleh: Suparman *)

PANDEMI Covid-19 sudah mengubah pola pikir dan perilaku masyarakat berinteraksi secara ekonomi dan sosial. Pilihan pada new normal atau tatanan baru mendorong masyarakat tetap beraktivitas dengan mematuhi protokol kesehatan.  New normal memastikan aktivitas ekonomi dan kohesi sosial mampu berdampingan dengan pandemi.

Seantero dunia terus berubah secara cepat dan tak terduga (unpredictable) ketika Revolusi Industri 4.0 terjadi. Daya ungkit utamanya transformasi digital. Transformasi digital telah mengeser kebiasaan-kebiasaan lama. Era digital ini tak sekedar internet. Teknologi baru ini, telah mengubah pola dan cara lama menjadi lebih cepat, lebih efisien dan lebih baik. Saat ini ekonomi global sudah mengalami transformasi digital luar biasa. 

Saat Covid-19 ini memicu transformasi digital menjadi jauh lebih penting, dan lebih mendesak lagi. Digitalisasi ekonomi ini,  membuat miliaran aktivitas masyarakat terhubung secara daring setiap hari di antara orang, pelaku bisnis memanfaatkan perangkat, data, dan proses digital tak terelakan. Pondasi utama ekonomi digital adalah konektivitas tinggi. Konektivitas ini membuat peningkatan keterkaitan orang dan mesin secara daring. Entah itu melalui internet maupun teknologi seluler. Saat Covid-19 belum berakhir dan sudah menyiapkan diri memasuki new normal, maka adanya ekonomi digital melemahkan transaksi secara konvensional.

Ekonomi Digital

Ekonomi digital juga dikenal sebagai ekonomi baru (new economy). Dengan model ini, jaringan digital dan infrastruktur komunikasi menyediakan platform global tempat orang dan organisasi menyusun berkomunikasi, dan berkolaborasi. Konsep ekonomi digital ini sendiri pertama kali disebutkan di Jepang tahun 1990-an. Di dunia barat ekonomi digital ini diutarakan, Don Tapscott (1995), dalam buku ‘The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence’.  Ekonomi digital dimaknai sebagai aktivitas ekonomi dalam kondisi sosio-politik dan sistem ekonomi yang bercirikan sebagai sebuah ‘ruang intelijen’. Ruang yang memuat informasi, berbagai akses instrumen, kapasitas, dan pemesanan informasi. Setidaknya terdapat hal-hal penting saling terkait secara digital.  Letak geografis tidak lagi relevan, adanya platform tertentu, berkembangnya jejaring kerja, dan pemanfaatan data besar. Sistem digital telah mengubah cara berbisnis.

Ekonomi digital menjadi fenomena baru yang strategis dalam ranah kegiatan ekonomi. Laporan Huawei dan Oxford Economics (2016) bertitel Digital Spillover. Peran ini mengila sejak virus corona menjadi pandemi. Ditunjang protokol kesehatan, mengharuskan kerja dari rumah (work from home), jaga jarak fisik (physical distancing), hingga membatasi hubungan social (social distancing) membuat ‘booming’ ekonomi digital.

Sebagai komparasi dari laporan McKinsey (2019), Indonesia menempati peringkat pertama sebagai negara yang mencatat pertumbuhan tercepat dalam mengadopsi ekonomi digital. Pertumbuhan adopsi ekonomi digital dihitung dari aplikasi individu, bisnis, dan pemerintah melalui tiga pilar. Pondasi digital—ketersediaan  dan kecepatan unduh, jangkauan digital konsumsi data per pengguna, dan nilai digital—penggunaan  dalam pembayaran digital atau e commerce. Indonesia memperoleh skor 99 persen, diikuti India 90 persen, China 45 persen, dan Rusia 44 persen. Bahkan, diklaim ekonomi digital menjadi peluang Indonesia pada 2025.  mencapai $130 miliar. Utamanya bertumbuh pada  e-commerce dan ride-hailing, serta pembayaran digital.

Pesatnya ekonomi digital juga strategis untuk menaikkan produktivitas tenaga kerja di Tanah Air. Berkontribusi menghubungkan pekerja dengan penyedia melalui daring yang lebih efisien banding luring. Prediksi McKinsey, ekonomi digital Indonesia juga meningkatkan produktivitas mencapai US$ 120 miliar per tahun. Digitalisasi ini mencakup Sektor Manufaktur US$ 34 miliar, Sektor Retail US$ 24,5 miliar, Sektor Transportasi US$ 15,5 miliar, Sektor Pertambangan US$ 14,8 miliar, Sektor Pertanian US$ 11 miliar,  Sektor Media US$ 7,9 miliar, Sektor Kesehatan US$ 6,6 miliar, Sektor Publik US$ 4,8 miliar, dan Sektor Keuangan sebesar US$1,8 miliar.

Google dan Temasek merilis e-Conomy SEA 2019. Ada beberapa hal menarik disorot. Pada tahun 2015, tercatat pengguna internet mencapai 100 juta orang, bahkan penambahan satu tahun terakhir mencapai 10 juta. Hingga tahun 2019,  pengguna internet di Asia Tenggara sudah 360 juta orang. Pengguna sebagian besar di usia 15-19 tahun. Pertumbuhan tersebut memberi sumbangsih bagi tumbuhnya ekonomi digitalTercatat mencapai US$100 miliar, diproyeksi mencapai US$ 300 miliar tahun 2025.

Era New normal

Saat memasuki new normal,  aktivitas ekonomi tetap lancer meski ada Covid-19. Protokolnya, dimana interaksi selama pandemi tetap produktf. Tentu saja, hal pentingnya konsumen mendapat layanan, informasi, dan barang tanpa interaksi dekat. Transformasi digital jadi jembatan perubahan dalam bisnis saat pandemi. Saat new normal,  inovasi digital akan melompat tinggi,  karena ekonomi bergerak dalam kepungan virus. Sedikitnya ada empat strategi atau kebijakan dapat dikerjakan. Pertama, masa depan kerja. Orang-orang bekerja dari kantor berbeda-beda, bekerja dari rumah, atau kerja sambil ngopi di warkop. Tempat kerja kita telah berubah, dengan syarat konektivitas sama dengan ketika berada di kantor. Transformasi ini membuat gerak ekonomi masyarakat, dan bisnis perusahaan lebih fleksibel. Kegiatan dan perilaku yang lebih dinamis ini, membutuhkan institusi untuk mengelola ekosistem seperti ini.

Diprediksi, lahirnya ekonomi digital generasi baru, yang mampu dipakai di tempat dan zona berbeda. Kedua, pengalaman dari pelanggan. Di fase ekonomi digital, entah itu  bisnis ke bisnis, entah itu bisnis ke konsumen, ingin berinteraksi kapan dan di mana pun, dengan cara yang paling nyaman dan aman.  

Ketiga, jaringan suplai ekonomi digital. Berbagai literatur demografi  menyebutkan tumbuhnya kelas ekonomi menengah meningkat hingga tiga kali lipat. Tekanan pada sumber daya ekonomi dan bisnis, yang tumbuh lebih lambat 1,5 kali. Lalu, bagaimana perusahaan berbagi data secara real time, dan memungkinkan perdagangan berkembang. Kemajuan di bidang ekonomi digital membuat jaringan digital generasi baru lagi.

Keempat, adanya Internet of Things (IoT). Kita berada di puncak era, di mana semuanya dapat terhubung satu sama lain. Entah itu orang, bisnis, perangkat, dan proses terkoneksi. Bauran dunia fisik dan digital membawa aset ke dalam domain digital. Tentu saja tempat perangkat lunak akan mendominasi.

Profesor Walter Brenner dari St. Gallen University di Swiss, menyatakan penggunaan data secara agresif mengubah model ekonomi dan bisnis, memfasilitasi produk dan layanan baru, menciptakan proses baru, menghasilkan utilitas lebih besar, dan mengantarkan budaya manajemen baru.

Melalui Tech Crunch, situs berita ekonomi digital, mencatat Uber sebagai perusahaan taksi terbesar di dunia, tidak memiliki kendaraan sama sekali. Facebook, sebagai pemilik media paling populer di dunia, tidak membuat konten berita atau informasi. Alibaba, sebagai perusahaan retail besar di dunia, tidak memiliki persediaan barang yang dijual.

Di Indonesia, Gojek sebagai perusahaan ojek daring, tidak memiliki kendaraan. Grab menyediakan jasa layanan antar makanan dan minuman, tidak memiliki restoran atau rumah makan. Tak ketinggalan, Lazada dan Tokopedia, sebagai pedagang barang retail tidak memiliki barang-barang yang dijual. Traveloka, sebagai perusahaan penyediaan jasa layanan hotel dan penerbangan, padahal tidak memiliki satu pun hotel, atau pesawat terbang sama sekali.  Semua terbangun, karena hadirnya transformasi dalam era ekonomi digital. Ditengah majunya ekonomi digital saat ini, terjadinya wabah Covid-19 ini, justru mendorong terjadinya perlombaan secara besar-besaran bagi pelaku ekonomi, untuk bisa tetap menjalankan usaha bisnis melalui teknologi maju berbasis digital. Sesuatu yang menarik dan mencengangkan kita, sedang terjadi saat pandemic Covid-19 ini, dan terus akan terjadi saat era new normal’.

*) Ketua Pusat Studi Kebijakan Pembangunan dan Ekonomi Universitas Tadulako

Ayo tulis komentar cerdas