Home Senggang

Pak Polisi itu Pengayom…

44

AKU seorang ibu dua anak. Usiaku tiga puluh sembilan tahun. Tinggal di Mandai. Menjelang senja aku keluar ke jalan raya menunggu mobil angkutan menuju Bone. Aku mau menjenguk ibuku yang sedang sakit. Adik perempuanku yang menemaninya mengabarkan kalau ibuku sudah dua minggu sakit gulanya tambah parah. Dia tak mampu lagi berdiri, apalagi berjalan. Kaki kanannya membekak. Memerah. Sepertinya mau meletus. Dia hanya terbaring di ranjang tua. Aku tak mungkin lagi menunda untuk menjenguknya. Kata adikku melalui telepon, ibuku selalu menyebut-nyebut namaku. Kadang dia mengigau. “Mana Nursia? Panggilkan aku Nursia. Nursia, anakku yang baik” Begitu kata adikku menirukan suara ibu.

Mobil Avanza hitam berhenti tepat di depanku. Kuperhatikan nomor polisinya berpelat hitam. Dalam hatiku, mobil pengangkutan di daerahku biasanya berpelat kuning.

“Ibu mau kemana?” tanya sopir Avansa hitam itu membuka kaca jendela mobilnya. Lelaki ini tersenyum memandangku.

“Mau ke Bone, Pak,” jawabku singkat.

“Silakan naik, Bu. Kebetulan mobil ini pengangkutan jurusan Bone.”

“Kalau mobil pengangkutan, kenapa berpelat hitam?”

“Maksudku mobil pribadi yang dijadikan mobil angkutan. Memang tidak resmi. Namun banyak yang melakukannya. Tidak ada masalah, Bu. Kalau pun nanti ditahan polisi di jalan, gampang diatur. Bukankah semua bisa diatur…”

Kebimbanganku mulai hilang. Memang akhir-akhir ini banyak mobil pribadi bersiasat menjadi mobil angkutan umum. Akhirnya, setelah bersepakat soal ongkos, aku pun naik. Aku diposisikan duduk di kursi tengah. Di depan dua lelaki, salain sopir, di sampingnya memakai jaket kulit warna hitam pekat.

Diam-diam aku berpikir jangan-jangan sopir ini berniat jahat padaku. Aku pernah membaca berita di koran seorang ibu diikat kedua tangannya dan mulutnya disumbat kain, lalu semua perhiasannya diambil. Bukan hanya itu, ibu muda itu diperkosa, juga di dalam mobil. Usai semua peristiwa mengenaskan itu korban dilemparkan ke jurang pinggir jalan raya. Mengingatnya, aku benar-benar ngeri. Ngeri sekali. Namun, aku tiba-tiba merasa lega. Sekira setengah jam perjalanan, sopir singgah mengambil penumpang lain. Kini di mobil sudah ada lima penumpang. Ketika kutanya tujuan mereka, ternyata sama, mau ke Bone. Alhamdulillah, kurapatkan kedua telapak tanganku ke dada.

Dugaan sopir benar. Sebuah mobil sedan menyalip mobil kami lalu memberikan aba-aba agar sopir menghentikan mobil. Sopir pun singgah menemui petugas berseragam dan berpangkat itu, mungkin polisi, mungkin. Aku hanya menduga.

“Pak Sopir, kenapa lama sekali bicara dengan Bapak-Bapak itu? Memangnya ada apa?” Aku bertanya.

“Kan tadi sudah kusampaikan, Bu. Semua bisa diatur. Negonya agak lama karena Bapak itu minta banyak, sementara penumpang kan hanya lima orang. Tapi Bapak itu tak mau tahu. Daripada mobil diamankan, akhirnya permintaannya kupenuhi. Hari ini benar-benar aku sial,” jawab sopir dengan wajah memelas.

“Oh, benar Bapak itu polisi?”

“Iyalah, Bu. Siapa lagi kalau bukan mereka.”

“Tapi kalau dipikir-pikir, bukan hanya Pak Polisi yang melanggar menerima sogokan dari Bapak, tapi Pak Sopir juga melanggar karena mobilnya bukan untuk pengangkutan umum, itu pelatnya berwarna hitam. Seharusnya kan warna kuning.”

Mendengar ceramah singkat itu, sang sopir diam. Tak lama kemudian dia balik memandangku, “Betul apa yang Ibu katakan. Tapi kami para sopir tidak punya gaji tiap bulan dari negara, tidak punya pangkat, juga bukan pengayom masyarakat. Berbeda dengan Bapak-Bapak itu…”

“Oh….,” jawabku singkat.

Telepon genggamku berdering. Adikku mengabarkan kalau ibuku sudah dibawa ke rumah sakit. Katanya, sudah tak sadarkan diri.

“Pak Sopir, tolong dipercepat mobilnya. Langsung saja ke rumah sakit umum Bone. Ibuku dirawat di ruang icu. Sudah tak sadarkan diri.”

Sekira lima belas menit kemudian, adikku menelepon lagi. Sambil terisak dia mengabarkan kalau ibuku, ibu kami, itu telah meninggal dunia.

“Ah, andaikan nego sogokan itu tak terlalu lama, aku masih dapat ibuku, ibuku, ibuku..” tangisku sambil berlari menuju ke ruang icu. Semua mata yang mengelilingi ibuku sedang terbaring kaku di ruang icu, tengah malam itu, meneteskan air mata. (#)

Ayo tulis komentar cerdas