Home Ekonomi

Pengrajin Sarung Donggala ‘Menjerit’

76
MEROSOT - Wiwik Hasan memperlihatkan sarung Donggala hasil produksinya. Sejak pandemi Covid-19, penjualan hasil kerajinan sarung Donggala terus merosot dan harus merumahkan karyawan. (Foto: Metrosulawesi/ Pataruddin)

Palu, Metrosulawesi.id – Sejak pandemi Covid-19, pengrajin sarung Donggala yang ada di Kota Palu ‘menjerit’ karena penjualan merosot tajam. Pengusaha bahkan harus merumahkan karyawan karena tidak berproduksi lagi.

Seperti yang dialami Pengrajin Sarung Donggala Al-Hikmah, selama pandemi covid-19 hanya menerima dua kali pesanan sebanyak 20 lembar sarung gedokan.

“Hanya itu pesanan dari dinas. Sekarang karyawan lima orang dirumahkan. Mereka masih bekerja bila ada pesanan,” kata Wiwik Hasan, pimpinan usaha Pengrajin Sarung Donggala Al-Hikmah Palu di lokasi Pasar Murah Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2020 di Kota Palu.

Karyawan yang memproduksi sarung tenun dengan menggunakan mesin alat tenun bukan mesin (ATBM) tetap berproduksi bisa ada pesanan.

Menurut Wiwik, penjualan sepi dan terasa sekali akibat covid-19 ini. Sebelumnya, bisa mendapatkan Rp25 juta tetapi selama pandemi hanya bisa mendapat omset Rp5 juta.

Mendapat keringanan kredit berupa perpanjangan masa angsuran yang dikucurkan pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan.

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas