Home Artikel / Opini

Focusing, Then Repeated

41
Nur Sangadji. (Foto: Ist)

Oleh: Muhd Nur Sangadji (*

SATU subuh, saya berbalas WA dengan kolega akademikku, Prof Sahab. Kami bicara tentang kekayaan biodiversitas negeri. Dalam dialog virtual tertulis itu, saya sampaikan kepada beliau. Intinya, tidak ada alasan bagi generasi untuk malas. Kita punya banyak alasan untuk maju.

Saya tulis satu artikel essay tahun 2004 di kota Tokyo. Judulnya, di Jepang saya melihat kekayaan Indonesia. Bagaimna tidak? Di sebuah toko dalam kawasan Akihabara. Tempat, di mana orang Indonesia sering pergi untuk mencari barang elektronik. Saya menatap sejumlah tangkai rerumputan diikat rapi untuk dijual.

Di Indonesia, pikirku, yang begini hanya dibakar karena dianggap sampah. Di kota Melbourne 2008, saya juga melihat daun pisang dijual, mahal sekali.
Di tempat kita pasti ada, tapi murah sekali.

**
Kita punya semuanya. Biodiversitas yang belum dimanfaatkan optimal dan terbiarkan punah secara progressive. Ilmuan seperti kita hanya mampu memberi potret data serinya setiap kali bertemu dalam pertemuan ilmiah.
Pada seminar international di Universitas Hasanuddin Makassar, saya diberi waktu bicara. Saya lalu kasih komentar pada seorang professor atas presentasi flora Fauna. Saya bilang, satu dua tahun lalu telah melihat Bapak tampil di Jakarta. Isinya keluhan dan kuatir tentang degradasi hutan yang mengancam kekayaan biodiversitas. Sekarang, juga begitu. Malah angkanya lebih parah. Saya bertanya, apakah ilmuan itu hanya tukang potret kurva..? Atau, penyaji data seri..?

Pada seminar international yang lain. Saat itu, di Universitas Mustopo Beragama Jakarta dan juga di Bali bersama Perhepi. Sesama ilmuan hanya berbagi keluhan. Selebihnya, berbagi kebanggaan tentang publikasi. Terlihat lebih sibuk bicara jurnal dari pada isinya. Sekadar saling ucapkan selamat. Diskursus tidak kepada substansi yang ditulis.

Tentu tidaklah keliru. Tapi, pasti tidak banyak faedahnya bagi publik.
Labih banyak hanya penambah kum individual untuk remunerasi. Tidak tahu kapan, baharu kita bicara substansi. Mungkin itu sebabnya, presiden Jokowie pun ikut mengeritik. Banyak dana digelontorkan. Berbilang triliunan. Tapi manfaat riset bagi bangsa kurang terlihat. Ilmuan mestinya segera merenung dan bertindak.


Saya berpandangan, penting sekali mengurus esensi dan substansi. Bila tidak, banyak yang nanti menjadi sia-sia. Orang penyuluhan bilang banyak berkata. Tapi, tidak mengatakan apa-apa. Filusuf bilang, bagai membuang garam ke laut. Agamawan bilang, seperti seorang perempuan yang memintal benang. Setelah jadi kain, diurai kembali jadi benang. Karena itu, kita harus fokus pada persoalan pokoknya.

Saya mendengar kisah yang menarik. Tentang ahli pembuka pintu penjara yang telah membuka banyak pintu penjara dunia. Dia hanya butuh waktu paling lambat 10 menit. Ketika tiba di penjara kecil. Sipir mempersilakan beliau membuka pintu penjara. Hingga satu jam tidak terbuka. Akhirnya beliau menyerah. Ternyata, sejak awal pintu penjara itu tidak dikunci.

Pertanyaannya, mengapa pintu tidak bisa terbuka? Ternyata, beliau salah fokus. Beliau sibuk mengotak atik kunci sampai lupa, bahwa tugas utamanya adalah membuka PINTU. Bukan membuka KUNCI.


Beliau itu adalah Harry Haudini. Pesulap tenar dunia yang dijuluki “The Master of Escape”. Maka, Abraham H Maslow lalu menasehati orang dengan kata-kata berikut: “Jika palu (martil) satu-satunya alat yang kita punya, kita akan cenderung memandang setiap masalah sebagai batu”.
Dan ini balasannya dari “The founding father” kita. “Bila anda hanya punya satu alat bernama Palu (martil) untuk pecahkan batu. Dan batu itu tidak bisa pecah. Maka, teruslah ayunkan tangan anda berulang ulang. Sebab, pecahnya batu itu, ditentukan oleh ayunan anda yang terakhir”.

Syukron Prof Syahab telah memicu saya berfikir. Mau terjun dulu ke Lahan. “The small garden in my back yard”. Inilah pemusatan (focussing) kerja yang sedang saya geluti berulang (repeated) di Era pendemi Covid 19 ini.
(*Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah)

Ayo tulis komentar cerdas