Home Senggang

ANGIN KABUT 1965

48

Oleh: Andi Wanua Tangke*

MUNGKIN kau tidak percaya ada rumah panggung di kampung yang usianya sudah tua, namun tak memiliki daun pintu. Kalau aku pasti percaya. Tujuh tahun lalu aku ditugaskan ke desa ini meneliti tentang kehidupan warga desa yang masih teguh memegang nilai-nilai budaya leluhur, dan sempat ke rumah panggung tak berdaun pintu itu. Pada mulanya aku juga tidak percaya kabar yang disampaikan seorang teman bahwa ada rumah panggung berusia sangat tua tak memiliki daun pintu, namun setelah aku menginjakkan kaki di rumah itu, tentu tidak ada alasan bagiku untuk tidak memercayai kebenaran itu. Kalau kau masih tidak percaya juga ceritaku ini, baiklah aku akan mengisahkan pertemuanku dengan seorang kakek tua yang tinggal sendirian di rumah itu. Namanya Kakek Borahim. Melihat keriput wajah dan lututnya yang semakin mengecil dan gemetar kalau bergerak, aku menaksir usia kakek ini sudah di atas 90 tahun.

“Kek, apa betul rumah ini tak berdaun pintu?,” tanyaku meski aku sudah tahu.

“Tuh, lihat sendiri,” ujar kakek singkat.

“Rumah ini milik kakek ya?”

Kakek yang memakai sarung bercorak kotak-kotak usang itu memandangku lalu menggelengkan kepalanya, pelan. Apakah itu pertanda rumah ini bukan miliknya. Entahlah.

“Lalu siapa pemiliknya?”

“Leluhurku.”

“Siapa itu leluhur kakek?”

“Kakeknya kakekku.”

Aku memelototi matanya. Aku berpikir betapa tuanya rumah ini. Aku memandang sudut-sudut dan bagian atap rumah. Papan alas, tiang-tiang berlubang-lubang kecil, dan dindingnya meski sudah tua berdaki, masih kelihatan kokohnya.

“Kalau begitu rumah ini warisan kakek dari kakeknya?”

“Orang bilang begitu.”

“Artinya, rumah ini sudah milik kakek.”

Kakek itu kembali menggelengkan kepalanya. Apakah itu pertanda kakek ini tak mau memiliki rumah ini. Entahlah.

“Baiklah, Kek. Sejak kapan rumah ini tak berdaun pintu?”

“Sejak dibuat oleh kakeknya kakekku.”

“Semua rumah di desa ini memiliki daun pintu. Hanya rumah kakek yang tidak. Kenapa, Kek.”

“Menurut kakeknya kakekku yang disampaikan oleh kakekku kepadaku waktu aku masih muda, rumah yang baik itu memang seharusnya tidak memiliki daun pintu. Katanya itu menandakan kalau si pemilik rumah sangat terbuka untuk menerima tamu. Siapa pun tamu itu. Tamu kan bukan hanya manusia. Semua makhluk Tuhan adalah juga tamu. Kalau rumah memiliki daun pintu, itu artinya si pemilik rumah sewaktu-waktu akan menutup pintu rumahnya. Pada saat pintu rumah ditutup, tentu tamu merasa terhalang untuk masuk rumah. Padahal rumah itu milik semua makhluk. Setidaknya begitulah keyakinan leluhurku.”

“Bagaimana kalau ada tamu tak diundang, sebutlah itu pencuri yang berniat masuk ke rumah ini. Tentu sangat gampang menggasak barang-barang karena pintu rumahnya tak berdaun.”

“Silakan saja. Pencuri itu kan manusia juga, makhluk Tuhan juga, dan tamu juga. Namun menurut cerita kakekku, rumah ini sejak dibuat oleh kakeknya, hingga rumah ini aku tempati sejak tahun 1965 hingga kini, belum ada seorang tamu yang bernama pencuri atau tamu yang berniat jahat masuk ke rumah ini,” ujar kakek tenang.

Luar biasa, pikirku. Namun aku tiba-tiba tertarik dengan pengakuan kakek ini yang mengatakan menempati rumah ini sejak tahun 1965. Bukankah tahun itu adalah tahun kelabu akan perjalanan bangsa ini. Munculnya gerakan kudeta berdarah yang membuat sejumlah jenderal gugur dibunuh dengan peluru tajam lalu dibuang ke lubang buaya. Belakangan namanya sangat santer disebut Gerakan G. 30 S PKI. Itu semua terjadi pada 1965. Adakah hubungannya Kakek Borahim ini dengan tragedi berdarah itu?
“Anak muda, apa yang sedang dipikir?” Sang kakek membuat aku salah tingkah. Ternyata dia memerhatikan tingkahku yang sedang berpikir keras di depannya.

“Kek, aku mau tanya, apakah Kakek Borahim paham kejadian berdarah pada 1965?”

“Ketika aku sebut aku tinggal di rumah tak berdaun pintu ini sejak tahun 1965, aku membaca wajahmu tembus benakmu. Engkau ingin mengetahui apa yang terjadi di desa ini setelah kejadian itu. Iya kan?”
“Benar, Kek.” Aku tersenyum penuh harap.

                              ***

KAKEK Borahim menatap keluar lewat pintu yang tak berdaun. Matanya menembus angin kabut, sore menjelang senja, itu. Berceritalah dia tanpa memerhatikan aku yang sedang duduk bersila di sampingnya.

Dulu, menjelang tahun 1965 itu, di desa ini, tercipta sebuah kerukunan yang kuat. Dalam menjalani hidup keseharian rakyat penuh semangat menjalani hidup dengan jiwa gotong royong. Para petani, pagi-pagi, sudah di sawah. Begitu juga para pedagang, bersamaan ayam jantan berkokok di subuh hari, mereka sudah hiruk pikuk mengurusi dagangannya di pasar yang tersebar di kampung-kampung. Semua rakyat hidup antusias. Mereka memang tidak kaya raya jika dipandang dari segi harta yang melimpah. Namun mereka hidup berbahagia bersama keluarga masing-masing. Rumah-rumah panggung yang sederhana berjajar di desa ini dengan berbagai macam warnanya. Pekarangannya bersih karena ibu-ibu sangat rajin menyapunya, tiap pagi, di saat suami mereka sudah siap ke sawah atau ke pasar untuk berdagang. Begitulah secuil pemandangan mencerahkan di desa yang jauh dari kota ini.

Suatu subuh terjadilah keributan. Para petani tidak lagi mengurusi sawahnya. Para pedagang tak lagi ke pasar menjajakan dagangannya. Mereka berkumpul di jalan, di rumah-rumah tertentu, dan di balai desa. Mereka membincangkan isu santer, katanya, akan ada pasukan tentara akan menyerbu desa ini. Di saat itu memang radio-radio menyiarkan berita kalau ada pasukan–entah dari mana asalnya–tiba-tiba mengepung petinggi militer yang sebagian besar berpangkat jenderal itu. Tragis, para jenderal itu dibunuh, lalu dibuang ke sebuah wilayah sepi, namanya lubang buaya.
Hari-hari itu betapa mencekamnya lantaran diisukan di balik tragedi itu digerakkan oleh Partai Komunis Indonesia, atau lebih dikenal PKI.

Sementara di desa ini tumbuh subur organisasi Barisan Tani Indonesia, BTI. Perkumpulan ini–oleh penguasa baru–disebut sebagai onderbouw PKI.
Apa yang dicemaskan rakyat desa, terbukti. Gerakan pembersihan partai dan simpatisannya segera dilakukan. Tentara-tentara lengkap dengan senjata otomatis akan masuk desa, termasuk desa ini yang saat itu disebut desa makmur karena rakyatnya memang hidup makmur dengan jiwa gotong royong.

Tidak sampai dua minggu, pasukan yang ditakutkan telah menguasai desa ini. Kehidupan rakyat kocar-kacir. Berlarian tak tentu arah. Mereka menyelamatkan diri masing-masing. Namun semua itu sia-sia. Mereka–para rakyat itu–tidak tahu masalah apa sebenarnya yang terjadi, dan apa hubungan mereka dengan tragedi di ibu kota. Pasukan berseragam itu tak mau lagi mengetahui keheranan dan pertanyaan para rakyat. Menolak dinaikkan ke truk lalu dibawa atau dilarikan entah kemana, tentara itu pun tak segan mengeluarkan peluru tajamnya.

Desa yang dulunya maju dan tenteram, pada tahun 1965, itu menjadi desa mati. Angin kabut meliputinya. Sunyi senyap. Lalu mengapa Ketua BTI, Borahim, selamat dari pengepungan mematikan itu? Bukankah tokoh paling berpengaruh di desa ini menjadi incaran utama pasukan bersenjata itu?

“Begini, saat itu saya bersembunyi di hutan desa. Selama 13 hari saya tidak makan karena memang tidak ada makanan. Untung, di hutan itu ada sumur tua. Jika lapar mendera, saya cukup minum di sumur itu. Suatu malam, malam yang pekat, hujan gerimis, saya dikejutkan datangnya suara. Suara itu jelas. Saya memastikan suara itu suara kakek saya yang sudah lama meninggal di desa ini. Kuburannya tidak jauh dari hutan ini. Saya mau ke kuburannya, tak berani, tentara-tentara makin mendekat ke hutan.”

“Apa yang disampaikan dalam suara itu, Kek,” aku tiba-tiba bertanya, penasaran ingin mendengar tentang suara itu.

Kakek Borahim balik memerhatikanku. Dengan pelan dan lembut, dia memegang lututku, tersenyum.

“Nak, suara itu menyuruhku segera meninggalkan hutan ini di saat tentara-tentara itu tertidur.”

“Mau kemana, Kek?”

“Suara itu menyuruhku pergi ke rumah tak berdaun pintu ini, Nak.”

“Bukankah dengan rumah tak berdaun pintu ini akan memudahkan tentara menemukan Kakek?”

“Itu pemikiranmu, Nak. Kenyataannya tentara-tentara lewat begitu saja di depan rumah ini, padahal aku ada di dalamnya. Boleh jadi mereka berpikir tidak mungkin ada orang tinggal di dalam rumah yang tak berdaun pintu ini. Mungkin simpulan mereka begitu. Namun yang jelas, Nak, rumah tak berdaun pintu inilah yag menyelamatkanku hingga hari ini.” Kakek Borahim kembali melemparkan senyum, entah maknanya apa.
Aku pun membalas senyumnya. Menjabat tangannya yang masih kekar itu. Meninggalkannya, sendirian.

Lima tahun setelah aku mengunjunginya, seorang teman menyampaikan Kakek Borahim telah meninggal dunia di rumah yang tak berdaun pintu itu. Teman itu menyampaikan sebuah isu yang pernah didengarnya.

Katanya, di saat mayatnya dimandikan ditemukan sebuah jimat yang diikat dengan benang merah melingkar pada perutnya. Ketika jimat kain hitam itu dibuka, ditemukan sebuah foto.

“Foto siapa?”

“Kata isu itu, fotonya Mao Tse Tung.” (#).

               --------------------------------

*Cerpenis, tinggal di kota Makassar.

Ayo tulis komentar cerdas