Home Artikel / Opini

Ketahanan Pancasila dan Penerapannya dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

93
Shofia Nurun Alanur S, S.Pd.,M.Pd. (Foto: Ist)

OLEH: Shofia Nurun Alanur S, S.Pd.,M.Pd*

MEMPERTAHANKAN apa yang sudah baik bagi bangsa dan negara merupakan bentuk Bela Negara. Membangun ketahanan Pancasila adalah bagian dari ketahanan nasional. Ketahanan nasional berarti keteguhan hati dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman, hambatan, dan gangguan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri, yang dapat membahayakan integritas, identitas, kelangsungan hidup bangsa dan negara, serta perjuangan mengejar tujuan dan cita-cita nasionalnya.

Perjuangan para pendiri bangsa dalam membentuk dasar negara, Pancasila, baiknya selalu dikenang. Perbedaan pendapat yang cukup tajam antara golongan nasionalis dan golongan agamis, antara mendirikan negara kebangsaan atau negara Islam, membuat sulitnya memutuskan dasar negara. Soekarno mengatakan dalam Pidatonya “Pancasila ini aku gali di dalam buminya rakyat Indonesia , dan aku melihat di dalam kalbunya bangsa Indonesia itu ada lima perasaan. Lima perasaan ini dapat dipakai sebagai pemersatu daripada bangsa Indonesia yang 80 juta ini”. Gagasan politik yang tertuang di dalamnya merupakan rumusan solutif dan sempurna. Para pendiri negara kita mampu meramunya dengan sangat kreatif, mengambil jalan tengah antara dua pilihan ekstrem, negara sekuler dan negara agama.

Dalam lanjutan Pidatonya, Soekarno menyuarakan”Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa negara Indonesia merdeka berasaskan Ke-Tuhanan Yang Maha Esa”.Dalam sebuah cerita, K. Hasyim Asy’ari, sebagai pendiri NU dan Pejuang NKRI pada masa itu, memanggil anaknya K.H Wahid Hasyim dengan mengatakan bahwa Pancasila sudah betul secara syar’i sehingga apa yang tertulis dalam Piagam Jakarta yakni Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya perlu dihapus karena Ketuhanan Yang Maha Esa adalah prinsip ketauhidan dalam Islam. Berdasarkan cerita ini, penulis yakin bahwa Proses pembentukan negara Indonesia dan bangsa ini, ada ruh ketuhanan di dalamnya. Yang artinya bahwa kemerdekaan yang kita raih, adalah atas berkat rahmat Allah subhanahu wata’ala sehingga Pancasila menjadi dasar negara yang telah diterima dan ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Pancasila sudah final dan sudah tepat menjadi ideologi berbangsa dan bernegara agar mewujudkan rasa persatuan dan kesatuan yang religius. Pancasila lah yang harus kita pertahankan. Bagaimana cara mempertahankannya? Tentu saja dengan melaksanakan dan mengamalkan amanat nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila saling kait mengait satu sama lain. Yudi Latif dalam bukunya yang berjudul “Negara Paripurna” menjelaskan bahwa Pancasila mengandung lima sila yang saling kait-mengait, adalah bintang pimpinan yang dinamis yang responsif terhadap dinamika perkembangan zaman. Artinya Pancasila senantiasa terbuka bagi proses pengisian dan penafsiran baru dengan tetap memperhatikan semangat dasar yang terkandung di dalamnya dan keterkaitan antarsila.

Penulis berpandangan bahwa Pancasila yang telah final ini tidak perlu lagi diperdebatkan. Namun harus diperkuat lagi dalam berbagai momentum penting. Senantiasa diperkaya dalam implementasi dan penerapannya. Sebagaimana Pancasila sebagai ideologi yang terbuka, maka pengamalannya dapat dilakukan sesuai dengan perkembangan zaman dengan tetap sesuai dasar pokok nilai pancasila. Penerapan dan pengamalan nilai-nilai Pancasila yang dilakukan diharapkan secara terbuka, tidak kaku, dan dinamis agar dapat meningkatkan ketahanan Pancasila sehingga diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan.

Mempertahankan Pancasila juga perlu pengembangan dan memperkaya penerapannya. Baik itu dalam hal teknik, substansi, maupun cakupan wilayah. Misalnya melalui berbagai kajian, workshop, seminar, sosialisasi, pelatihan, lomba, kampanye lagu-lagu nasional atau perjuangan dengan melibatkan para pemangku kepentingan. Dalam buku yang berjudul “Santiaji Pancasila” Karangan Prof. Darji Darmodiharjo,S.H. dkk, usaha mempertahankan Pancasila dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu preventif dan represif.

Preventif dapat dilakukan antara lain dengan membina wawasan nusantara, kesadaran ketahanan nasional, melaksanakan Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta. Sedangkan Represif, merupakan upaya yang bersifat penindakan untuk mengatasi bahaya yang mengancam dari dalam negeri maupun luar negeri. Baik terhadap pemberontakan, penghianat, perongrong Pancasila berupa Paham Komunis, Marxisme-Leninisme, Liberal, ekstrim agama, golongan anarki dan penjajah.

Kuatnya nilai-nilai Pancasila harus ada di setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik dalam pemerintahan, pendidikan, sosial, ekonomi, kesehatan, hukum, maupun kebudayaan. Dari tingkat pusat hingga ke pelosok daerah. Karena itu setiap penyelenggaraan negara, harus menerapkan nilai-nilai Pancasila. Dan setiap warga negara wajib senantiasa menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui pendidikan kewarganegaraan di tingkat pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, pemahaman dan praktik nilai-nilai Pancasila dapat diajarkan. Sedangkan kepada masyarakat luas, pemerintah telah melakukan program sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa yaitu Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika yang dapat menjangkau ke seluruh Indonesia.

Oleh karena itu, tidak perlu lagi ada perdebatan tentang Pancasila karena ia sudah menjadi konsensus atau kesepakatan bersamadan perjanjian agung yang memuat nilai-nilai luhur yang saling menjiwai satu sama lainnya. Tinggal bagaimana kita mempertahankan, mengamalkan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila secara murni dan konsekuen bagi semua warga negara dalam kehidupan baik sehari-hari, berbangsa maupun bernegara.
(*Dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Tadulako)

Ayo tulis komentar cerdas