Home Palu

Waspada, Kosmetik Ilegal Beredar di Sulteng

BARANG BUKTI - Kepala BPOM Palu, Fauzi Ferdiansyah, saat memberikan keterangan pers dengan barang bukti kosmetik ilegal hasil penggerebekan, Jumat, 19 Juni. (Foto: Istimewa)
  • BPOM Palu Amankan Produk Kecantikan dari Distributor

Palu, Metrosulawesi.id – Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Kota Palu, kembali melakukan intesifikasi pengawasan ke lapangan. Hasilnya, mereka mengamankan produk kosmetik yang disita dari salah satu distributor karena diduga ilegal saat operasi penindakan pada Kamis 18 Juni 2020.

Fauzi mengatakan, setelah melakukan pengembangan, tersangka mengaku belum lama beraktivitas. Hanya saja, produk kosmetik ilegal itu sudah tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sulteng dengan harga mulai dari Rp50.000 hingga Rp80.000.

“Di masa New Normal ini masih saja ditemukan orang-orang yang coba membuat kosmetik sendiri tanpa mengikuti aturan, sehingga kami melakukan penggerebekan dan mengamankan barang bukti serta dua orang. Satu tersangka satu masih berstatus saksi,” ujar Kepala BPOM Palu, Fauzi Ferdiansyah, saat memberikan keterangan pers, Jumat, 19 Juni.

Kata dia, hingga saat ini peredaran kosmetik via online kian marak, dan umumya merupakan kosmetik tanpa izin edar yang tidak dapat dijamin keamanannya. Pada operasi penindakan yang dilakukan oleh Tim BPOM dan Korwas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Polda Sulteng di Kecamatan Palu Barat, ditemukan 1.091 pcs temuan Barang bukti (Babuk), dengan nominal Rp39.140.000.

Dirincikannya, HB Dosting Pot Besar, Pot kosong, Produk olahan belum dikemas (HB), HB mer Vienna, Botol Viena kosong, HB dosting pot kecil, Kayu pengaduk produk, Loyang produksi HB, dan Sticker produk.

Meski sudah mengamankan pelaku dan barang bukti, Fauzi mengaku belum memastikan efek samping penggunaan kosmetik racikan tersebut. Karena pihaknya baru saja ingin melakukan uji lab untuk mengidentifikasi bahan-bahan berbahaya yang terkandung di dalam produk itu.

“Bahan baku kosmetik ini dari produk yang legal, yang didatangkan dari Makassar, tetapi sampai di sini mereka meracik dengan cara mengoplos bahan-bahannya. Yang pastinya proses produksi kosmetik ini tidak memehuni syarat,” jelasnya.

Dia mengimbau, agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya produk kosmetik yang tidak memenuhi ketentuan TMK.

“Mengimbau pelaku usaha untuk terus menaati peraturan yang berlaku. Masyarakat juga diharapkan lebih proaktif dalam memilih kosmetik yang dibeli. Terutama untuk pembelian kosmetik secara online, dan ingat selalu Cek Klik. Cek kemasan dalam kondisi baik, baca informasi produk pada labelnya, pastikan memiliki izin edar BPOM dan tidak melebihi masa kedaluwarsa,” imbuhnya.

Di tempat yang sama, Anggota Korlas Diskrimsus Polda Sulteng, Ipda Hidayat menyampaikan, penangkapan itu merupakan pertama selama tahun 2020 ini.

Dengan melanggar Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, pelaku terancam pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 milar.

Reporter: Michael Simanjuntak
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas