Home Palu

Psikolog Ingatkan Pentingnya Komunikasi Positif dalam Keluarga

88
WEBINAR - Sejenakhening.com bekerja sama dengan Caritas Germany menggelar diskusi secara online (webinar), Jumat 19 Juni 2020. (Foto: Screenshot/ Syamsu Rizal/ Metrosulawesi)
  • Webinar Sejenakhening.com – Caritas Germany

Palu, Metrosulawesi.id – Sejenakhening.com, sebuah lembaga berbasis di Palu bekerja sama dengan Caritas Germany menggelar diskusi secara online (webinar), Jumat 19 Juni 2020.

Dua psikolog klinis menjadi pembicara utama pada webinar bertema “Komunikasi Positif dalam Keluarga”. Dipandu moderator Novi Inriyanny Suwendro, SKM., MPH, diskusi kali ini diikuti lebih dari 200 orang dari berbagai kabupaten/kota.

“Hampir lima tahun belakangan, saya menangani kasus-kasus seperti anak melawan, membangkang; anak menggunakan narkoba; anak bermasalah di sekolah; suami istri melakukan atau menjadi korban KdRT; dan perselingkuhan,” ungkap I Putu Ardika Yana.,M.Si., Psikolog, pembicara dalam diskusi.

Karena itu, dia mengingatkan pentingnya komunikasi positif dalam keluarga. Menurut Ardika Yana, banyak orangtua atau keluarga yang tidak sadar tentang masalah yang terjadi dan hanya tahu gejalanya yang muncul.

Seringkali, orangtua datang ke klinik psikolog dan mengaku anaknya bermasalah. Tapi, kenyataan saat dilakukan pemeriksaan yang bermasalah bukan hanya anaknya tapi juga orangtua.

“Jadi, banyak kasus saya temukan, posisi yang mau dipahami adalah orangtua. Orangtua maunya anaknya seperti ini dan itu,” jelasnya.

Pembicara lainnya dalam webinar, Admila Rosada, M.Si., Psikolog, juga mengakui sering mendampingi anak, justru akar masalah ada pada orangtua.

“Akhirnya orangtua yang dikonseling,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata dia penting komunikasi dalam keluarga, antara suami dan istri dan dengan anak. Dia mengutip pendapat deFrain, bahwa salah satu pilar penting dalam keluarga adalah komunikasi. Begitupula indikator keluarga tangguh ada enam, salah satunya komunikasi positif.

“Komunikasi positif menjadi hal penting untuk diupayakan semua anggota keluarga,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan orangtua memutus mata rantai pola asuh yang maladaptif.

“Perlu skema baru yang lebih membahagiakan, pola asuh menjadi adaptif,” ujarnya.

Orangtua juga perlu mengenal karakter anak seperti memahami bahasa cinta.

“Hadir bersama anak, kenali bahasa cinta anak. Mengenal ekspresi emosi anak. Kemudian, mengenal ragam komunikasi anak karena ada yang tertutup, ada pula yang terbuka,” jelasnya.

Begitupula konflik dengan pasangan. Jika itu terjadi, maka perlu diingat bahwa tujuan pernikahan tentang keberkahan dan kebaikan, dan nyaman.

Reporter: Syamsu Rizal

Ayo tulis komentar cerdas