Home Artikel / Opini

Kesabaran dan Kesadaran Hukum Warga Negara Melawan Pandemi Covid-19

86
Shofia Nurun Alanur S, S.Pd.,M.Pd. (Foto: Ist)

Oleh:  Shofia Nurun Alanur S, S.Pd.,M.Pd*

MENGHARAPKAN Covid-19 segera berlalu adalah impian semua masyarakat. Agar tidak ada lagi pembatasan dan keterbatasan. Manusia hakikatnya adalah makhluk sosial. Kalau kata Aristoteles adalah Zoon Politicon, yakni manusia yang bermasyarakat dan butuh berinteraksi dengan orang lain karena tidak dapat hidup atas kekuatan sendiri. Manusia membutuhkan orang lain untuk bahu membahu mewujudkan kesejahteraan.

Sama halnya dengan kondisi Covid-19 yang memberikan dampak terhadap beberapa sendi kehidupan masyarakat. Misalnya, dari segi kehidupan ekonomi. Bagi pekerja yang menerima gaji bulanan dengan jumlah yang cukup banyak, bekerja di rumah mungkin tidak begitu mengkhawatirkan. Berbeda dengan pekerja harian yang mengharapkan sumber kehidupan dari pendapatan harian. Sebab hakikat manusia itu tadi, kalau menurut Adam Smith manusia adalah homo economicus yaitu manusia selalu berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya.Disisi lain, setiap orang harus menetapkan protokol kesehatan dalam diri masing masing yaitu menggunakan masker,cuci tangan, tidak berkumpul atau berdempetan. Agar dapat saling menjagadan menyelamatkan diri dari Virus Covid-19 yang berbahaya.

Memang semua orang bertanya tanya, kapan pandemi ini akan berakhir. Sebagian orang merasa lelah dan bosan berdiam terus di rumah. Sebagian juga merasa rindu untuk bersua kembali dengan sejawat dan rekan kerja. Anak sekolah juga mungkin sudah rindu dengan suasana belajar di sekolah. Begitu juga dengan mahasiswa yang rindu untuk berdiskusi di ruang kelas sebab daring juga begitu terbatas. Keterbatasan jarak,ruang, serta sarana prasarana yang belum memadai.

Tetapi inilah realitanya. Kita sedang diuji dengan Masa yang musuhnya tak terlihat namun secara ilmu medis ia benar ada. Ujian itu kuncinya adalah kesabaran. Kalau kita tidak sabar dan telaten, maka kita akan menjadi bagian dari korban yang berjatuhan. Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah Al Baqarah ayat 155 yang artinya “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Nabi Ayub As pernah diberi ujian penyakit oleh Allah SWT. Rasulullah SAW berkisah yang diriwayatkan oleh Anas ibn Malik disebutkan Abu Ya‘la dan Abu Nu‘aim, “Sesungguhnya Nabiyullah Ayub ‘alaihissalam berada dalam ujiannya selama delapan belas tahun. Baik keluarga dekat maupun keluarga jauh menolaknya kecuali dua orang laki-laki dari saudara-saudaranya. Kedua saudara itulah yang selalu memberinya makan dan menemuinya.”

Alquran Surah Al Anbiya ayat 83-84 juga mengisahkan tentang Kesabaran Nabi Ayub, bahwa “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”. Setelah itu, berbagai penyakit yang meletak di tubuhnya hilang. Kehidupan dan kesembuhannya kembali kepadanya. Kesehatan dan keselamatannya datang seperti sedia kala.

Dikala jumlah Positif Covid-19 masih terus meningkat, Kita harus dihadapkan dengan situasi Hidup normal yang baru atau New Normal. Pemerintah kini mulai membuka pusat perbelanjaan, wisata, Rumah ibadah dan Menata metode pembelajaran baik di tingkat pendidikan Menengah maupun Pendidikan tinggi. Penulis dan kita semua pasti mendukung kebijakan Pemerintah menerapkan New Normal. Tentu dengan Aturan Protokol kesehatan yang ketat. Tetap Jaga jarak, memakai Masker, mencuci tangan dan tidak terlalu berkumpul dalam jumlah yang padat.

New Normal atau Kenormalan Baru akan sangat didukung dan apresiasi apabila diikuti dengan semakin menurunnya jumlah positif Covid atau mencapai nol kasus dan tidak bertambah. New Normal juga bukan berarti setiap orang sudah bebas melakukan apa saja.  Melainkan tetap Sabar menjalani berbagai upaya agar terhindar dari Pandemi dan segera menghentikan kasus Pandemi covid-19 ini.

Kesabaran dalam diri akan mewujudkan kesadaran warga negara untuk patuh terhadap aturan yang diberlakukan. Tetap memakai masker ketika keluar rumah. Dan membersihkan diri ketika sampai di rumah dengan mencuci tangan dan mengganti pakaian. Ketika penulis berbelanja di salah satu pasar tradisional, masih sangat banyak penjual dan pengunjung yang tidak mengenakan masker. Protokol kesehatan belum diterapkan dengan baik.

Meskipun ada yang merasa repot dengan mengikuti protokol kesehatan karena  menganggap repot atau diluar dari kebiasaan,toh kita harus bersabar sebab ini bagian dari ikhtiar melawan Wabah penyakit. Semakin kita sabar dan sadar aturan, maka kita akan segera berjumpa dengan kemenangan. Penulis meyakini, kalau semua orang tanpa terkecuali, bersabar dan sadar untuk mengikuti protokol kesehatan, kasus covid-19 akan melandai bahkan sampai angka nol kasus dan tidak bertambah lagi.

Dalam hal kesadaran warga negara yakni kesadaran aturan atau kesadaran hukum akan mewujudkan ketaatan hukum. H.C Kelman menguraikan bahwa ketaatan hukum dari segi kualitasnya itu terbagi atas tiga. Pertama, Ketaatan yang bersifat Compliance yaitu jika seseorang taat terhadap suatu aturan hanya karena ia takut akan kena sanksi. Kedua, Ketaatan yang bersifat Identification yaitu jika seseorang taat terhadap suatu aturan hanya karena takut hubungan baiknya dengan seseorang menjadi rusak. Ketiga, Ketaatan yang bersifat Internalization yaitu jika seseorang taat terhadap suatu aturan benar-benar karena ia merasa aturan itu sesuai dengan nilai-nilai intrinsik yang dianutnya.

Ketaatan hukum yang bersifat internalization inilah yang diharapkan hadir dalam gotong royong melawan Pandemi. Tidak mengenal apapun kedudukan warga negara. Semua warga negara harus bisa berpartisipasi. Hal ini sebagai bagian dari skill warga negara atau Civic Skill yang didalamnya ada Civic intellectual skill (keterampilan intelektual warganegara) dan Civic participation (partisipasi warganegara).

Kesadaran hukum warga negara yang mewujudkan ketaatan hukum, memiliki Indikator-indikator. Menurut Kutschincky dalam buku Soerjono Soekanto yang berjudul Sosiologi Hukum dalam masyarakat, indikator tersebut antara lain : Pengetahuan tentang peraturan-peraturan hukum (law awareness), Pengetahuan tentang isi peraturan-peraturan hukum (law acquaintance), Sikap terhadap peraturan-peraturan hukum (legal attitude) , dan Pola-pola perikelakuan hukum (legal behavior).

Setiap indikator tersebut di atas menunjuk pada tingkat kesadaran hukum tertentu mulai dari yang terendah sampai dengan yang tertinggi. Sementara itu, Zainudin Ali dalam bukunya yang berjudul Filsafat Hukum, menyimpulkan bahwa masalah kesadaran hukum warga masyarakat sebenarnya menyangkut faktor-faktor apakah suatu ketentuan hukum tertentu diketahui, dipahami, ditaati, dan dihargai.Berdasarkan hal itu, perlu dan harus diperkuat kesadaran hukum warga masyarakat. Artinya, perlu sosialisasi tentang protokol kesehatan dengan cara yang baik, efektif, tepat dan sesuai sasaran.Bisa juga aksi nyata yang dilakukan anak anak muda dengan membagikan masker langsung kepada masyarakat yang membutuhkan atau yang belum memakai.

Mewujudkan partisipasi warga negara merupakan bagian dari Pendidikan kewarganegaraan. Karena tujuan dari pendidikan kewarganegaraan adalah agar setiap warga negara menjadi warga negara yang baik (to be good citizens), yakni warga yang memiliki kecerdasan (Civic Intelligence) baik intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual; memiliki rasa bangga dan tanggung jawab (Civic Responsibility); dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara (Civic Participation) agar tumbuh rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan kesabaran dan kesadaran hukum semua warga negara dalam berbangsa seiring menghadapi dan melawan Pandemi Covid 19. Seperti Kata Ali Bin Abi Thalib bahwa Kesabaran itu ada dua macam: sabar atas sesuatu yang tidak kau ingin dan sabar menahan diri dari sesuatu yang kau ingini. Kita tidak menginginkan Pandemi ini semakin berlarut. Kita semua harus berusaha, minimal dimulai dari menertibkan diri sendiri. (*Dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Tadulako)

Ayo tulis komentar cerdas