Home Ekonomi

Tuna Sulteng Tembus Pasar Jepang

76
Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Edhy Prabowo meresmikan ekspor perdana tuna sirip kuning (yellowfin) asal Sulteng menuju negeri sakura Jepang, lewat Bandara Mutiara Sis Aljufri, pada Selasa pagi (9/6) bertempat di halaman kantor Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Palu. (Foto: Humas Pemprov Sulteng)

Palu, Metrosulawesi.id – Potensi perikanan Sulawesi Tengah dilirik kalangan pengusaha untuk diekspor ke luar negeri. Salah satunya jenis ikan tuna yang diekspor perdana ke Jepang sebanyak 500 kilogram beberapa waktu lalu.

Adalah PT Arumia Karisma Indonesia dan Arumia Co, Ltd, yang didirikan setelah musibah tsunami dan gempa bumi di Palu dengan tujuan untuk meningkatkan kembali laju perekonomian serta membantu masyarakat untuk memperbaiki kehidupan sosialnya.

Humas PT Arumia Karisma Indonesia, Nudin L mengatakan, Sulawesi Tengah khususnya Palu adalah daerah yang tinggi potensi nya dalam bidang perikanan dan pertanian. Potensi yang ada ini telah lama tidak dikembangkan terutama untuk tujuan ekspor, selama ini Palu hanya menjual hasil perikanan dan pertaniannya di domestik yang kemudian di ekspor ke negara lain.

“Hal ini berakibat tidak adanya Palu pada pencatatan nilai eksport nasional dan juga berakibat pada rendahnya pendapatan masyarakat dan daerah,” katanya, Rabu (16/6/2020).

Pasar yang saat ini sangat menjanjikan untuk ekspor terutama untuk bidang perikanan khususnya ikan tuna adalah Jepang.

“Menurut laporan serta pengamatan Arumia, ikan tuna Indonesia jarang terdapat di pasar ikan Jepang terutama di tiga pasar terbesar yaitu Tokyo, Nagoya dan Osaka. Hal ini yang mendorong Arumia untuk mendirikan perusahaan di Jepang yaitu Arumia Co, Ltd yang berpusat di Osaka,” jelas Nudin.

Tambah Nudin, dengan adanya perusahaan Arumia di Jepang kami dapat berhubungan langsung dengan penjual ikan terbesar di Toyosu Market, Tokyo yaitu Chuo Gyorui Co, Ltd. Kami juga saat ini sedang menyelesaikan kontrak dengan salah satu penjual ikan terbesar di Osaka yaitu Uoichi Co, Ltd.

“Dengan kontrak tersebut yang kami harapkan dapat diselesaikan pada bulan Juni ini, maka ikan dari Palu sudah dapat masuk ke tiga pasar di Jepang yaitu Tokyo, Nagoya dan Osaka. Untuk membuktikan bahwa ikan dari daerah Sulawesi dapat diterima di pasar Jepang kami telah melakukan trial eksport dengan menggunakan ikan dari Bitung, Sulawesi Utara dan berhasil,” ujarnya.

Kedepannya selain mengekspor ikan segar tuna utuh kami juga menjajaki untuk mengirim loin ikan tuna, hal ini dimungkinkan jika fasilitas serta sarana pembuatan loin kami di Palu telah berjalan dan memenuhi syarat hygiene untuk ekspor.

“Walaupun kami pada awalnya mengalami banyak kendala dalam persiapan ekspor dari Palu tetapi berkat bantuan dan support dari para instansi daerah terutama Dinas Perikanan dan Kelautan Sulawesi Tengah, Badan Karantina dan Bea Cukai, semua permasalan dapat diatasi. Kami sangat berterima kasih sekali kepada instansi tersebut sehinga dapat mempercepat realisasi ekspor ikan tuna dari Palu ke Jepang,” papar Nudin.

Sebelumnya, saat mendampingi Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Edy Prabowo, Gubernur Longki Djanggola menyebutkan kelebihan sektor kelautan dan perikanan daerah yang potensial.

Sulteng urainya memiliki 5 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yakni WPP 713 (Selat Makasar), WPP 714 (Selat Tolo), WPP 715 (Teluk Tomini), WPP 716 (Laut Sulawesi) dan WPP Perairan Darat (WPP-PD 421) Pulau Sulawesi.

“Sulawesi Tengah menjadi satu-satunya provinsi (di Indonesia) yang dikelilingi 4 WPP,” tegasnya.

Di samping itu dengan luas perairan laut mencapai lebih dari 193 ribu Km persegi, panjang garis pantai sejuah lebih dari 6 ribu Km dan 1604 pulau, produksi perikanan tangkap Sulteng per tahun 2019 menembus lebih dari 196 ribu ton dan perikanan budidaya lebih dari 964 ribu ton.

Namun gubernur mengakui bahwa daerah masih memiliki banyak keterbatasan sehingga mengharap dukungan kementerian guna memajukan sektor menjanjikan ini.

Terkait ekspor perdana yellowfin tuna, sejauh ini gubernur telah mengusulkan peningkatan status bandara Mutiara Sis Aljufri Palu dari domestik menjadi internasional kepada Bappenas supaya bisa sepenuhnya mendukung aktivitas perdagangan Sulteng ke luar negeri.

“Dengan meningkatkan status tersebut maka bandara Mutiara Sis Aljufri dapat menjadi salah satu alternatif pintu ekspor perikanan Sulawesi Tengah,” pungkasnya atas permulaan pengiriman perdana tuna via bandara kebanggaan masyarakat Sulteng.

Reporter: Pataruddin

Ayo tulis komentar cerdas