Home Artikel / Opini

Tatanan Kenormalan Baru Perlu Masyarakat Literat

85
Asrianti dg. Bintang. (Foto: Istimewa)

Oleh : Asrianti dg. Bintang*

TATANAN kenormalan baru atau istilah New normal merupakan adapatasi proses sementara dalam pandemi Covid-19 yang merujuk pada kebiasaan baru dari berbagai tatanan interaksi sosial pada masa pandemi. Banyak yang beranggapan bahwa tatanan baru berarti normal tanpa pandemi virus. Sayangnya, pemahaman ini masih keliru. Tatanan kenormalan baru artinya masyarakat melakukan kembali cara-cara hidup dengan kenormalan baru.

Bentuk kenormalan baru yang dimaksud yakni  penerapan yang lebih efektif dalam pola hidup bersih dan sehat, selalu menggunakan alat pelindung diri (masker), menjaga jarak kurang lebih 1 meter dari orang lain, serta mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir selama 20 detik. Tak dapat dipungkiri mengubah kebiasaan dan perilaku memang tak mudah, tetapi dengan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya mengikuti protocol yang berlaku diharapkan masyarakat akan lebih mudah mengaplikasikannya.

Dalam menghadapi tatanan baru maka diperlukan masyarakat literat. Artinya, masyarakat siap siaga dengan berbagai hal perubahan yang ada. Adaptasi perkembangan informasi yang cepat dan tentunya tepat karena masyarakat yang literat akan lebih bijak menerima informasi yang berdar sehingga tak mudah ditipu daya oleh berita hoax.

Literasi yang rendah menjadi salah satu akar permasalahan yang dihadapi masyarakat. Apalagi masa pandemi saat ini tak jarang membuat kita saling salah menyalahkan satu sama lain. Menuding pihak A dan pihak B atas sebuah kesalahan. Berkutat dengan menyangkal, marah, dan mencari-cari kesalahan sehingga membuang waktu dan energi.

Budaya literasi menunjukkan tingkat keterdidikan yang tinggi, maka septutnya diwujudkan oleh komponen masyarakat.Upaya menciptakan kesadaran masyarakat mengenai peranan membaca di tengah pandemi saat ini diperlukan sebagai tali kendali. Masyarakat dalam menganggapi berita dan informasi perlu disikapi dengan bijak sehingga erciptanya masyarakat literat yang dapat meredam berita hoax.

Membaca Buku adalah menyelami pikiran-pikiran yang beku, mari membaca agar saling tak saling cerca. Oleh karena itu, penting untuk membangkitkan minat baca di kalangan masyarakat. Berbagai upaya harus dilakukan tidak saja oleh pemerintah, namun harus juga dilakukan oleh masyarakat atau pihak ketiga.

Namun mayoritas masyarakat belum memahami faedah dari membaca, telebih perenanan membaca dalam mengahadapi persoalan kehidupan. Inilah salah satu ciri dari masyarakat kita belum literat. Kebiasaan membaca akan melahirkan masyarakat yang berwawasan luas, kritis, kreatif dan inovatif bahkan membaca merjadi kebutuhan primer bagi masyarakat yang ingin maju. Posisi dan kedudukan membaca menempati paling sangat penting dalam kehidupan.

Budaya baca yang tinggi, maka masyarakat akan lebih mudah menemukan pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupannya. Inilah yang akan menyebabkan masyarakat semakin cerdas sehingga mampu mencari dan menemukan solusi atas kesulitan hidup yang dijalani, termasuk menuju keberhasilan pelaksanaan tatanan baru yang tentunya dengan memperhatikan prosedur Covid-19. (*Duta Baca Provinsi Sulawesi Tengah / Duta Bahasa Negara / Dosen FKIP, Universitas Tadulako)

Ayo tulis komentar cerdas