Home Artikel / Opini

Pendidikan dan Pengajaran di Era Covid-19 (2)

91
Nur Sangadji. (Foto: Ist)

Oleh: Dr. Ir. Muhd NurSangadji, DEA*

PADA saat terjadi wabah Covid19, perkuliahan tatap muka, baik di kelas maupun di alam, sudah masuk pada pertemuan yang ke 8. Itu berarti sudah dua bulan perkuliahan berlangsung. Perkuliahan tersisa relatif tinggal 6 atau 4 kali pertemuan lagi. Namun demikian, pertemuan tatap muka sudah tidak dapat dilakukan. Maka, satu-satunya cara adalah perkuliahan jarak jauh atau “on line”. Perkuliahan pada masa covid-19 ini memaksa dosen dan mahasiswa untuk berubah. Interaksi “on line” menjadi kebiasaan baru yang suka atau tidak, harus dijalani. Teknologi Informasi dan komunikasi sangat membantu. Kendala terbesar adalah jaringan internet dan pulsa yang dimiliki mahasiswa.

Rektor Universitas Tadulako menyadari hal ini dan menerbitkan keputusan untuk membantu mahasiswa. Setiap mahasiswa mendapat tunjangan 200 ribu rupiah sebagai uang pulsa untuk kepentingan kuliah daring. Tentu, dengan mempertimbangkan kemampuan universitas. Maka, dana tersebut diperhitungkan dalam bentuk pengurangan SPP pada semesteran berikut. Masalah pulsa prabayar teratasi. Namun, jaringan internet menjadi faktor pembatas yang sulit diatasi. Hal ini terjadi karena sebahagian besar mahasiswa telah pulang kampung.

Banyak laporan mahasiswa yang menunjukkan kesulitan mereka dalam mengakses internet. Ada yang harus kegunung, panjat pohon atau pergi ke kecamatan dengan biaya yang tidak kecil menurut ukuran mereka. Konsekuensinya, kuliah “on line” tetap dilakukan dengan partisipasi mahasiswa yang sangat terbatas. Sesekali ada Webiner tentang pertanian yang kami selenggarakan. Tapi, keterlibatan mahasiswa sangat minim. Karena itu, kami tempuh pola lain.

Ayo tulis komentar cerdas