Home Hukum & Kriminal

Kapolda Sebut Ada Kelompok yang Membina Teroris di Poso

130
Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Polisi Drs Syafril Nursal SH MH. (Foto: Istimewa)
  • Operasi Tinombala Tak Akan Dihentikan

Palu, Metrosulawesi.id – Operasi Tinombala yang sudah berlangsung lama di Kabupaten Poso tidak akan dihentikan. Operasi tersebut dinilai telah berhasil menangkap sejumlah orang yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) maupun simpatisan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso.

“Jangankan dihentikan, dikendorkan saja tidak boleh, Operasi tinombala terus digelar,” kata Kapolda Sulawesi Tengah, Irjen Polisi Drs Syafril Nursal SH MH saat memimpin apel pagi setelah dinyatakan negatif covid-19, di Polda Sulteng, Senin 15 Juni 2020.

Penegasan Kapolda tersebut sekaligus menjawab tuntutan beberapa pihak yang menginginkan Operasi Tinombala dihentikan.

Kapolda Sulteng mengatakan digelarnya terus Operasi Tinombala ini disebabkan produksi teroris yang berada di bawah tidak berhenti.

“Saya akan menunjukkan data dari tahun 2011 sampai dengan 2020, dimana tahun 2011 jumlah DPO yang di atas gunung berjumlah 11 orang, dalam Operasi Tinombala ditangkap empat orang. Juga terjadi penangkapan di luar DPO sejumlah tujuh orang, dan itu adalah mereka-mereka yang akan bergabung di atas gunung dengan membawa peralatan untuk mendukung kegiatan di atas Gunung Biru Poso,” jelas Kapolda.

Selanjutnya kata Kapolda, pada 2012 ada tujuh orang DPO ditangkap. Dan pada tahun 2013, DPO bertambah. Semula tujuh orang menjadi 24 orang. Selanjutnya, pada 2014 turun menjadi 20 orang, dimana dua DPO ditangkap 25 orang di luar DPO ikut ditangkap. Tahun 2015, jumlah DPO tersisa 18 orang, ditangkap lima di luar DPO. Selanjutnya ditangkap 23 orang. Dan tahun 2016, tiba-tiba DPO menjadi 41 orang, ditangkap DPO 32 orang dan enam orang di luar DPO.

Pada tahun 2017 kata Kapolda, DPO turun menjadi tujuh orang. Namun di tahun 2019 naik menjadi 10 orang. Dan ditangkap tiga orang. Dalam perkembangannya DPO kembali naik menjadi 18 orang yang di atas gunung biru.

Dalam operasi Tinombala tahap II 2020 kata Kapolda, pihaknya sudah menangkap lima DPO dan 17 orang di luar DPO. Mereka diketahui membawa peralatan termasuk bahan peledak untuk membuat bom.
“Jadi Operasi Tinombala itu baru bisa kita hentikan apabila semua teroris yang ada di Poso itu, baik yang berada di atas gunung ataupun yang berada di bawah ditangkap dan diselesaikan masalahnya,” jelas Kapolda.

Saat ini katanya, proses hukum penangkapan difokuskan pada mereka yang berada di atas gunung. Sedangkan yang di bawah tidak digarap. Persoalan yang di bawah ini bukan persoalan polisi.

“Seperti contoh ada kelompok-kelompok di sana yang membina teroris, ada pesantren yang tidak jelas izinnya, tidak jelas kurikulumnya, tidak jelas bahan ajarnya, tidak jelas pengajarnya, tidak jelas sikapnya,” ujar Kapolda.

Kapolda mengatakan, pemerintah, termasuk pemerintah daerah, Kementerian Agama mestinya melakukan penelitian soal izin mendirikan pondok pesantren.

“Kita tahu bagamana masyarakat di sana terpapar, maka perlu upaya-upaya untuk mengubah mindset mereka untuk tidak menjadi teroris. Atau pemerintah harus membuat programnya bagaimana mereka-mereka bisa diberikan pelatihan,” jelas Kapolda.

“Selama yang di bawah tidak dikelola dengan baik, maka Operasi Tinombala ini tidak akan berhenti. Jadi jangankan dihentikan, dikendorkan sedikit saja Operasi Tinombala tersebut sudah banyak yang naik ke atas gunung. Apalagi diberhentikan tidak diselesaikan masalahnya,” tambah Kapolda.

Kapolda mengatakan, teroris yang berada di Poso bukan hanya orang Poso saja, tapi ada yang dari NTB, ada yang dari Maluku dan ada yang dari Banten.

“Kita sedang melakukan upaya-upaya mendeteksi kemana itu 600 orang eks combatan ISIS. Selama di Poso masih ada teroris, akan menjadi magnet bagi teroris-teroris lainnya untuk masuk ke Sulawesi Tengah dan bergabung. Termasuk melakukan deteksi terhadap orang-orang yang memasuki Sulawesi Tengah melalui udara, laut dan menjaga perbatasan-perbatasan untuk mendeteksi. Jadi Operasi Tinombala tidak sesederhana itu,” jelasnya.

Kapolda mengatakan, perlu dicurigai bagi orang-orang yang ingin memberhentikan Operasi Tinombala, apakah akan dibiarkan Sulteng menjadi arena teroris? Sudah banyak anggota yang menjadi korban dari teroris tersebut, dan ada juga masyarakat yang meninggal dengan cara dipenggal. Itu termasuk propaganda teroris agar masyarakat merasa takut dan tidak aman.

Kapolda mengajak seluruh masyarakat agar bersama-sama menyelesaikan masalah ini secara komprehensif, tidak cukup hanya dengan polri dan TNI saja.

“Saya berharap pemerintah membuat program nyata untuk mensejahterakan masyarakat agar mindsetnya berubah dan tidak lagi berfikir untuk menjadi teroris,” ujarnya.

Masalah Poso menurut Kapolda tidak hanya bisa diselesaikan oleh Pemda Poso karena anggaran tidak tersedia. Pemerintah harus membina dan mengembangkan ekonomi mereka supaya mereka tidak berfikir manjadi teroris, tapi berfikir menjadi petani yang baik, nelayan yang baik, penguasaha yang baik. Perlu dilakukan latihan pertanian, modal bertani, penyediaan bibit dan lain-lain.

Sekali lagi penyelesaian terhadap kelompok MIT Poso, baik yang ada di Gunung Biru harus dibarengi dengan penyelesaian mereka yang ada di bawah atau masyarakat Poso yang ada di kampung-kampung.

“Apabila tidak dilakukan, maka operasi akan terus berlanjut dan tidak bisa dihentikan. Kuncinya adalah menyelesaikan persoalan di bawah,” tutup Kapolda. (*)

Reporter: Djunaedi
Editor: Udin Salim

Ayo tulis komentar cerdas