Home Artikel / Opini

Mengembara di Padang Gurun Kesepian

56
Dr. Mahpuddin, M.Si. (Foto: Ist)

Oleh: Dr. Mahpuddin, M.Si*

DI kala dunia dalam kecemasan menyaksikan berbagai peristiwa destruktif seperti; kecamuk perang dan tragedi kemanusiaan berkepanjangan di Timur Tengah, bencana alam, krisis ekologi dan ketegangan multi lateral yang melibatkan negara-negara adi daya ekonomi dan teknologi persejataan militer, muncul ancaman baru yang menakutkan yakni pandemik covid 19. Peristiwa global ini menantang setiap orang untuk masuk ke alam permenungan. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi ? Apakah ini sebuah konspirasi internasional atau gejala alamiah biasa yang terkait dengan mekanisme hukum keseimbangan yang akan menandai perubahan besar sejarah umat manusia di bumi ? 

“The Celestine Prophecy” sebuah buku novel karangan J. Redfield yang popular dan menjadi salah satu terlaris dan “best seller” di Eropa dan Amerika sekitar satu decade lalu. Buku tersebut berisi ramalan masa depan mengenai kebangkitan spiritual umat manusia di bumi setelah melewati fase puncak masa krisis global. Tragedi kemanusiaan akibat perang, bencana alam, kelaparan, dan kehampaan makna pun muncul di berbagai belahan dunia. Apakah fase historis itu telah tiba ? Suatu fase yang membimbing umat manusia untuk kembali merenung tentang; keberasaan, makna, hidup dan kematian.

Hidup di dunia ini hakekatnya sangat singkat, laksana kilatan cahaya. Apalah arti usia manusia dibanding panjangnya usia bumi ini. Arus perjalanan sejarah bagaikan rombongan kafilah yang mampir sesaat lalu pergi jauh & menghilang entah kemana. Setiap hari, hidup kita diisi berbagai kesibukan; canda-tawa, senda-gurau, sedih-gembira yang sejenak memalingkan ingatan akan kefanaan hidup ini. Sementara di dalam relung-relung hati terdalam tersimpan sebuah pertanyaan besar mengenai faktisitas keterlemparan eksistensial yaitu;  dari mana & kemana setelah segalanya berakhir. Suatu ingatan primordial yang membawa efek kecemasan (angst) dan rasa kesepian yang dalam.

Seluruh tradisi religius agama-agama besar berpangkal pada upaya memahami (verstehen) mengenai perkara penting ini. Dalam tarekat sufi, dikenal isitlah “ritual kematian”. Membayangkan seolah-olah kita mati lalu hidup kembali. Sebuah simulasi penghayatan mengenai ketiadaan diri. Maknanya, agar kita belajar melampaui rasa takut pada kematian.

Ada kisah seorang sufi yg menggali kubur di dalam kamar tidurnya, untuk mengingatkannya selalu pada kematian. Ada pula kisah psikiater asal AS bernama Neilson, ketika menghadapi pasien yg mengidap gejala neurosis, tidak jarang ia menuntun pasiennya datang ke kuburan. Di sana pasien belajar menghayati bagaimana rasanya jika tubuh terbujur kaku dalam kubur, perlahan-lahan kulit dan daging membusuk hingga yang tersisa hanya tulang-belulang. Sebuah gambaran memuakkan & mengerikan, namun penghayatan seperti itu sangat bermanfaat untuk memurnikan dan menyehatkan jiwa.

Pernah-tidak kita merasakan suatu pengalaman derita yang dahsyat, menyeret kita pada situasi ambang batas yang tak tertahankan. Bayangan kematian begitu dekat di depan mata. Walau telah hadir orang-orang terkasih di sekeliling kita, namun rasa frustasi, kesepian & ketakutan tetap membuntuti kesadaran diri setiap saat, Sebuah puncak pengalaman menubuh dimana tidak ada lagi jarak dualitas antara diri dan tubuh. Di kala masih sehat, kesadaran selalu tercurah pada hal2 eksternal, mengejar uang dan kehormatan. Saat di pembaringan, lemah tak berdaya karena tubuh sedang digerogoti penyakit, segalanya pun terasa hampa, sebab yang berharga kini hanya hidup itu sendiri.

Sufi-master, Inayat Khan mengatakan, ketika seseorang berada di puncak penderitaan, ada 2 kemungkinan; gila atau menjadi seorang mistik. Pengalaman dahsyat yang menyeretnya ke dasar jurang rasa sakit akan membuat jiwa semakin subtil, peka & waspada. Pada momen itu, si penderita memiliki kesempatan terbaik untuk memperoleh wawasan baru mengenai misteri penciptaan. Semacam peluang berharga meraih kebangkitan rohani. Sebab, kematangan rohani tidak dapat direkayasa secara instan, tetapi melewati pergulatan panjang atas pahit-getirnya hidup ini. Sayang sekali, pengalaman itu sering terlewatkan tanpa meninggalkan jejak makna apapun.

Peristiwa kematian di sekeliling kita, merupakan “monument-monumen bungkam” yang dapat memicu permenungan filosofis mengenai makna pergumulan eksistensial kita di dunia ini. Kematian hadir bagai tatapan mata malaikat maut. Sebuah isyarat bisu yang mengajak setiap orang untuk menemukan makna bagi dirinya bahwa suatu saat diri sendiri akan mengalami hal serupa. Entah mati dalam ketenangan di atas pembaringan, atau mati tersiksa dalam keputus-asaan.

Kematian hakekatnya merupakan suatu peristiwa alamiah, ibarat tenggelamnya matahari di kala senja tiba. Problemnya, bagaimana menyambutnya dengan senyuman? Filsuf besar abad kontemporer, Martin Heidegger membedakan 2 jenis kematian; “up-lebens” (kematian secara alami) dan “starbens” (kematian yg direncanakan). Kematian manusia sejatinya tidak seperti matinya tumbuhan dan hewan, tetapi kematian yang direncanakan. Benar, kita tak pernah memilih cara untuk lahir, tetapi diberi kebebasan untuk mati seperti yg dikehendaki.

Lahir, tua, sakit, lalu kematian mengakhiri segalanya di puncak penderitaan, pergi jauh seorang diri entah kemana, memasuki lorong gelap dan sunyi tak berujung. Apakah akan melewati suatu proses kehidupan secara berulang kali, atau menyusuri fase-fase perjalanan panjang memasuki alam keabadian hingga “menyatu” kembali kepada-Nya ? Suatu pertanyaan misteri yang tak akan pernah terjawab oleh siapa pun. Apakah itu sebuah tanda kesia-siaan belaka, dimana segalanya mesti berakhir dengan absurditas & kehampaan ?

Mengakhiri uraian ini, beberapa bait syair indah dari seorang master sufi yang mungkin layak untuk direnungkan;  “Alunan suara azan dan lantunan merdu kalam Ilahi muncul dari puncak menara mesjid, terdengar olehku laksana panggilan hari kiamat. Suara itu mengingatkanku pada kematian. Menyadarkan aku akan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi pengalaman misteri yg paling menakutkan ini.”

“Bangunan istana yang kokoh, kuat nan megah, suatu saat akan runtuh. Pohon-pohon rindang berusia ratusan tahun akan layu, lapuk & mati. Anak, isteri tercinta dan seluruh kemewahan akan pergi atau aku yang akan meninggalkannya.” Maka, saat kesempatan masih ada, segeralah kembali pada-Nya! Dialah aktor utama di balik “grand design” atas seluruh kisah tragis eksistensial di dunia fana ini. Namun, Dia jualah yang kelak menghapus derai air mata derita hamba-hambaNya, dalam dekapan dan pelukan kasih-Nya.”

(*Staf Pengajar Fisip-Untad)

Ayo tulis komentar cerdas