Home Senggang

Langit Makin Mendung, Bung!

54

DI SEBUAH warkop di sudut kota aku bertemu seorang aktivis. Di depan komunitas pecinta kopi, dia berbicara berapi-api. Dengan gaya agitasi, penuh semangat, lelaki muda itu menyimpulkan negerinya sedang luka parah. Langit makin mendung, katanya. Mengapa parah lukanya dan langit makin mendung? “Tuhan sudah marah melihat hamba-Nya. Mereka itu tidak tahu diri diberi negeri makmur. Kaya raya. Nyiur melambai. Negeri tidak diurus dengan baik. Bahkan kekayaan itu dikorupsi dengan perasaan bangga. Coba lihat koruptor yang ditangkap KPK, apakah mereka memperlihatkan wajah menyesal? Tidak kan. Mereka justru melambaikan tangannya sambil tersenyum bangga. Ya, mereka bangga dengan dosa-dosa, kata penyanyi lirik Ebiet G. Ade. Bila demikian, apa Tuhan tidak marah?” Tanya aktivis itu sambil menatap mata-mata para pecinta kopi.

“Apa bukti negeri ini sudah luka parah?,” tanya seseorang setelah menikmati kopinya seteguk.

“Lihatlah perekonomian, lumpuh total kan. Pendidikan meredup. Kebebasan hidup terpenjara. Sendi-sendi kehidupan mati suri. Kecemasan, ketakutan, kemarahan, telah menghantui seluruh rakyat. Kita hidup saling mencurigai. Pemerintah bingung melihat keadaan. Kebijakan dikeluarkan, belum diterapkan, eh… diganti lagi dengan kebijakan baru. Apa itu tidak luka parah kalau begitu? Langit makin mendung, Bung,” jawabnya bangga.

“Dengan cara apa Tuhan memperlihatkan kemarahannya?” Aku tiba-tiba tertarik ikut bertanya kepada lelaki yang memakai baju kaos oblong berwarna hitam yang sudah kumal itu.

“Oh… Tuhan punya cara sendiri kalau sedang marah melihat hamba-Nya yang sudah sombong. Lihatlah, hanya makhluk kecil, super kecil, tak tampak dalam pandangan mata, bernama virus corona, tapi dapat melumpuhkan kehidupan di sebuah negeri. Mana itu para manusia-manusia hebat di dunia yang bergabung di WHO, yang hingga kini belum menemukan vaksinnya. Mari kita intospeksi diri masing-masing, siapa tahu memang benar selama ini kita telah bangga dengan dosa-dosa.” Nasihat sang aktivis mengakhiri ceramah singkatnya.

**
LAIN cerita aktivis, lain cerita tukang becak. Tukang becak yang tak pernah lagi dapat penumpang ini pernah mendengar informasi ada kakek yang tinggal di lereng gunung, pintar membaca gejala wabah sekaligus mengusirnya. Lelaki tua itu dipanggil dengan sebutan Mbah Wabah. Mungkin nama itu melekat pada dirinya karena dia pakar wabah.

“Mbah, aku datang menemuimu,” ujar Tukang Becak itu.

“Ada apa? Dan siapa kau,” tanya Mbah Wabah, sambil mengelus-elus janggut suburnya yang sudah memutih.

“Aku tukang becak. Sudah empat bulan tak dapat penumpang. Tak ada orang mau keluar dari rumahnya. Semua rumah terkunci rapat.”

“Kenapa bisa?”

“Mereka takut keluar. Ada wabah, namanya corona. Karena itu aku datang kepada Mbah, mudah-mudahan wabah itu bisa diusir dari negeri ini.”

Mbah Wabah diam. Menunduk. Seperti berpikir keras.

“Sudah tujuh warga kota, termasuk kau, menemuiku di tempat pertapaan ini. Mereka datang dengan pertanyaan dan permintaan yang sama. Setelah aku beri jawaban, semunya kembali dengan perasaan kecewa. Entah kenapa, padahal jawabanku jujur.” Mbah Wabah menatap tajam mata Tukang Becak itu.

“Apa jawaban, Mbah?”

“Baru kali ini ada wabah tak mampu aku mengusirnya.”

“Kenapa, Mbah?”

“Wabah itu memakai bahasa yang aku tak pahami. Andaikan memakai bahasa kita, bahasa leluhur kita, sudah kuusir.”

“Memangnya wabah itu memakai bahasa apa, Mbah?” tanya Tukang Becak, penasaran.

Mbah Wabah kembali diam. Tak lama kemudian dia geleng-geleng kepala.

“Wabahnya memakai bahasa Cina. Mana aku ngerti, apalagi mengusirnya.”

Si Tukang Becak mendengar jawaban Mbah Wabah, juga geleng-geleng kepala, lalu meninggalkan Mbah tanpa permisi. (*)

(ANDI WANUA TANGKE, alumnus Fakultas Sastra Unhas. Buku kumpulan cerpennya berjudul “Panra’ka”. Buku bestsellernya “Misteri Kahar Muzakkar Masih Hidup”.)

Ayo tulis komentar cerdas