Home Artikel / Opini

‘’Berkaca Pada Cermin’’

118
Muh Khairil. (Foto: Ist)

Oleh : Muhammad Khairil*)

“The book is like a mirror: if the one who looks at him is a fool, you cannot expect that the one who is reflected is a genius.” (J.K. Rowling)

SUNGGUH, cermin adalah tempat kita untuk berkaca. Dalam banyak fungsi, cermin akan memantulkan setiap objek di depannya sama besar, jarak bayangan pun akan sama, tegak dan berlawanan arah. Cermin tidak akan merekayasa objek yang gagah lalu berubah jelek atau juga sebaliknya. Mewah dan murah akan sama saja dalam pantulan cahaya cermin.

Berkaca pada cermin akan memberikan efek kejujuran diri apa adanya. Tidak hanya pada tampilan fisik, cermin juga akan memantulkan isi hati kita yang sesungguhnya. Walau dalam banyak kasus, tidak sedikit diantara kita yang bercermin pada kaca yang retak.

Berkaca pada sebuah cermin yang retak, tak akan mampu menghasilkan pantulan wajah yang sempurna. Ia hanya akan menghasilkan sisi wajah yang tak beraturan. Seolah dengan bercermin pada kaca yang retak, kita bagai berwajah dua, bagai musang berbulu domba.  

Petuah dari para bijak mengingatkan bahwa hati itu ibarat cermin. Ketika hati dipenuhi oleh rasa iri, dengki dan kebencian, maka semua yang tampak hanyalah kekurangan orang lain. Merasa diri yang terhebat, dengan mudah menyalahkan perbedaan pendapat bagai kuda yang berkacamata.

Ketika kuda berkacamata atau kacamata kuda, lebih dikenal juga horse blinders atau winkers maka bagi seekor kuda, menggunakan kacamata itu dimaksudkan untuk tetap bisa fokus dan terarah kedepan tanpa harus terpengaruh pada sisi yang lain. Kacamata bagi kuda, makai ia tidak peduli pada dunia lain selain berjalan searah dengan kacamata yang dipakainya.

 Namun siapapun akan sepaham bahwa beda kuda beda pula manusia. Bagi manusia, kepedulian dan seinsitivitas sosial itu sangat dibutuhkan. Ibarat tubuh, walau hanya sariawan, makan pun jadi susah. Ilustrasi kacamata kuda bagi manusia bagai menggambarkan seseorang dengan bermodal kata “pokoknya”. Pokonya kalau bukan saya, anda bukan siapa-siapa. Atau pokoknya hanya saya dan golongan saya yang paling benar, kalian dan yang lainnya, itu pasti salah.

“Buruk muka cermin dibelah”. Pribahasa klasik yang sampai saat ini masih sering digunakan untuk memberi label bagi mereka yang suka menyalahkan orang lain tapi tidak menyadari kesalahannya. Cermin yang dibelah, hanya akan menjadi kaca yang retak, serpihan kacanya tidak memberi manfaat malah akan melukai. Andai pun harus bercermin, maka yang buruk akan semakin buruk, yang baik sekalipun akan menjadi buruk.

Bahasa yang sangat introspektif ketika guru kencing berdiri maka murid akan kencing berlari. Moralitas anak didik akan tercermin dari perilaku para pendidik. Ketika guru memberi contoh yang negatif, semisal ia hanya selalu mengkritik dan menyalahkan orang lain, berbicara seolah hanya dirinyalah yang “maha benar” maka jangan salahkan ketika tercipta murid yang juga akan selalu menyalahkan gurunya. Ironisnya, tidak sedikit murid yang melawan gurunya sendiri karena sang guru tidak memberi teladan yang baik. 

Charles Horton Cooley, seorang sosiolog Amerika menggambarkan bagaimana sesungguhnya kita berkaca pada cermin. Dalam karyanya Human Nature and Social Order, ia lalu memperkenalkan istilah looking glass self. Teori ini menerangkan bahwa masyarakat memiliki apa yang disebut dengan cermin yang mencerminkan siapa sesungguhnya diri kita.

Diri sebagai bagian dari sisi kemanusiaan, dibangun secara sosial. Perasaan mengenai diri kita akan terus berkembang melalui interaksi dengan orang lain. looking glass self adalah sebuah analogi perkembangan diri melalui cermin.     

Looking glass self dimaknai oleh Cooley sebagai the self he sees reflected in the behavior of others toward him. Kebaikan kita pada orang lain akan memberi efek kebaikan itu pada diri sendiri. Kalau Descartes menuliskan bahwa “cogito ergo sum”, saya berpikir maka saya ada. Cooley coba menyadarkan kita bahwa tanpa diri orang lain, maka “aku” menjadi hilang. Kita mengenal diri kita karena kita melihat diri itu pada diri orang lain.

Cooley menawarkan konsep tentang apa yang disebut sebagai self concept. Menginterpretasikan reaksi orang lain terhadap diri kita sehingga kita mampu memposisikan diri dalam proses interaksi sosial. Disinilah dibutuhkan kemampuan how to create self confidence. Kita percaya pada diri kita sendiri karena kita juga membangun kepercayaan itu pada orang lain.

Ironisnya, membangun kepercayaan diri ini sering kebablasan sehingga bukan lagi confidence tapi “overconfident” yaitu orang-orang yang sudah merasa diri punya “jam terbang”, punya popularitas, jabatan, punya gelar yang lebih tinggi, seolah sudah punya segalanya. Mereka lupa dan lalai bahwa setiap manusai tidak satupun yang sempurna.

Berkaca pada cermin akan memantulkan kesadaran diri bahwa kita belum tentu lebih baik dari orang lain. Dengan begitu bijak J.K. Rowling menuliskan bahwa “The book is like a mirror: if the one who looks at him is a fool, you cannot expect that the one who is reflected is a genius.”

Buku itu bagai cermin, kalau yang berkaca padanya adalah seorang yang bodoh, engkau tidak bisa berharap yang terpantul padanya adalah seorang yang jenius. Akhirnya, “As is a tale, so is life: not how long it is, but how good it is, is what matters.”. Seperti sebuah cerita, begitulah hidup. Bukan berapa lama waktunya, tapi seberapa bagus ceritanya. Itu yang terpenting.   

*) Penulis adalah Dosen Pada Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNTAD dan Pengampuh Mata Kuliah Psikologi Komunikasi

Ayo tulis komentar cerdas