Home Artikel / Opini

Model Pembelajaran di Era Covid-19

110
Nur Sangadji. (Foto: Ist)

Oleh : Muhd Nur Sangadji*

TATAP muka, ceramah, diskusi, tanya jawab dan kunjungan lapangan adalah model standar yang dilakukan guru.Namun, mendekatinya dengan cara mengajar berprinsip pendidikan orang dewasa (pedagogis). Covid mengharuskannya. Guru atau dosen pastilah punya ilmu pengetahuan. Tapi, murid atau mahasiswa tidak boleh dianggap kosong alias tidak tahu sama sekali.

Saya berfikir bahwa mengajarkan teori semata tanpa praktik untuk merangsang keterampilan psikomotoriknya tidak akan berhasil, kalau tidak disertai dengan praktik. Ilmu berenang sebagai contoh. Sampai kiamat pun, siswa tidak pernah bisa berenang bila hanya diajari teori.

Begitu juga, mengajar dengan satu arah, akan membuat dosen jadi absolut, sekaligus merampas hak Tuhan sebagai yang Maha Tahu. Karena itu, model dialogis menjadi pilihan. Dan, sekali lagi, covid membuatnya menjadi niscaya.

Pendidikan itu pembebasan. Mana, memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan diri, itu mutlak. Olehnya, jawaban ujian tidak harus sama persis dengan yang dianjarkan dosen. Terpenting, logika dan hasil akhirnya ketemu.

Kami sampaikan sedikit ilustrasi. Kalau dosen mengajari 1 + 2 = 3, maka mahasisa boleh jawab yang berbeda. Misalnya, 1 + 2 = 4-1 atau = 1 x 3 dan seterusnya. Ujung akhirnya sama dengan tiga. Namun, jalan menuju ke tiga tersebut adalah kreativitas berfikir. Semogalah menjangkau relevansinya dengan merdeka belajar yang didorong oleh kementerian.

Ilustrasi lain, selama ini model soal dimulai dengan pertanyaan, sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi….? Murid akan tersandera untuk menjawab faktor-faktor tersebut secara kaku. Tak ada kreativitas di sini. Sebagai pembanding, kami pernah ikut ujian yang pertanyaannya hanya satu nomor dan satu kata dan tanda tanya. Soalnya, defriche..? Mahasiswa bebas menjawab dengan perspektif masing-masing. Mungkin kedepan bahkan hanya diserahkan kertas kosong untuk pecahkan satu persoalan.

Perbandingan lain terjadi pada anak kami. Ujiannya adalah kunjungi sebuah areal perparkiran di kota Birmingham Inggris. Lihat apa masalahnya, uraikan fenomena yang ada kemudian jelaskan permasalahan dan solusinya.

Saya teringat pada Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Paris. Beliau sampaikan pada PPI (perhimpunan pelajar Indonesia) di Perancis pada tahun 1996. Beliau berpesan terutama pada para dosen dan guru agar mewajibkan pelajar dan mahasiswa untuk membuat resume setiap selesai memberi kuliah. Untuk melatih kemampuan menulis dan membaca.

Intinya, pendidikan harus tidak lagi hanya membuat mahasiswa pintar tapi juga kreatif dan berakhlak. Pintar, akan membuat mereka punya pengetahuan mumpuni. Kreatif, memandunya untuk bisa pecahkan masalah. Sedangkan, moralitas akan menjaganya dari perbuatan nista dan tercela.

Jadi, kita mendidik hingga mampu membentuk karakter kompetensi (kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif) dan karakter kinerja dan moral yang kuat. Literasi atau keterbukaan wawasan (membaca, menulis, teknologi dan finansial). Inilah manusia Indonesia yang dicita-citakan sesuai UUD 1945. (*Dosen Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah)

Ayo tulis komentar cerdas