Home Artikel / Opini

Puasa Ekonomi

106
Dr. Haerul Anam, SE., M.Si. (Foto: Dok)

Oleh: Dr. Haerul Anam, SE., M.Si*

KITA baru saja melangkahkan kaki meninggalkan bulan (puasa) ramadhan. Kita saat ini tengah berada di bulan syawal. Sebulan lamanya kita digembleng untuk menahan diri. Tentu kita berharap bahwa walaupun kita telah berada di bulan syawal “getar getar” ramadhan masih membekas dalam diri dan perilaku kita dibulan bulan berikutnya. Bulan sesudah bulan ramadhan. Mengutip pendapat para ahli agama: bahwa kita harus tetap konsisten (istiqamah)  memilihara nilai nilai ramadhan hingga ketemu lagi ramadhan tahun yang akan datang.

Beberapa bulan terakhir wajah bangsa ini kusam. Bias bias keceriaannya seolah pupus.  Wajah bangsa masih dirudung duka akibat pandemik covid19. Akibatnya wajah perekonomiannya juga lesu. Kita belum dapat beraktifitas secara bebas karena kita masih harus mematuhi “social dan phisical distancing” untuk mencegah “pengganasan” penyebaran virus corona atau agar terjadi pemutusan mata rantai penyebaran virusnya. 

Kita belum bebas keluar rumah untuk melakukan aktivitas ekonomi. Kita masih harus menahan diri untuk tetap di rumah. sehingga keberlanjutan menahan diri agar tidak berperilaku konsumtif dan boros. Negara dan rakyat haruslah bergandengan tangan mengatasi covid -19 kerena jika tidak akan banyak korban yang berjatuhan.

Hati kita akan menangis jika trend penurunan korban tidak juga menemui titik belok ke bawah sebagai awal dari pelandaian kurva yang sekaligus merefleksikan makin menurunnya orang yang terinfeksi virus ini. Pengumuman resmi yang kita dapatkan dari pemerintah bahwa sejak 2 Maret 2020 yang terifeksi baru 2 orang dan  pada 25 Mei 2020 jumlah orang yang terinfeksi sudah mencapai 22.750 orang. sedang data di dunia menunjukkan jumlah yg terinfeksi Covid-19 telah mencapai 5.307.298 orang

Puasa ekonomi yang dimaksud dalam tulisan ini adalah sama dengan “berhemat”. Menahan “nafsu” belanja (konsumsi)  yang tidah dibutuhkan. Istilah “puasa ekonomi” ditonjolkan karena kita masih dalam suasana “syawal”. Mungkin masih banyak ummat islam yang melanjutkan puasa 6 hari di bulan syawal untuk menyempurnakan puasa ramadhannya.

Ditengah pandemik semua pelaku ekonomi haruslah dapat melakukan “puasa ekonomi” (membatasi konsumsi yang tidak dibutuhkan) agar dapat tetap survive dan mempertahankan kelangsungan hidup individu rumah tangga,  perusahaan,  maupun negara. Kalau kita mengacu pada teori teori ekonomi yang tersedia dalam teks book, maka ada beberapa ahli yang sering disebut sekaitan dengan konsumsi. Yaitu: John Maynard Keynes (Teori Keynes), Model Konsumsi Siklus Hidup (Life Cycle Hypothesis) yang dikembangkan oleh Franco Modigliani, Alber Ando, dan Richard Brumberg, Teori Pendapatan Permanen (Permanent Income Hypothesis) yang dikemukan oleh Milton Friedman, dan Teori Pendapatan Relatif (Relative Income Hypothesis). Dalam kaitannya dengan kondisi saat tentulah tulisan ini tidak bermaksud membahas teori teori tersebut karena ruang yang tidak cukup.

Namun jika kita mencoba mengaitkan salah satu diantaranya misalnya dengan teori konsumsi Milton Friedman. Friedman  menjelaskan bahwa konsumsi di pengaruhi oleh dua hal yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan transitori income yang kita miliki. Permanen income adalah pendapatan rata-rata yang diperoleh seseorang, Secara sederhana dapat dikatakan pendapatan yang diperoleh seseorang   dari tempat kerjanya yang dapat dibawa pulang  kerumah (disposable income versi Keynes) setiap bulan (waktu tertentu) di tambah dengan pendapatan lain yang diperoleh diluar pendapatan tetap (Pendapatan Transitori).

Dimasa pandemi banyak pekerja di Indonesia yang kehilangan pendapatan permanennya karen kena PHK atau dirumahkan. Berdasarkan data yang tersedia akan ada penambahan 5,23 juta pengangguran akibat Covid-19 dan disertai tambahan 3,78 juta orang miskin bahkan mungkin akan terus bertambah (Razak,2020). Menurut hasil riset Center of Reform on Economics (CORE) bahwa pekerjaan yang paling terkena dampak pandemic Covid-19 adalah pekerja bebas atau lepas dan pengusaha UMKM.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM, saat ini ada 64.194.057 UMKM di Indonesia. Jika dirinci tergambar 60.702 unit usaha menengah, 783.132 unit usaha kecil, dan 63,3 juta unit usaha mikro (Razak,2020). Dari uraian di atas terlihat betapa banyak tenaga kerja yang kehilangan pendapatan permanennya dan jika mengacu pada teori Friedman mereka secara otomatis tidak akan mampu memenuhi konsumsinya. Dalam konteks ini maka yang harus menangani dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi mereka adalah pemerintah melalui kebijakan pemerintah, baik kebijakan fiscal, moneter dan kebijakan lainnya.

Selain itu beberapa pekerja yang kehilangan pendapatan  transitorinya akibat pandemic Covid-19, misalnya Pegawai Negeri Sipil atau Aparat Sipil Negara , yang walaupun pendapatan permanennya tetap mereka terima tetapi karena mereka tidak dapat lagi melakukan perjalanan dinas dan kehilangan pendapatan lain diluar pendapatan permanen. Dalam konteks ini maka “puasa ekonomi” harus terus dilakukan dengan mengatur pola konsumsi agar keberlangsungan hidup tetap bisa dipertahankan sembari melakukan Work From Home dan kesehatan tetap terjaga. Wallahu A’lam Bissawab.

(*Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) FEB Untad)

Ayo tulis komentar cerdas